Oleh: majalah merah putih | Januari 3, 2010

Berbahasa Indonesia yang Benar

bersama Dr. Mukh Doyin, M.Hum

Ketua Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) Jawa Tengah

Yang Terhormat

Perhatikanlah orang yang sedang memberikan sambutan, berpidato, atau kampanye di sekeliling kita. Pada awalnya dapat dipastikan mereka akan menyebut orang-orang yang hadir, mulai dari yang berpangkat sampai pada seluruh orang yang hadir; mulai dari yang bisa disebutkan pangkat, jabatan, kedudukan, atau bahkan namanya sampai tamu undangan yang tidak jelas asal-usulnya. Kalau sambutan itu dilakukan oleh siswa SMP Nasima Semarang dalam acara perpisahan Kelas IX, misalnya, paling tidak siswa tersebut akan menyebutkan beberapa nama yang dihormati, mulai dari kepala sekolah, para guru, teman-teman seangkatan, sampai wali murid kalau ada.

Apa penyebutan yang digunakan untuk menyapa orang-orang yang hadir dalam perpisahan siswa Kelas IX SMP Nasima itu? Bermacam-macam. Biasanya pembicara akan mulai menyebut dengan menyapa “Yang terhormat”. Karena itu muncullah kata-kata sebagai berikut.

Yang terhormat Kepala SMP Nasima Semarang,

Yang terhormat Bapak/Ibu guru SMP Nasima Semarang,

Yang terhormat Bapak/Ibu Tata Usaha SMP Nasima Semarang,

Yang terhormat para orang tua murid SMP Nasima Semarang,

Yang terhormat para hadirin sekalian, khususnya teman-teman Kelas IX SMP Nasima Semarang.

Pada akhirnya semua yang hadir mendapatkan sapaan “Yang terhormat”.

Pada kesempatan lain barangkali kita akan mendengar cara lain yang dilakukan oleh orang yang memberikan sambutan. Mereka tidak menggunakan ungkapan “Yang terhormat” tetapi menggunakan “Yang saya hormati”; sehingga akan muncul kata-kata sebagai berikut.

Yang saya hormati kepala sekolah,

Yang saya hormati Bapak/Ibu guru,

Yang saya hormati para orang tua murid,

Yang saya hormati teman-teman.

Semua yang hadir disapa dengan ungkapan “Yang saya hormati” tanpa membedakan kedudukan dan hubungan dengan orang yang berbicara.

Kita barangkali akan bertanya mana yang benar di antara dua cara tersebut: “Yang terhormat” atau “Yang saya hormati”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentu saja kita harus kembali kepada pengertian keduanya. Dari definisi itulah kita akan mengetahui mana yang benar di antara dua ungkapan di atas.

Imbuhan ter- dalam bahasa Indonesia memiliki arti, salah satunya, paling. Terindah berarti yang paling indah, terbesar berarti yang paling besar, terjauh berarti yang paling jauh, dan seterusnya. Dari analogi ini, kita akan segera mengetahui bahwa yang terhormat tentu berarti yang paling dihormati. Persoalannya adalah apakah semua orang yang hadir dalam sebuah pertemuan sama-sama berhak menerima  ungkapan yang terhormat? Tentu saja tidak.

Kalau ter- bermakna yang paling, dalam sebuah pertemuan tentu hanya ada satu orang atau satu kelompok orang yang memiliki kedudukan “paling” tersebut. Lalu, bagaimana dengan orang lain? Tentu kita akan menggunakan sapaan “Yang saya hormati”. Penggunaan “Yang saya hormati” tidak merujuk pada pemeringkatan. Dalam contoh di atas, berdasar pengertian tersebut, kita dapat menggunakan ungkapan yang terhormat untuk kepala sekolah dan yang saya hormati untuk yang lain. Dengan demikian, secara lengkap kita dapat memulai sambutan dengan menyapa:

Yang terhormat Kepala SMP Nasima Semarang,

Yang saya hormati Bapak/Ibu guru SMP Nasima Semarang,

Yang saya hormati Bapak/Ibu Tata Usaha SMP Nasima Semarang,

Yang saya hormati para orang tua murid SMP Nasima Semarang,

Yang saya hormati, hadirin sekalian, khususnya teman-teman Kelas IX SMP Nasima Semarang.

Lalu, bagaimana dengan tamu undangan yang kedudukannya berada di bawah kita? Apakah kita juga harus menggunakan “Yang terhormat”? Tentu saja tidak. Apakah kita harus menggunakan sapaan “Yang saya hormat”? Tidak ada persoalan sesungguhnya kita menghormati orang yang kedudukannya di bawah kita. Kepala sekolah menghormati para guru, bupati menghormati para camat, dan sebagainya. Tidak ada persoalan. Apakah janggal seorang gubernur mengawali sambutannya dengan mengucapkan “Yang saya hormati Bupati Cilacap, Bupati Karanganyar, Bupati…”? Tentu saja tidak.

Meskipun demikian, ada ungkapan lain yang juga dapat kita gunakan untuk orang yang kedudukannya di bawah kita. Misalnya saja seorang guru  yang menyapa para muridnya. Apakah guru itu akan menyapa  “Yang saya hormati murid-murid saya”? Tentu saja tidak. Ada ungkapan lain yang lebih tepat. Misalnya, “Yang saya cintai siswa-siswi SMP Nasima”, “Yang saya sayangi siswa-siswi SMP Nasima”, atau bahkan “Yang saya banggakan anak-anakku, siswa-siswi SMP Nasima”.

Dengan demikian, ungkapan yang kita gunakan dalam memberikan sambutan sangat bergantung kepada siapa yang datang, bagaimana hubungan kita dengan orang atau kelompok orang yang datang, dan budaya seperti apa yang secara bersama kita sepakati dengan orang atau sekelompok orang yang datang tersebut. Kita bisa  saja menggunakan ungkapan yang saya hormati, yang saya cintai, yang saya banggakan, dan sebagainya. Yang penting, dalam sebuah kelompok, hanya satu orang atau satu kelompok orang yang boleh kita sapa dengan ungkapan “Yang terhormat”.

Catatan:

Jika Anda memiliki persoalan mengenai bahasa baku, kirim SMS ke 08122506683! Barangkali dari SMS Andalah ide untuk mengisi rubrik ini lahir.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: