Oleh: majalah merah putih | Januari 3, 2010

salam pak haji

TATA CARA QURBAN

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Mohon berkenan menjawab pertanyaan saya ini dengan dengan panjang lebar:

  1. Sewaktu penyerahan dan pemotongan hewan adakah ijab kabul?
  2. Pengertian kata diberikan daging kurban kepada “yang terdekat” itu apa?
  3. Bolehkah daging kurban diberikan kepada non muslim dari pada diberikan kepada muslim tetapi sedikit jauh jaraknya (antara hajat dengan kampung kurang lebih satu  kilometer)?

Terima kasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Saudara/Ananda…..

  1. Tidak perlu ada ijab-kabul. Yang diperlukan adalah kefahaman dari kedua belah pihak, seseorang yang menyerahkan hewan kurban, dan pihak panitia yang menjadi wakil dalam pelaksanaan kurban. Seorang yang berkurban harus faham dan mengerti bahwa ketika ia menyerahkan hewan kurban adalah sedang mewakilkan pelaksanaan kurban. Begitu pula panitia, ketika ia menerima hewan kurban, ia mengerti dan sadar bahwa ia sedang menjadi wakil pelaksanaan kurban. Yang diperlukan lagi adalah ketika panitia menyembelih, ia harus niat menyembelih kurban.
  2. Yang terdekat maksudnya adalah keluarga dan kawan dekat (termasuk dalam hal jarak).
  3. Baik diberikan kepada non-muslim, atau kepada muslim di tempat yang jauh, hukumnya boleh, selama mereka membutuhkan. Sebagian ulama menghukuminya sebagai tindakan makruh.

Wallahu a’lam bishshowab.

Demikian semoga membantu.

PENGGUNAAN KULIT HEWAN QURBAN

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Menjelang Hari Raya Idul Qurban ini, ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan terkait dengan beberapa masalah yang ada di lingkungan kami, antara lain:

  1. Dalam pembagian daging sembelihan, apakah ketentuan pembagiannya sama dengan pembagian zakat (8 asnaf) ataukah mengutamakan lingkungan internal dulu?
  2. Dilema yang selama ini terjadi di lingkungan kami juga demikian. Kebiasaan di lingkungan perumahan kami, bila ada warga yang menyembelih hewan qurban, dagingnya di kirimkan (didistribusikan) ke kampung-kampung seberang yang penduduknya rata-rata kurang mampu. Nah, tahun kemarin ada beberapa orang yang menyuarakan bahwa sebaiknya daging hewan kurban tsb. didistribusikan ke lingkungan perumahan kami dulu baru kalau ada sisa bisa dibagikan ke kampung-kampung seberang. Bagaimana ini?
  3. Kembali masalah distribusi hewan kurban, dalam fiqih Islam dikatakan semuanya harus dihabiskan/dibagikan. Bahkan sampai kulit dan kepala qurban. Nah, kebiasaan kita selama ini khan orang yang menyembelih mendapatkan bagian kepala (sapi/kambing). Apakah hal itu memang tidak diperbolehkan? Karena memang tidak semua orang (ibu-ibu khususnya) bisa memasak kepala kambing/sapi ini.  Juga masalah kulit hewan qurban. Kan juga tidak semua orang doyan kulit ini. Sehingga sering kali dimanfaatkan untuk membuat bedug. Dan lebih bermanfaat sekali bukan? Apakah 2 hal tersebut (kepala hewan qurban sebagai upah penyembelihan dan kulit hewan qurban dibuat bedug) memang benar-benar dilarang dalam fiqih, ataukah bisakah kita mensiasatinya? Ma’af, misal ketika menyerahkan kepala hewan Qurban kepada Tukang Jagal bukan kita niatkan sebagai upah, tapi memang sebagai penyerahan daging qurban, bagaimana?

Demikian pertanyaan dari kami, atas perhatiannya terucap banyak terima kasih

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jawaban:

Assalamu’alaikum wr. wb.
Dalam ayat 36 surah al-Hajj dijelaskan “Dan telah jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri dan telah terikat, kemudian apabila telah roboh (mati) maka makanlah sebagian dan beri makanlah orang rela dengan apa yang berkecukupan dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur”.
Dalam hadist riwayat Ibnu Abbas Rasulullah membagi daging kurban menjadi tiga, sepertiga untuk keluarganya, sepertiga untuk fakir miskin dan tetangga dan sepertiga untuk orang meminta-minta” (H.R. Abu Musa al-Asfihani dalam Wadlaif).
Dalam riwayat lain Rasulullah s.a.w. bersabda “Makanlah sebagian, simpanlah sebagian dan bersedekahlah dengan sebagian”.
Dalam dalil-dalil di atas cukup jelas bagaimana tata cara pendistribusian daging kurban. Menurut madzhab Hanafi, Maliki dan Hanbali sebaiknya didistribusikan menjadi tiga bagian sesuai hadist. Menurut Hanbali boleh juga mengkonsumsi lebih dari setengah dan membagikan sebagian kecil dan begitu juga pembagian menjadi tiga tidak harus sama rata. Menurut madzhab Syafi’i disunahkan memakan sebagian dan diperbolehkan memberi makan orang-orang kaya dengan daging kurban.
Para ulama sepakat mengatakan diharamkan menjual bagian apapun dari hewan kurban. Rasulullah bersabda “Barang siapa menjual kulit hewan kurban, maka ia tidak mendapat pahala kurban” (H.R. Hakim) Maka tidak boleh memberikan kulit kurban kepada penyembelih sebagai upah. Ali R.A. berkata “Aku diperintah Rasulullah menyembelih kurban dan membagikan kulit dan kulit di punggung onta, dan agar tidak memberikannya kepada penyembelih” (Bukhari Muslim).
Memberikan kulit atau bagian lain dari hewan kurban kepada penyembelih bila tidak sebagai upah, misalnya pemberian atau dia termasuk penerima, maka diperbolehkan. Bahkan bila dia sebagai orang yang berhak meneriam kurban ini lebih diutamakan sebab dialah yang banyak membantu pelaksanaan kurban. Bagi pelaku kurban juga diperbolehkan mengambil kulit hewan kurban untuk kepentingan pribadinya. Aisyah r.a. diriwayatkan menjadikan kulit hewan kurbannya sebagai tempat air minum. Memanfaatkan kulit hewan kurban untuk kemaslahatan umum seperti disumbangkan ke masjid untuk bedug, tentu sangat baik.
Menurut Maliki dimakruhkan memberi makan orang non muslim dengan daging kurban. Hanbali mengatakan boleh saja memberi makan non muslim dengan daging kurban, kecuali pada kurban yang wajib, misalnya karena nadzar.
Membagikan daging kurban ke wilayah lain, menurut Hanafi dimakruhkan, terkecuali bila di wilayah tersebut terdapat keluarga atau terdapat kaum fakir miskin yang lebih membutuhkan. Maliki, Syafi’i dan Hanbali mengatakan tidak boleh memindahkan daging kurban ke wilayah lain dalam jarak tempuh sekitar 80 km ke atas, kecuali bila wilayah tersebut sangat membutuhkan, bila jarak tempuhnya tidak begitu jauh maka boleh saja.

Wallahu a’lam bissowab

Semoga membantu.

HUKUM KONGKOW DI PINGGIR JALAN



Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Langsung saja:

  1. Bagaimana pendapat Bapak terhadap kebiasaan masyarakat(yaitu duduk-duduk di tepi jalan, org Jawatimur bilang: cangkruk ) yang membuat orang yg mau lewat jadi malu, segan dan tiap kali lewat harus bilang ‘permisi, nyuwun sewu dll. Saya berpendapat cangkruk/duduk di tepi jalan(jalan umum) yang bisa membuat orang yg mau lewat jadi segan bukanlah kebiasaan yg baik. Bagaimana pendapat Bapak?Apakah cangkruk itu boleh-boleh saja?
  2. Seandainya saya lewat begitu saja di depan mereka dan tidak bilang ‘permisi, nyuwun sewu dll. Apakah sikap saya itu salah ? saya pikir itu kan jalan umum, bukan pekarangan rumah orang lain. Bukannya saya tidak mau menyapa orang lain, tapi kalau tiap kali lewat trus ketemu orang cangkruk,? Bagaimanakah menyikapi hal ini?

Saya mohon pendapat dan bimbingan Bapak,

Terima kasih
Wassalam

Jawaban:

Wa’alaikumsalam wr. wb.

Dalam suatu hadist Rasulullah s.a.w. bersabda “Janganlah kalian duduk-duduk di jalan (tepi jalan)” lalu para shabat protes “Mengapa kami dilarang, padahal kami hanya ngobrol?” lalu Rasulullah berkata “Kalau kalian tetap melakukannya, maka berilah jalan hak-haknya”. “Apa itu ya Rasulullah?” tanya sahabat. Rasulullah menjelaskan “Hak-hak jalan adalah menjaga pandangan, jangan menyakiti yang lewat, jawablah salam, Amar Ma’ruf dan Nahi munkar (memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran”. (H.R. Bukahri & Muslim)
Hadist ini cukup jelas, jadi cangkruk yang sampai menganggu orang lewat merupakan perbuatan yang kurang terpuji. Mereka yang melewati orang yang sedang cangkruk sebaiknya mengucapkan salam. Mengucapkan “nyuwun sewu” juga ada baiknya setelah mengucapkan salam.
Wallahu a’lam bishshowab.

Demikian semoga membantu.

GAK BOLEH BERJILBAB SAMA ORTU

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Saya punya sahabat muslimah yang pengin sekali berjilbab. Tapi terhalang orang tuanya yg melarang dia berjilbab, dengan alasan, nanti jadi kurang gesit, eksklusif, tidak luas pergaulannya, dan katanya banyak orang berjilbab itu tingkah lakunya baik!.  Sahabat saya jadi  bingung banget nih….

Yang mau saya tanyakan:

  1. Bagaimana hukumnya orang tua yang melarang putrinya berjilbab? Padahal hukum muslimah berjilbab ‘kan wajib? Kalo gak nurutin maunya orangtua, sahabat saya takut dibilang anak durhaka.
  2. Bagaimana caranya memberi pengertian pada orangtua sahabat saya. Karena niatnya untuk berjilbab udah mantep. Dan dia juga udah ngasih pengertian, kewajiban ini niatnya Lillaahi ta’aalaa, bukan utk sekedar menggugurkan kewajiban aja.

Terimakasih atas perhatian dan jawabannya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.


Jawaban:

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudari/Ananda…..
Masih banyak dari umat Islam yang belum memahami kewajiban memakai jilbab. Kita tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja, sebab itu mungkin keterbatasan pemahaman mereka terhadap ajaran agama, atau mungkin kondisi lingkungan dan pendidikan yang mempengaruhinya. Jalan yang terbaik adalah memberi mereka pengertian dan menyadarkan mereka bahwa memakai jilbab merupakan salah satu ajaran agama Islam. Tentu tidak harus dengan cara berkonfrontasi atau bertengkar mulut, apalagi bila yang menghalangi adalah orang tua, pasti mereka mempunyai alasan yang sifatnya duniawi. Jelaskanlah secara halus melalui dialog bahwa memakai jilbab semata demi menjalankan perintah agama. Dan yang lebih penting lagi buktikan dengan berkonsisten memakai jilbab dan dengan sikap yang lebih baik dari sebelum memakai jilbab, insya Allah dengan cara begitu orang tua akan semakin sayang.
Tidak usah takut merasa mendurhakai orang tua dengan memakai jilbab, yaitu dengan menyampaikan pengertian bahwa itulah prinsip yang Saudari/Ananda yakini dan amalkan dari agama Saudari/Ananda.
Memakai jilbab tidak harus menunggu pinter ilmu agama atau nunggu diizinkan. Demikian juga memakai jilbab sama sekali tidak mengurangi peluang mencari kerja atau aktifitas lainnya. Rizqi dan karier kita tidak karena pakaian kita, tapi lebih karena kemampuan dan keuletan kita mengejar dan mencarinya. Ini bisa dilihat di semua lapangan pekerjaan yang baik dan terhormat, pasti saudari akan melihat saudari-saudari kita yang cantik-cantik mengenakan jilbab bekerja di sana, mereka bangga dengan busana muslimah mereka.

Wallahu a’lam bishshowab.

Demikian semoga membantu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.551 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: