Oleh: majalah merah putih | Januari 23, 2010

ISTERI MENCARI NAFKAH, SUAMI DIRUMAH

ISTRI MENCARI NAFKAH,

SUAMI MENGASUH ANAK

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb. Saya mau bertanya, bagaimana jika ada Istri yang jabatan dan gajinya lebih menjanjikan atau lebih besar dari pada Suaminya, kemudian meminta agar suaminya di rumah saja, mengasuh anak dan mengajar ngaji di TPQ saja? Sekian dan terima kasih. Wassalamum wr wb (Atun, wali murid di Sendangmulyo)

Jawab:

Konstruksi hukum fiqih memang me-wajib-kan suami menafkahi istri dan kelauarganya. Menafkahi di sini dalam arti mencukupi kebutuhan lahir dan batin bagi mereka, terutama kebutuhan pokok sandang, pangan dan papan. Konstruksi itu didasarkan pada pendapat para ulama, terutama para ulama fiqih ketika memaknai beberapa teks al-Qur’an dan al-Hadits. Dalil yang paling sering dikutip antara lain (Q.S. An-Nisa [4]: 34). Tidak hanya para ulama fiqih, ulama tafsir, ulama tasawuf, dan lain sebagainya, juga sepakat akan otoritas teks tersebut. Ibnu Katsir misalnya, seorang mufassir terkemuka, juga sepakat, dengan mengatakan bahwa kenabian dan kekuasaan hanya diberikan kepada kaum laki-laki.

Namun, setiap hukum fiqih yang dirumuskan oleh para ulama, selalu ada sesuatu yang bersifat pengecualian (istitsna’). Tak jauh berbeda dengan hukum wajib suami menafkahi istri dan keluarganya. Jika sang suami ”tidak mampu” melakukannya, maka demi menjaga keutuhan keluarga, istri diperbolehkan mencari nafkah bagi keluarganya.

Selain itu, jika dilihat dari hukum mahar (sebagai hak mutlak sang istri terhadap suaminya), karena suatu sebab, mahar boleh digunakan atau dipinjam oleh sang suami, baca Q.S. An-Nisa’ [4]: 4. Artinya, hak istri adalah diberi nafkah, kewajiban suami memberi nafkah, karena suatu sebab istri merelakannya, maka hal itu diberbolehkan. Apalagi realitas sosial-budaya kita saat ini, memberikan peluang yang sangat besar bagi kaum perempuan untuk berkarir, bahkan terkadang mampu menutup peluang bagi kaum laki-laki.

Sampai di sini, dapat disimpulkan bahwa istri boleh menafkahi suaminya dan dianggap sebagai hutang suami. Selanjutnya, bila suatu saat telah mampu, ia wajib membayarnya. Namanya juga hutang, kalau sudah ada maka harus dibayar, dalam arti tetap harus berusaha agar dapat melunasi hutang-hutang tersebut. Jika istri memberikannya dengan rela, maka tidak dianggap hutang, hal itu jauh lebih baik, dan dia mendapatkan dua pahala: pahala karena hubungan persahabatan dan pahala sedekah.

Mengenai istri meminta agar suami tinggal di rumah, mengasuh anak dan mengurus rumah tangga, hal itu sah-sah saja, asalkan dilakukan dengan cara yang baik. Cara yang baik dalam arti permintaan itu tidak dilakukan dengan cara memaksa, atau merendahkan harkat dan martabat suami. Bagaimanapun juga, kedudukan suami tetap lebih tinggi dalam keluarga, sebagai kepala keluarga.

Selain itu, mengasuh anak juga penting. Jangan sampai hanya karena persoalan ekonomi, membuat anak menjadi terlantar. Dari pada diberikan kepada pembantu, maka keberadaan dan kasih sayang seorang ayah akan lebih baik ketimbang orang lain.

Akan tetapi, jika alasannya karena nominal ekonomis belaka, hal itu sulit dibenarkan. Karena kita tidak boleh mengukur segala sesuatu dengan nominalnya saja. (Q.S. Ath-Thalaq [65]: 7). Jika itu yang menjadi alasan, maka bisa jadi sang istri akan termasuk orang-orang yang tidak bersyukur atas nikmat Allah, dan menyebabkannya menerima azab yang pedih (Q.S. Ibrahim [14]: 7).

Persoalannya kemudian, mampukah sang istri menjaga dan menahan dirinya dari berbagai godaan di luar sana yang demikian dahsyat? Mampukah sang suami bertahan dalam pandangan masyarakat yang terkadang miring? Jika ia, maka tidak ada salahnya sang suami menuruti istrinya agar sementara menggantikan beban dan tanggungjawab sang istri, sambil terus berusaha untuk menunaikan amanah sebagai kepala keluarga. Satu lagi, tentang mengajar mengaji. Ini bisa saja dilakukan, barangkali kita akan memperoleh berkah dari do’a anak-anak yang masih suci, untuk kemuliaan dan kebaikan kita selanjutnya. Siapa tahu dari situ terbuka jalan, bagi Allah untuk mengangkat harkat dan martabat kita sebagai kepala keluarga. Sebab, mereka lebih dekat kepada Allah. Allahu a’lam bish shawab

BULAN SURA TIDAK BOLEH PESTA?

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb. Apakah benar di bulan Sura tidak boleh ada kerja (mantu, sunatan dll). (Wawan, SMP 9 Semarang)

Jawab:

Wa’alaikum salam wr wb. Anakku Wawan, memang ada suatu kepercayaan pada sebagian masyarakat, khususnya masyarakat Jawa yang meyakini, bahwa pada bulan Suro (mungkin dari kata ‘Asyura) membawa kesialan. Pikiran seperti ini semata-mata karena berfikir negatif terhadap diri sendiri, dan terhadap Allah. Dalam akidah (kepercayaan Islam) tidak ada keyakinan seperti itu. Bulan Suro dalam Islam disebut bulan Muharram, bulan yang dimuliakan (QS. al-Taubah/ 9: 36)

Keyakinan seperti yang Anda tanyakan tersebut dalam Islam disebut khurafat (gugon tuhon), keyakinan tanpa dasar. Hal yang prinsip dalam agama Islam semua hari, bulan dan tahun adalah baik, semuanya adalah makhluk Allah, mereka tidak bisa membawa bahaya dan manfaat apapun kecuali seijin-Nya. Nabi Muhammad saw. bersabda: La tasubbud dahra, fainnallaha huwad dahru. (jangan memaki-maki masa, sebab Allah itu adalah ‘masa’ itu sendiri). Artinya ia adalah makhluk ciptakan-Nya. Kita diperintah oleh-Nya untuk yakin dengan keyakinan yang tangguh, tanpa sedikitpun diwarnai keragu-raguan. Kalau seseorang ragu, maka atas keraguan itulah ketentuan Allah akan menimpanya, karena Allah itu ‘mengikuti’ persepsi hamba-Nya. Hadits Qudsi menyatakan: Anaa ‘inda dhanni ‘abdii bii (Aku [Allah] atas persangkaan hamba-Ku)

Keyakinan ini mungkin diberangkatkan dari kata Muharrom, diartikan diharamkan. Pengertian ini salah, kata ini berarti dimuliakan. Untuk mengkaji sejarah kejadian yang menimpa para nabi terdahulu, harus dirubah secara positif. Nabi Nuh selamat dari banjir, nabi Ibrahim selamat dari api Namrud, nabi Musa selamat dari kejaran Fir’aun, nabi Yunus selamat dari perut ikan, nabi Isa selamat dari kejaran orang-orang Yahudi, nabi Muhammad mendapat ampunan dari Allah SWT.

Menurut saya, punyai kerja di bulan ini, tidak apa-apa, bahkan mendapat pahala dan berkah dari Allah SWT.   Allahu a’lam bish shawab. Demikian semoga bermanfaat.

About these ads

Responses

  1. saya mau ber tanya.
    ketika istri mau menjadi istri dari suami. istri tahu akan ekonomi dari sang suami. tapi istri masih tak menghiraukan nya. karna sang istri yakin pada suaminya bahwa sang suami bisa membimbing sang istri dalam hal rumah tangga. pertanya’anya yaitu; ketika suami istri mempunyai seorang anak dan sang suami tidak bisa menafkahinya, sang anak menuntut pada ayahnya?
    terimakasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.551 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: