Oleh: majalah merah putih | Januari 3, 2010

Asyiknya Memotret dengan Kamera Lubang Jarum

S.A.I.N.S.V.A.G.A.N.Z.A.

Asyiknya Memotret dengan Kamera Lubang Jarum

Di tengah serbuan kamera digital yang semakin mudah kita dapatkan, rasanya akan semakin nikmat jika kita mencoba sebuah eksperimen sederhana tapi sangat mengasyikan. Tentu saja tawaran ini berlaku bagi kalian yang memiliki hobi fotografi. Kita bisa berburu objek gambar, dengan kamera yang tak lazim. Ya. Kamera Lubang Jarum (KLI) atau pinhole camera namanya.

Adalah fotografer Ray Bachtiar Drajat, yang kali pertama mempopulerkannya di Indonesia. Sebuah kamera yang bisa dibuat dari kaleng susu atau dus yang dilubangi seukuran sebatang jarum. Prinsip kerja KLJ adalah mengkap sebuah objek melalui celah cahaya seukuran lubang jarum. Objek gambar itu kemudian terekam di kertas film/negatif. Proses selanjutnya sama dengan proses fotografi umumnya, yaitu kertas negative tersebut diproses untuk menjadi cetakan positif.

Awal mula KLJ

Pada tahun 1997, saat teknologi digital mulai booming, Ray yang mulai menggunakan kamera digital karena tuntutan pekerjaan sebagai profesional fotografi, mulai resah. Dia mulai berpikir di dunia pendidikan fotografi lebih baik jika “mengetahui sesuatu dari dasarnya dulu”. Maka berawal dari sukses memotret pagar depan rumah tinggal dengan menggunakan KLJ kaleng susu 800 gram dengan negatif kertas Chen Fu tahun 1997, digelarlah workshop perdana pada tahun 2001 di lokasi pembuangan sampah Bantar Gebang yang didukung Galeri i-see, dan disponsori Kedutaan Belanda. Akhirnya, September tahun 2001 terbitlah buku “MEMOTRET dengan KAMERA LUBANG JARUM” terbitan Puspaswara. Selanjutnya, digelarlah workshop tour “gerilya” di Jawa, Bali, bahkan Makassar, hingga pada 17 Agustus 2002 berani memproklamirkan KOMUNITAS LUBANG JARUM INDONESIA (KLJI) sebagai komunitas para pemain KLJ.

Sebagai sebuah filosofi KLJI sebenarnya tidak mempersoalkan masalah “kamera”, tapi makna “lubang jarum” lah yang digaris bawahi. Karena lubang jarum bisa berarti kondisi dimana saat sulit datang bertamu dan pada saat seperti itu kita harus mampu meloloskan diri. Pantas jika Leonardo Da Vinci menyatakan: “Siapa yang akan percaya dari sebuah lubang kecil, kita dapat melihat alam semesta”, karena terbukti KLJ mengajak kita untuk berada dalam suatu ruang yang cukup luas untuk olah pikir, olah rasa dan bahkan olah fisik. Tetapi ruang itu harus kita penuhi dengan aksi-aksi nyata.

Bagi kalian jelas KLJ menawarkan pemanjaan idealisme yang luar biasa. KLJ juga menawarkan seni proses yang sangat melelahkan, tapi sekaligus mengasyikkan. Mungkin hal itulah yang menggelitik sehingga KLJ bagaikan virus. Sangat pantas jika KLJ di Indonesia digunakan sebagai media untuk pendidikan anak-anak.

Pada tahun 2008, digelar workshop KLJ tingkat lanjut dengan misi melahirkan kreator dan Instruktur KLJ yang berkualitas. Juga mulai digagas antisipasi jika suatu masa bahan KLJ seperti kertas foto, developer, fixer, tidak lagi diproduksi akibat pasar yang berubah menjadi full digital, popularitas KLJ tidak akan lenyap bahkan seperti lahir kembali. Seperti sejarah lahirnya kamera beberapa abad lalu.

Bagi Indonesia yang kaya akan bahan baku dan orang-orang kreatif, keterbatasan alat dan bahan yang selama ini menghantui, dapat berubah menjadi kelebihan bahkan pada akhirnya malah menjadi khas daerah. Sebagai misal, karena di Jogja kaleng rokok mudah didapat lahirlah KLJ kaleng rokok, bahkan ditemukan pula KLJ kaleng yang bisa menghasilkan distorsi yang luarbiasa dan ini lahir dan menjadi khas KLJ Jogja. Tapi karena di Malang kaleng susah didapat, maka lahirlah KLJ pralon bahkan lahir pula seorang ahli kamera KLJ kotak tripleks. Dan di jakarta lahir kamera KLJ “pocket” dalam arti sebenarnya, bisa dimasukan ke dalam saku.

Dan jika efek KLJ disebutkan tidak akrab lingkungan, justru hikmahnya adalah kita dapat menyisipkan pesan dan memperkenalkan cara menangani limbah yang ditimbulkan dalam proses fotografi analog dengan benar. KLJ mengajarkan kita menata limbah dan puing dunia menjadi lebih berarti. KLJ mengingatkan kita akan dunia materi yang fana sekaligus menjadi alat untuk pendidikan jiwa, penggemblengan rasa, dan eksplorasi kreativitas bagi para kreator fotografi Indonesia. (Taryadi)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: