Oleh: majalah merah putih | Januari 3, 2010

GURU DALAM PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

ekspresi

Oleh: Supramono, M.Pd

Indonesia adalah Negara Multikultural

Indonesia adalah negara majemuk terbesar di dunia dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang beragam dan luas. Kemajemukan itu dibuktikan dengan hidupnya 300-an suku bangsa, 200-an bahasa, dan tentu saja kebudayaan yang berbeda-beda pula. Setiap suku bangsa, bahkan sub suku bangsa memiliki keunikan dan kekhasan dalam perwujudan unsur-unsur universal kebudayaannya. Sistem bahasa, pengetahuan, religi, kekerabatan dan organisasi sosial, mata pencaharian, teknologi, serta sistem kesenian setiap suku bangsa adalah beragam (lihat Koentjaraningrat, 1990).

Berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik, masyarakat Indonesia saat ini berjumlah lebih dari 250-an juta dan tersebar di sekitar 13.667 pulau yang tertata secara membujur barat-timur dari Nangroe Aceh Darussalam sampai Papua dan melintang utara-selatan dari Sulawesi Utara sampai Nusa Tenggara Timur. Dalam tuturan pujangga, Indonesia adalah “Untaian Zamrud Khatulistiwa yang Berbhinneka Tunggal Ika”, artinya rangkaian wilayah indah di garis Khatulistiwa dengan bangsanya yang beraneka ragam budaya tetapi bisa hidup padu.

Dalam konteks pendidikan, keberagaman kebudayaan atau multikulturalisme Indonesia tersebut merupakan potensi yang sangat besar bagi bangsa ini. Namun di sisi lain, keragaman ini juga rentan berpotensi terhadap berbagai persoalan sebagaimana terjadi sekarang ini. Globalisasi, transformasi budaya, dominasi kesukuan, separatisme, perseteruan antaretnis, euphoria otonomi daerah, pergolakan sosial politik, perusakan lingkungan, dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk menghormati orang lain menjadi letupan-letupan yang bisa menghancurkan padunya keragaman Indonesia.

Indonesia punya pengalaman menyedihkan akibat alphanya naluri multikulturalisme. Kekerasan, pemberontakan, pembumihangusan, pelecehan antarsuku, pemusnahan generasi, dan sebagainya pernah menjadi ancaman, meski tidak sampai menghancurkan bangsa ini secara keseluruhan. Akhir-akhir ini terjadi kekerasan terhadap etnis Cina pada kerusuhan Mei 1998, pertikaian muslim-kristiani di Maluku dan Poso pada tahun 1999 sampai 2003, serta pertikaian warga Dayak-Madura di Sampit Kalimantan Barat sejak tahun 1931 dan mencapai puncaknya pada tahun 2000. Haruskah kejadian seperti itu terulang di masa mendatang? Tentunya tidak. Pemahaman multikultural di kalangan bangsa Indonesia perlu dikuatkan kembali, salah satunya lewat dunia pendidikan.

Lingkungan pendidikan, guru, tenaga kependidikan, dan subyek didik yang beraneka ragam kepribadian dan latar belakang budaya perlu diramu dalam sistem pendidikan yang tepat demi tercapainya tujuan pendidikan nasional (lihat Yaqin, 2005:4). Cepatnya arus informasi, transformasi dan persilangan budaya, dan dinamisnya pergerakan manusia dalam upaya pengembangan dirinya, menjadikan tantangan amat berat bagi guru yang hanya berfikir lokal. Karena jelas bahwa kita semua berada ditengah globalisasi dimana kondisi multikultural ada di depan mata. Banyak negara telah menerapkan pendidikan multikultural untuk membentuk siswa yang berkepribadian inklusif, cerdas, demokratis, dan berperilaku global, namun tetap menjunjung nilai-nilai kelokalan.

Merryl Goldberg (1997:13) memberitahukan, bahwa di belahan utara Amerika terdapat banyak sekolah yang multikultural dan penerapan bahasa yang berbeda-beda, demikian juga pendidikan di Australia  yang harus menggunakan berbagai macam pendekatan budaya yang beragam. Ki Hajar Dewantara juga memberi acuan pendidikan yang harus berlandaskan pada potensi budaya lokal dan mengenalkan potensi budaya lainnya (dari suku bangsa lain di Indonesia maupun dari negara lain) agar siswa menjadi insan yang berkepribadian, berkemampuan, dan berdaya saing (lihat Supriyoko, 1997).

Berdasarkan paparan tersebut, selanjutnya muncul beberapa pertanyaan yang harus dijelaskan lebih lanjut. Apa itu pendidikan dengan pendekatan multikultural? Bagaimana implikasinya dalam lingkungan sekolah?

Pendidikan dengan Pendekatan Multikultural

Strategi pendidikan multikultural sebenarnya telah terjadi di Indonesia sejak bangsa ini ada. Hal ini terbukti suku-suku bangsa yang tersebar di Indonesia bisa hidup berdampingan dengan damai, sampai akhirnya muncul Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Secara spirit budaya yang beragam dan legalitas politis terbentuklah negara Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap bersatu. Dalam kehidupan sehari-hari pendidikan multikultural telah melekat di masyarakat Indonesia. Namun seiring berjalannya waktu, ketika pendidikan nasional mengalami pembiasan orientasi ditambah pengaruh internal dan eksternal berupa kondisi sosial, politis, ekonomi, informasi, dan budaya, maka pendidikan multikultural sangat perlu disadarkan kembali. Pendidikan multikultural adalah motor penggerak  penegakan demokrasi, humanisme, dan pluralisme yang dilakukan melalui sekolah, kampus, dan institusi-institusi pendidikan lainnya (lihat Tilaar, 2002 dan Yaqin, 2005).

Rohidi (2002) menambahkan bahwa pendekatan multikultural menyarankan sistem pendidikan yang tanggap budaya, artinya menghargai dan menerapkan nilai-nilai budaya yang melingkupinya secara komprehensif sekaligus mengasah empati terhadap nilai-nilai budaya di sekelilingnya. Proses pendidikan dipusatkan pada siswa dilandasi penghargaan keberagaman pribadi serta latar belakang budayanya.

Pendidikan multikultural adalah strategi pendidikan yang diaplikasikan pada semua mata pelajaran dengan cara menggunakan keunikan-keunikan kultural yang ada pada para siswa. Proses pembelajaran akan berjalan efektif dan ”manusiawi”. Pendidikan multikultural juga untuk melatih dan membangun karakter siswa agar mampu bersikap demokratis, humanis, dan pluralis dalam lingkungan mereka. Ibaratnya ”sambil menyelam minum air”. Selain siswa dapat menguasai kompetensi yang baik dalam mata pelajaran, siswa diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai multikultural di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakatnya.

Tujuan awal pendidikan multikultural adalah mengikis paradigma pendidikan konservatif dan membangun wacana pendidikan multikultural di kalangan guru, tenaga kependidikan, orang tua siswa, dosen, pakar pendidikan, pengambil kebijakan pendidikan, termasuk mahasiswa calon guru. Selain itu mereka diharapkan menjadi transformator pendidikan multikultural yang mampu menanamkan dan membiasakan nilai-nilai demokrasi, humanisme, serta pluralisme di lingkungan sekolah..

Sedangkan tujuan akhir pendidikan multikultural adalah siswa mampu memahami dan menguasai setiap materi pelajaran sekaligus terbangun karakter yang kuat untuk selalu bersikap demokratis, humanis, dan pluralis di sekolah maupun lingkungan masyarakatnya. Kelak bila sudah dewasa dia konsisten mengembangkan, menerapkan, memberi tauladan, dan mengajarkannya pada orang-orang di sekitarnya.

Demokratis artinya bersikap dan berperilaku terbuka terhadap segala perbedaan pendapat dan menerima keputusan bersama dengan lapang dada. Insan demokratis juga memiliki kesediaan menerima seuatu dari luar dirinya meskipun itu berbeda atau bahkan betentangan sekalipun. Selanjutnya tergantung kepada kecerdasan bersikap yang tidak menyinggung perbedaan namun mengangkat citra positif yang bisa disatukan (Arifin, 2002).

Humanis artinya memahami, bersikap, dan berperilaku berdasar nilai-nilai kemanusiaan yang umum antara lain semua orang ingin dihargai tidak dilecehkan, ingin didengarkan tidak diacuhkan, ingin kedamaian dan persahabatan bukan dimusuhi, dan sebagainya. Orang humanis senantiasa menyelaraskan setiap sikap dan tindakannya lewat penempatan dirinya sebagaimana dirinya ketika menjadi orang lain.

Pluralis artinya selalu mengetahui dan memahami bahwa orang-orang disekitarnya adalah pribadi yang berbeda-beda, sehingga setiap sikap dan tindakannya tidak bisa individualis atau pengelompokan sejenis. Orang pluralis akomodatif, bijaksana, dan menjadikan perbedaan sebagai potensi positif untuk dikembangkan bersama.

Implikasi Pendidikan Multikultural di Sekolah

Strategi pendidikan multikultural selanjutnya perlu dijabarkan dalam implikasi di sekolah. Menyarikan pendapat beberapa ahli dan realita empirik, dapat disusun tujuh implikasi strategi pendidikan dengan pendekatan multikultural. Tujuh implikasi itu dapat dijelaskan sebagai berikut;

1.   Membangun paradigma keberagamaan inklusif di lingkungan sekolah.

Guru sebagai orang dewasa dan kebijakan sekolah harus menerima bahwa ada agama lain selain agama yang dianutnya. Ada pemeluk agama lain selain dirinya yang juga memeluk suatu agama. Dalam sekolah yang muridnya beragam agama, sekolah harus melayani kegiatan rohani semua siswanya secara baik. Hilangkan kesan mayoritas minoritas siswa menurut agamanya. Setiap kegiatan keagamaan atau kegiatan apapun di sekolah biasakan ada pembauran untuk bertoleransi dan membantu antarsiswa yang beragama berbeda.

Hal ini perlu diterapkan di sekolah yang berbasis agama tertentu atau menerima siswa yang beragama sejenis. Guru dan kebijakan sekolah tidak mengungkapkan secara eksplisit, radikal, dan provokatif dalam wujud apapun, karena di luar sekolah itu siswa akan bertemu, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain yang berbeda agama. Sebagai bahan renungan, seorang guru harus peka dan bijaksana menjelaskan sejarah Perang Salib, bom Bali, konflik antarpemeluk agama di Maluku, terorisme, dan sebagainya. Jangan sampai ada ketersinggungan sekecil apapun karena kecerobohan ungkapan guru. Sekecil apapun singgungan tentang agama akan membekas dalam benak siswa yang akan dibawanya sampai dewasa.

2.    Menghargai keragaman bahasa di sekolah

Dalam suatu sekolah bisa terdiri dari guru, tenaga kependidikan, dan siswa yang berasal dari berbagai wilayah dengan keragaman bahasa, dialek, dan logat bicara. Meski ada bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar formal di sekolah, namun logat atau gaya bicara selalu saja muncul dalam setiap ungkapan bahasa, baik lisan maupun tulisan.

Sekolah perlu memiliki peraturan yang mengakomodasi penghargaan terhadap perbedaan bahasa. Guru serta warga sekolah yang lain tidak boleh mengungkapkan rasa ”geli” atau ”aneh” ketika mendengarkan atau membaca ungkapan bahasa yang berbeda dari kebiasaannya. Semua harus bersikap apresiatif dan akomodatif terhadap perbedaan-perbedaan itu. Perbedaan yang ada seharusnya menyadarkan kita bahwa kita sangat kaya budaya, mempunyai teman-teman yang unik dan menyenangkan, serta dapat bertukar pengetahuan berbahasa agar kita semakin kaya  wawasan.

3.    Membangun sikap sensitif gender di sekolah

”Dasar perempuan, cerewet dan bisanya menangis!”. ”Mentang-mentang cowok, jangan sok kuasa ngatur-ngatur di kelas ya!”. ”Syarat pengurus ekstrakurikuler adalah ketua harus cowok, sekretarisnya cewek, seksi perlengkapan cowok, seksi konsumsi cewek, ….”. Contoh ungkapan-ungkapan itu harus dihapus dari benak dan kebiasaan guru, siswa, dan warga sekolah yang lain.

Pembagian tugas, penyebutan contoh-contoh nama tokoh, dan sebagainya harus proporsional antara laki-laki dan perempuan. Tak ada yang lebih dominan atau sebaliknya minoritas antara gender laki-laki dan perempuan. Dengan tetap mempertimbangkan nilai-nilai kodrati, penerapan gender dalam fungsi-fungsi pembelajaran di sekolah harus proporsional karena setiap siswa laki-laki dan perempuan memiliki potensi masing-masing. Perempuan jadi pemimpin, laki-laki mengurusi konsumsi, atau yang lain saat ini bukan sesuatu yang tabu. Biarlah siswa mengembangkan potensinya dengan baik tanpa bayang-bayang persaingan gender. Siapa yang berpotensi biarlah dia yang berprestasi. Berilah reward pada pada siapapun dengan gender apapun yang mampu berprestasi, sebaliknya beri punishment yang tegas mendidik terhadap sikap, ucapan, dan perilaku yang menyinggung perbedaan gender.

4.   Membangun pemahaman kritis dan empati terhadap ketidakadilan serta perbedaan sosial

Pelayanan pendidikan dan penegakan peraturan sekolah tidak boleh mempertimbangkan status sosial siswa. Baurkan siswa dari beragam status sosial dalam kelompok dan kelas untuk berinteraksi normal di sekolah. Meskipun begitu, guru dan siswa harus tetap memahami perbedaan sosial yang ada di antara teman-temannya. Pemahaman ini bukan untuk menciptakan perbedaan, sikap lebih tinggi dari yang lain, atau sikap rendah diri bagi yang kurang, namun untuk menanamkan sikap syukur atas apapun yang dimiliki. Selanjutnya dikembangkan kepedulian untuk tidak saling merendahkan namun saling mendukung menurut kemampuan masing-masing. Sikap empati dan saling membantu tidak hanya ditanamkan di lingkungan sekolah saja. Suatu waktu siswa bisa diajak berkegiatan sosial di luar sekolah seperti di panti asuhan, panti jompo, dan sebagainya. Atau bila ada musibah di antara warga sekolah atau daerah lain siswa diajak berdoa dan memberikan sumbangan. Sekecil apapun doa, ucapan simpati, jabat tangan, pelukan, atau bantuan material akan sangat bermakna bagi pembentukan karakter siswa juga siapapun yang menjadi obyek empati.

5.    Membangun sikap antideskriminasi etnis

Sekolah bisa jadi menjadi Indonesia mini atau dunia mini, dimana berbagai etnis menuntut ilmu bersama di sekolah. Di sekolah bisa jadi suatu etnis mayoritas terhadap etnis lainnya. Tapi perlu dipahami, di sekolah lain etnis yang semula  mayoritas bisa jadi menjadi minoritas. Hindari sikap negatif terhadap etnis yang berbeda. Sebagai misal ungkapan seperti ini, ”Dasar Batak, ngeyel dan galak”, ”Heh si Aceh ya, slamat ya terhindar dari Tsunami”, ”Halo Papua Kritam (kriting dan hitam)”, ”Ssst, jangan dekat dengan orang Dayak, nanti dimakan lho”.

Tanamkan dan biasakan pergaulan yang positif. Pahamkan bahwa inilah Indonesia yang hebat, warganya beraneka ragam suku atau etnis, bahasa, tradisi namun bisa bersatu karena sama-sama berbahasa Indonesia dan bangga menjadi bangsa Indonesia. Bila bertemu saling bertegur sapa, ”Halo Tigor, senang bertemu denganmu, kapan ya saya bisa berkunjung ke Danau Toba yang indah”, ”Wah, pemain bola dari Papua hebat-hebat ya, ada Eduard Ivakdalam, Emanuel Wanggai, Elly Eboy, dan lainnya. Suatu saat kamu bisa seperti mereka”. Ciptakan kultur dan kehidupan sekolah yang Bhinneka Tunggal Ika dengan interaksi dan komunikasi yang positif.

6.    Menghargai perbedaan kemampuan

Sekolah tidak semua siswanya berkemampuan sama atau standar. Dalam psikologi sosial dikenal istilah disability, artinya terdapat sebuah kondisi fisik dan mental yang membuat seseorang kesulitan mengerjakan sesuatu yang mana orang kebanyakan dapat mengerjakannya dengan mudah. Dalam orientasi awal masuk dan pengamatan proses guru dan siswa dapat saling memahami kelebihan dan kelemahan masing-masing. Karena siswa sudah menjadi bagian warga sekolah, maka jangan sampai sikap, ucapan, dan perilaku yang meremehkan atau mentertawakan kelemahan yang sudah dipahami. Hal itu sangat berdampak negatif, baik bagi siswa yang unggul maupun siswa yang lemah. Yang unggul akan merasa  jumawa dengan keunggulannya sehingga bisa membuatnya lalai dan tidak berprestasi optimal. Bagi siswa yang lemah akan menjadi tidak termotivasi belajar dan merasa terkucilkan. Sebaiknya dibiasakan  pembauran siswa unggul dan lemah dalam kelompok atau kelas agar terjadi pembimbingan sebaya, yang unggul semakin kuat pemahamannya tentang suatu materi dan merasa bermanfaat dengan ilmunya, serta yang kurang memperoleh guru sebaya yang lebih komunikatif dan merasa diterima oleh teman-temannya.

7.    Menghargai perbedaan umur

Setiap individu siswa mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan kejiwaannya sesuai pertambahan umurnya. Guru harus memahami ini, terutama tentang karakteristik psikologis dan tingkat kemampuan sesuai umurnya. Sebagai misal kemampuan berbahasa, analisis masalah, berkarya siswa SMP kelas VII akan berbeda dengan kelas IX, apalagi dibandingkan dengan siswa SMA, mahasiswa atau gurunya. Selain itu jangan sampai ada deskriminasi, sikap, ucapan, dan perilaku negatif diantara warga sekolah dengan sebutan dominasi senior atas yunior, pelecehan berdasar perbedaan ukuran fisik, kata sebutan atau panggilan yang tidak disukai (misal ”si Unyil” untuk siswa bertubuh kecil, ”bayi ajaib” untuk siswa berusia lebih muda tapi pintar, ”tuyul” untuk adik kelas yang berkepala gundul, dan sebagainya). Seharusnya yang lebih tua memberi tauladan, memberi motivasi, memberi kepercayaan, demokratis, membimbing, mengasuh, dan melindungi yang lebih muda. Yang muda menghormati, sopan santun, menauladani kebaikan, dan membantu yang lebih tua.

Menyikapi kondisi sekolah sebagai ”dunia” multikultural, pengambil kebijakan dan warga sekolah harus mengubah paradigma dan sistem sekolah menjadi paradigma dan sistem sekolah yang multikultural. Secara serentak atau bertahap harus disusun kembali sistem, peraturan, kurikulum, perangkat-perangkat pembelajaran, dan lingkungan fisik atau sarana prasarana sekolah yang berbasis multikultural berdasarkan kesepakatan warga sekolah. Selanjutnya yang terpenting adalah secara kontinyu dilakukan orientasi kepada warga sekolah terutama warga baru, sosialisasi, tauladan guru dan kakak kelas, pembiasaan kultur sikap dan perilaku multikultural, serta pemberian reward dan punishment tentang pelaksanaan kultur sekolah dengan konsisten.

Rohidi (2002) menegaskan bahwa pendidikan dengan pendekatan multikultural  sangat tepat diterapkan di Indonesia untuk pembentukan karakter generasi bangsa yang kokoh berdasar pengakuan keragaman. Kemudian dalam penerapannya harus luwes, bertahap, dan tidak indoktriner menyesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah. Pendekatan multikulturalisme erat dengan nilai-nilai dan pembiasaan sehingga perlu wawasan dan pemahaman yang mendalam untuk diterapkan dalam pembelajaran, tauladan, maupun perilaku harian yang mampu mengembangkan kepekaan rasa, apresiasi positif, dan daya kreatif. Kompetensi guru menjadi sangat penting sebagai motor pendidikan dengan pendekatan multikulural. (Penulis adalah Guru Seni Budaya di Sekolah Nasima)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: