Oleh: majalah merah putih | Januari 3, 2010

BERI AKU SAYANG

Beri Aku Sayang

NADIA KHADIJAH SEKAR NEGARI *

“ Pokoknya Raya nggak mau papa mama cerai!” Raya mendengus kesal. Papa dan mama menghembuskan nafas untuk kesekian kalinya.

“ Raya, dengerin mama dulu… mama dan papa memang sudah tidak cocok lagi. Raya sering dengar kan, papa dan mama sering berantem, itu adalah tanda-tanda bahwa mama dan papa sudah tidak cocok lagi.”

Mama mencoba membelai kepala Raya. Tapi, ia menghindar. Papa geleng-geleng kepala. Raya hanya diam saat mendengar penjelasan mama. Air mata Raya hampir menetes.

“ Yang harus Raya ingat, Papa dan Mama akan terus menyayangi Raya sampai kapanpun. Papa dan mama akan selalu menjenguk Raya dan memastikan Raya baik baik saja.” Ucapan Papa membuat Raya terkejut.

“ Papa bohong!” Teriak Raya. Papa dan mama kaget sontak berdiri terkesima.

“ Papa dan mama bohong? Walaupun papa dan mama belum cerai, papa dan mama tak pernah memperhatikan Raya! Raya menelpon mama, tapi yang mengangkat selalu asisten mama dan mengatakan kalau mama sedang sibuk dan tidak bisa diganggu! Raya menelpon papa, tapi papa sedang rapat, meeting, dan kata-kata aneh lagi yang Raya tidak ketahui! Raya mendapat nilai seratus papa dan mama tidak peduli! Raya mendapat juara satu olahraga saja papa dan mama tidak mau tahu! Selagi Raya pusing dan ingin istirahat, papa dan mama selalu bertengkar meributkan apa saja yang sebenarnya sangat sepele! Selagi Raya sakit, papa dan mama selalu memerintahkan Mbok Minah yang merawat Raya! Apa itu yang disebut sayang?” kali ini, Raya sudah menangis sesenggukkan sambil mengatur napasnya yang tersendat sendat. Papa berdiri dan menghampiri Raya. Lalu …

PLAKKK!!!

Raya jatuh tersungkur ketika tamparan papa mendarat di pipinya yang gembil. Ia menatap Papa Krisna sementara mama Ratna hanya tertegun.

“ Kalau Raya tidak bisa berbicara yang lebih sopan, Papa akan lakukan itu sekali lagi!” Raya memegangi pipinya yang panas. Mama hanya menutup mulut. Papa beranjak pergi meninggalkan Raya dan mama yang berdiri di depan sofa ruang keluarga. Ia pun berdiri dan berteriak

“ Papa nggak perlu repot-repot berbalik lagi karena Raya akan pergi dan nggak akan pernah menginjakkan kaki Raya di rumah ini!!” Raya segera berlari menuju pintu dan membuka kuncinya. Segera bergegas dan menerobos derasnya hujan malam itu. Papa dan mama berteriak memanggil namanya tapi Raya tak peduli. Bajunya mulai basah terkena hujan tapi ia terus berlari dan melompati pagar lalu berlari lagi. Papa memerintahkan Mang Ujang untuk menyusulnya, tapi  gadis cilik itu telah berlari menjauh dari rumah.

Raya berteduh di bawah pohon ketapang. ia telah berlari terlalu jauh dari rumahnya. Raya kedinginan dan kelelahan. Raya tak kuat lagi hingga akhirnya, ia pingsan di bawah pohon itu.

Saat hujan berhenti dan Mentari pun mulai menghangat, Raya terbangun. dilihatnya seorang Kakek dan nenek di pinggir kasurnya yang tipis.

“ Alhamulillah nak, kau sudah sadar!” Kakek berseru senang membangunkan nenek yang tertidur. Raya terkejut dan berusaha bangkit tapi nenek mencegahnya.

“ Sudahlah, nak! Berbaringlah dulu… kau masih lemah”

“ Di mana aku? kakek dan nenek siapa? kenapa aku bisa berada disini?”

“ kau berada di desa Pandan Damai. Kakek menemukanmu pingsan di bawah pohon, dan kakek membawamu ke rumah kami.” terang kakek itu yang memiliki nama Hasyim. Raya tersenyum.

“ Terima kasih, Kek! Namaku Raya.”

“ Raya, kenapa Raya bisa pingsan di bawah pohon?” Pertanyaan Nenek Kumala membuat Raya terkejut. Raya ingin menceritakan semuanya tapi mulutnya terkunci. Terlintas dipikirannya tangan ayahnya yang menampar pipinya,

“ Raya… Raya belum ingat apa-apa” Ya, Allah aku berbohong! Jerit Raya dalam hati. Kakek dan nenek tersenyum.

“ Apakah kau sudah sehat, Nak? Jika iya, kami akan membawamu jalan-jalan di pagi yang segar ini.”

“ Ya, Nek! Aku mau, tapi… baju siapa yang kupakai?”

“ itu… baju Nia” kakek berkata lemah.

“ Akan kami ceritakan saat jalan-jalan” potong nenek cepat.

Mereka segera bersiap-siap dan berjalan perlahan menyusuri jalan yang belum diaspal.

“ Jadi, Nak, Nia itu nama cucu kami. Tapi, dia sudah meninggal sekarang. Seandainya dia masih hidup mungkin, dia sudah seusiamu.” terang nenek.

“ Berapa usiamu, Nak?” Tanya kakek.

“ 10 tahun… nama lengkap cucu kakek siapa?”

“ Soraya Rahmania.”

“ Wah..! seperti namaku! Soraya Aqilla!”

Raya terlonjak senang. Entah kenapa ia merasa damai di sini. Ditemani dua insan yang sepertinya akan amat sangat menyayanginya. Sungguh asri desa itu. Berbagai macam pohon tumbuh di sana sehingga menimbulkan kesan rindang. Matahari menelusupkan sinarnya di celah-celah daun pepohon yang lebat. Sawah-sawah terhampar luas. Burung-burung berkicau riang. Bocah-bocah yang sedang bermain di sungai gembira melihat ‘calon’ teman baru mereka yang pastinya akan diajak juga bermain di sungai. Raya tak henti hentinya tersenyum senang. kakinya yang tak beralas melonjak-lonjak senang. Tak pernah ia merasa kegembiraan yang sangat mendalam seperti itu dirumahnya sendiri.

5 tahun kemudian…

“ Sudah beberapa tahun ini aku meninggalkan rumah. Apakah mereka merindukanku? Apakah mereka mencariku? Atau menggelar pesta megah untuk merayakan hilangnya aku? “ segudang pertanyaan pun menghantui pikiran ku.

“ Raya, sudah makan belum? Kok dari tadi melamun saja? Apa yang sedang kau pikirkan?”

“ Raya masih kenyang kok, Nek. Hmem, Raya ijin ke taman sebentar ya, Nek.boleh kan?” Aku meminta ijin dengan sopan.

“ Tentu saja. Asalkan pulangnya tidak kesorean. Hati-hati ya..” nenek pun mengijinkan.

Angin sejuk pun langsung berbaur dengan cerianya Raya. Di perjalanan, ia melihat seorang ibu yang sedang kebingungan.

“ Permisi, Mbak, apakah Mbak pernah melihat seorang anak perempuan,berkulit putih dengan tinggi badan kira-kira 140an lah. Umurnnya 15 tahun. Rambut nya pendek?” Ibu itu susah payah menjelaskan tentang anak nya kepada Raya yang tertpaku mendengar pertanyaan Ibu itu.

Tunggu dulu,  ciri-ciri yang disebutkan ibu itu persis seperti ciri-ciri pada dirinya waktu berumur 10 tahun.

“ Kalau boleh tahu, nama anak Ibu siapa?” Raya balik bertanya.

“ Namanya Kirana.” Ibu itu menjawab dengan cemas. Khawatir dengan anaknya.

“ Maaf, saya tidak melihat anak bermain di sini. Tapi tenang, saya akan membantu ibu mencari Kirana” Raya menawarkan jasa.

Lalu mereka mencari. Raya mencari di taman, sementara ibu itu mencari di tempat yang lain. Seraya ia mencari, Raya melihat pemandangan taman yang sedikit kotor. Banyak sampah sampah berserakan . saat ia memunguti sampah, ia menemukan surat kabar keluaran tahun 2003. aku tercengang saat membaca kalimat “ SORAYA AQILLA, ANAK PENGUSAHA KAYA HILANG TANPA JEJAK.SAMPAI SAAT INI BELUM DI TEMUKAN.” Di dalam surat itu terdapat foto dirinya saat ia berumur 10 tahun.

Sesampai di rumah, ia berbaring di tempat tidur. Lelah. Tak lama kemudian, kakek Hasyim memanggilnya. Ingin membicarakan sesuatu.

“ Raya, kakek sudah tahu tentang dirimu. Raya anak Pak Krisna kan? Yang hilang beberapa tahun lalu. Kakek ingin tahu, mengapa nak Raya meninggalkan mereka?”

Akhirnya Raya menceritakan semua nya.

“ Aku sudah tidak tahan lagi hidup dengan mereka! Setiap hari yang ku dengar hanya bentakan, amarah dari mereka! Dan mereka tak pernah memperdulikanku! Tapi di sisi lain, saat ini aku rindu pada mereka. Apa yang harus aku berbuat sekarang?” Batin Raya bergetar teringat wajah-wajah mereka.

Kakek pun berpikir cepat. Mencari jalan keluar.

“ Mungkin, ini saat yang tepat untuk mencari mereka. Kebetulan, Raya juga lagi libur kenaikan kelas, kan? Besok kita cari tahu dulu. Raya masih ingat nomer telepon rumah yang dulu?”

“ Masih. Ya sudah, besok aku telepon.

Malam pun makin larut. Kakek menyuruhnya untuk tidur. Menyiapkan tenaga untuk besok!

Sang fajar muncul dari ufuk timur, Raya bangun sebelum ayam jantan berkokok. Segera mengambil air wudhu dan shalat berjamaah dengan kakek dan nenek. Ia berdoa agar cepat bertemu dengan kedua orang tuanya. Setelah itu, ia sempatkan untuk  berolahraga kecil dan mandi. Mengapa aku bersemangat sekali? Apa aku terlalu yakin untuk menemukan orang tuaku? Tapi, jutaan rintangan siap menghadangku di tengah jalan nanti. Sejuta Tanya dalam hatinya.

Mereka sarapan terlebih dahulu. Selesai melahap makanan, Raya menelpon rumahnya yang dulu.

“ Tut….tut…” Alhamdulillah, nyambung!

“ Halo, ada yang bisa saya Bantu? “ suara pun muncul

“ Benar ini rumah Bapak Krisna Atmasutedja? Bapak ada?” jantungku berdetak kencang. Gugup.

“ Maaf, salah sambung “ jawabnya singkat

“ Apa? Bukankah ini rumahnya?” Ia pun jadi bingung

“ Dulu memang pak Krisna tinggal di sini. Semenjak anaknya menghilang, rumah ini dijual. Dan mereka tinggal bersama saudara nya.” Jawab si pemilik rumah.

“ apa Anda punya alamat pak Krisna yang baru?” Raya tak mau berputus asa.

“ Oh ada, ini.. jalan Apel selatan nomor 14. Maaf, saya bicara dengan siapa ya?”

“ Saya.. saya keponakannya pak Krisna. Sudah beberapa lama ini, kami jarang berkomunikasi.”  Ia terpaksa berbohong.

“ Ada yang lain mbak?”

“ Tidak. Terima kasih. Maaf mengganggu.”

Raya pun mengucapkan salam dan menutup telponnya. Lalu ia berlari menuju kakek Hasyim.

“ Kakek tahu alamat ini tidak? Katanya orang tua Raya tinggal di sana!” Tanyanya pada kakek.

“ Ya, kakek tahu. Apa kita langsung saja ke sana? Perjalanannya memakan waktu kurang lebih setengah jam. Gimana?” kakek menawarkan.

“ Ya sudah! Ayo berangkat! Pokoknya, hari ini harus selesai urusannya !” Raya bersemangat

Kami mengendarai motor vespa antik milik kakek. Setelah sampai ke tempat tujuan, aku segera turun dari motor dan berlari ke arah rumah itu.

“ Tok..tok..tok. Assalamualaikum?” jantung Raya berdetak lebih kencang

Setelah menunggu beberapa menit, datang seseorang membuka pintu.

“ Cari siapa?”

“ Pak Krisna nya ada, pak? “ tanyanya bersemangat.

“ Dia sedang rapat “ jawabnya singkat

“ Kalau ibu Ratna? Ada tidak?” Raya mulai kritis bertanya

“ Tidak ada juga. “

Ia bingung, apa ada yang salah? Mengapa orang tadi seperti menutup-nutupi keadaan?

“ Siapapun Bapak, tolong buka pintunya! Aku kembali! Aku Raya! Soraya Aqilla! Tolong,bukakan pintu untukku. Kumohon..” Raya berusaha membuka pintu

Tiba tiba, lelaki itu membuka pintu.

“ Bohong! Raya sudah tiada! Apa bukti nya kalau kamu adalah Raya?” bentakan lelaki itu membuatku tersentak kaget

“ ini, aku membawa foto keluarga. Saat kami berlibur di Bali bersama paman Gatot. Paman juga yang memotret foto ini. “

Tiba tiba lelaki itu menatapku tajam.

“ Raya.. aku Gatot. Pamanmu! “

“ Benar,kan? Alhamdulillah..akhirnya… terima kasih Ya Allah!”

Paman mempersilahkan kami masuk. Dan kami berbincang-bincang lumayan lama. Sampai akhirnya..

“ Paman, mama papa mana? Kok tidak kelihatan?” Ia bertanya penasaran.

Wajah paman berubah menjadi pucat.

“Eng..begini saja, sekarang Raya dan kakek ikut paman ke suatu tempat.

Raya menuruti apa kata paman Gatot. Yang penting bias bertemu mereka! Kami diajak ke sebuah bukit. Tidak jauh dari rumah paman. Dalam hatinya bertanya, apakah orang tuaku tinggal disini? Tidak mungkin”. Sampai akhirnya..

“ Apa? Batu nisan bertuliskan nama mereka? Hah? Tidak mungkin ini semua terjadi!!” Raya pun berteriak sekencang kencang nya

“ Sabar Raya, ini sudah takdirnya. Sejak kamu menghilang, mereka berjanji akan bersatu kumbali demi kamu. Sampai akhirnya mereka meninggal bersamaan. Saat mereka mencari kamu, mereka di tabrak truk dari belakang. Kecelakaan pun tak terhindarkan.” Jelas paman Gatot.

“ Mama, papa, maafin Raya! Raya salah!! Seharusnya Raya tak melakukan ini semua…”

Ia kehabisan kata-kata. Syok.rasanya, Ia tak tahu harus berbuat apa. Hancur sudah impiannya untuk bertemu mereka..

Tapi, ini sudah rencana Allah. Tiada yang tahu soal ini. Sejak kejadian itu, ia menganggap dirinya anak durhaka dan rasa bersalahpun menghiasi hari-harinya.

Andaikan aku dapat memutar waktu…

Papa, mama, maafkan aku . .

– SEKIAN –

(Penulis adalah Siswa SMP Nasima, diedit oleh Taryadi)


Responses

  1. Cerita yang mengharukan dan majalah yang bagus….terus berkarya y….semangat….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: