Oleh: majalah merah putih | Januari 3, 2010

Indahnya Blue Corral di Taman Bawah Laut Gili Trawangan

J.A.L.A.N.-.J.A.L.A.N.

Indahnya Blue Corral di Taman Bawah Laut Gili Trawangan

Siang yang cukup menyengat ketika kami menapaki areal Pelabuhan Padang Bai, Bali. Perjalanan darat hampir 24 jam Semarang – Padang Bai Bali membuat kami merasa sangat lelah. Namun sedikit banyak rasa lelah itu terbayar oleh keindahan alam yang sangat mempesona. Rute perjalanan kami memang sedikit berbeda dari perjalanan ke Bali sebelumnya yang biasa ditempuh bus umum atau biro pariwisata. Rute saya kali ini  sedikit menantang: Gilimanuk-Singaraja-Buleleng-Kubu-Padang Bai. Dan ternyata benar, ada banyak kejutan sepanjang jalur utara Bali itu dan yang pasti keindahan alamnya yang masih perawan..

Selepas Gilimanuk, kami melintasi jalan sepanjang Taman Nasional yang dihuni banyak kera. Keluar dari kawasan hutan tersebut, pemandangan yang menakjubkan terhampar di kanan dan kiri jalan. Pada sisi kanan, panorama Gunung Agung yang elok tanpa kabut, karena saat itu cuaca begitu cerah. Pada sisi kiri, mata kami menikmati tepian laut Bali, yang berombak sedang dan sangat bersih. Rasanya tidak mungkin kami menjumpai pantai sebersih itu di sepanjang Laut Jawa.

Dengan bekal travel map, kami terus-menerus membaca peta dan mengarahkan sopir mengenai rute yang harus ditempuh. Akhirnya, setelah sempat nyasar atau lebih tepatnya kebablasan di Gowa Lawah -Lokasi wisata Gua di Bali yang dihuni banyak kelelawar, 5 km dari belokan menuju penyeberangan Padang Bai- kami sudah siap menyeberang ke Lombok.

Semula kami mengira menyeberangi Selat Lombok hanya memakan waktu sekitar 2 jam. Tapi ternyata perjalanan memakan waktu tak kurang dari 5 jam. Menurut para penyeberang yang biasa melintas, ombak Selat Lombok belakangan ini memang sangat deras sehingga memengaruhi laju kapal. Tapi perjalanan tetap bisa dinikmati, lautan yang biru bersih dengan pulau-pulau kecil acap terlihat di sekitarnya.

Senja di salah satu pantai di Pulau Lombok

Menjelang senja, kami tiba di Pelabuhan Lembar, Lombok. Langit masih terang, namun panas matahari sudah luruh. Suasana lain mulai terasa. Kontras dengan suasana di Bali yang jarang terjumpai masjid karena memang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Begitu memasuki Kota Lombok, sepanjang perjalanan bisa kami jumpai banyak masjid, maka pantaslah kalau kota tersebut dijuluki sebagai kota seribu masjid.

Setelah bermalam di jantung Kota Mataram, pagi hari kami siap mengunjungi kawasan Pantai Senggigi. Sepanjang perjalanan menyusuri Laut Lombok dan Pantai Senggigi adalah pemandangan yang sungguh-sungguh cantik. Jalanan yang rata menyusuri tepian pantai yang landai sesekali menemui tanjakan kecil. Kalau Bali punya Tanah Lot, Kuta dan Sanur, Lombok memiliki semua pesona keindahan pantai dan pemandangan bawah laut yang jauh melebihi itu. Pantai yang teramat bersih, sampai-sampai warna dasar laut terlihat sangat jelas, ombak yang landai, dan terkadang berpadu dengan tebing-tebing hijau yang sangat elok. Memasuki kawasan wisata Pantai Senggigi, banyak dijumpai pendukung pariwisata berupa hotel bertaraf internasional, restoran, kafe, klub diving dan snorkling, dan fasilitas-fasilitas telekomunikasi.

Gugus Pulau

Bagi Anda penggemar wisata bahari, tempat ini adalah surga kecil yang lengkap dengan berbagai atraksi yang memuaskan. Apalagi, jika kita mau menyeberang ke beberapa pulau kecil di sekitarnya. Yakni gugus tiga pulau kecil atau Gili yang terletak di ujung utara Pulau Lombok Barat yaitu: Gili Aer, Gili Meno dan Gili Trawangan.

Untuk sampai di salah satu gili tersebut, dari Kota Mataram kami menuju Pemenangan kurang lebih 30 km atau lebih kurang 30 menit. Tiba di Bangsal, kami menyewa dokar ke pelabuhan penyeberangan. Dari situ tersedia speed boat atau perahu dengan ongkos yang relatif terjangkau karena masih bisa bernegosiasi dengan pemiliknya. Bahkan kita bisa mendapatkan ongkos yang lebih murah lagi jika kita menyeberang dalam rombongan. Untuk rombongan, tarifnya sebesar Rp 80 ribu, sedangkan perorangan Rp 15.000. Namun, bila menggunakan perahu yang tarifnya lebih murah, yakni hanya Rp 5 ribu per orang.
Kami memutuskan untuk mengunjungi Gili Trawangan, salah satu gugus pulau yang sangat populer di mata turis mancanegara. Setelah menyeberang selama 25 menit, sampailah kami di kawasan pantai berpasir putih. Beberapa orang turis asing tampak sedang bercengkerama sambil mandi matahari.
Di situ, kami menikmati deretan koral biru (blue coral) yang langka dan indah. Gugus karang itu terletak di sisi timur Gili Trawangan. Kawasan tersebut adalah taman bunga karang yang dipenuhi berbagai jenis karang, bentuknya ada yang seperti corong, berderet seperti pohon kaktus atau bentuk lainnya. Di area tersebut juga dijumpai ikan hias beraneka ragam. Jenisnya beragam bergantung dengan musim. Salah satunya ikan napoleon, yang bisa dijumpai pada sekitar bulan Mei-Juni dan amat digemari wisatawan Jepang. Selain itu terdapat pula ikan kerapu, kura-kura, manta (pari), dan banyak lagi ikan jenis lainnya.
Tak perlu susah-payah untuk menikmati itu semua. Anda hanya perlu sedikit keberanian berenang di tiga atau empat meter dari bibir pantai. Anda juga bisa menyewa peralatan sederhana berupa masker dan “kaki katak” dengan ongkos Rp 10 ribu agar bisa leluasa menikmati pemandangan “akuarium raksasa”. Betapa indahnya. Tak heran kalau kalangan pariwisata setempat berani menglaim hanya ada dua karang biru yang indah di dunia, yakni di Lautan Karibia dan di Lombok, di laut sekitar tiga gili itu.
Selain pesona koral biru, ketiga pulau berpantai indah dan berlaut biru itu juga menjadi pilihan utama untuk scuba diving, snorkeling dan memancing. Umumnya kegiatan itu dilakukan oleh turis-turis dari Eropa, Amerika dan Australia. Mereka sangat gampang dijumpai bergerombol di bibir pantai, membaca buku sambil bermandi sinar matahari setelah puas ber-diving, snorkeling atau hanya sekadar berenang. Pantai yang landai berpasir putih dengan arealnya yang luas, membuat atraksi wisata bahari semakin menyenangkan.
Di luar itu, sebagaimana di Tanah Lot Bali, panorama sunset yang tak kalah menakjubkan juga bisa kita nikmati dari pinggir Pantai Gili Trawangan. Suasana syahdu bahkan lebih terasa karena di sini tidak seramai Tanah Lot.

Rasanya tak cukup waktu sehari untuk memuaskan dahaga akan pesona pulau ini. Untuk menyusuri sepanjang garis pantai pulau ini kita juga bisa menyewa cidomo (cikar-dokar-motor), alat transportasi khas Lombok yang mirip dokar tapi menggunakan ban mobil. Dari atas cikar kita bisa melihat kebun-kebun kelapa milik penduduk atau sapi-sapi yang tengah memakan rumput. Deburan ombak dengan pemandangan yang mempesona melupakan kita dari hirup pikuk kota.
Bagi Anda yang sudah mahir scuba diving, Anda bisa langsung menyewa peralatan dari salah satu tempat penyewaan yang banyak membuka kiosnya di pinggir-pinggir pantai. Tarifnya antara US $ 20-25, dan Anda bisa menggunakan sepuasnya tanpa dibatasi waktu. Sedangkan bagi pemula, Anda bisa kursus kilat selama empat hari, dengan tarif kursus sekitar US $ 295 per orang, dan di dampingi instruktur berpengalaman. Caranya, penyelam pemula diajak ke tengah taman laut dengan boat, kemudian dengan panduan instruktur, ia dapat mulai menikmati indahnya taman laut dengan jalan mengikuti arus sampai pada tempat tertentu hingga ke tempat boat yang akan menjemputnya.
Bagi Anda yang ingin melihat ikan hiu, Anda bisa melihatnya di kawasan utara Gili Trawangan. Anda bisa melihat ikan hiu yang tidak membahayakan. Rumah ikan hiu ini bisa dilihat pada kedalaman 80 kaki. Di rumah itu, biasanya dihuni sekitar delapan ekor ikan hiu yang sedang tidur.
Soal makan dan bermalam, Anda tidak perlu khawatir. Karena di Gili Trawangan ini tersedia fasilitas resto yang menyediakan bermacam-macam sajian, masakan khas Indonesia, Eropa, Jepang, dan China. Juga banyak fasiltas penginapan dengan tarifnya cukup murah berkisar Rp 30 ribu – Rp100 ribu per malam.
Puas menikmati tiap sudut Gili Trawangan, jika masih cukup tenaga Anda bisa melanjutkan perjalanan bahari di dua Gili lainnya, yakni Gili Meno dan Gili Air dengan jarak tempuh kurang lebih 30 menit dari Gili Trawangan. Di Gili Nemo, pulau terkecil dengan jumlah penghuni paling sedikit di antara penduduk di gili yang berada di Selat Lombok, Anda akan menemui banyak pasangan menghabiskan bulan madu. Apalagi memang pulau tersebut sangat sepi dan memiliki keindahan yang masih perawan. Di tempat itu ada Taman Burung Gili Meno yang menjadi habitat banyak spesies burung dari banyak negara. Taman tersebut memang didesain sedemikian rupa sehingga unggas-unggas yang didatangkan dari Australia, Thailand, Malaysia, bahkan Brasil, dapat terbang lepas di sangkar alam. Kita pun dapat melihat bahkan membelai dari dekat. Anda juga bisa memberi makan burung kakatua, kasuari raja, dan rangkok dari Papua. Pengelola taman menyediakan tahu dan tempe untuk santapan ketiga jenis burung tersebut.(Taryadi )


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: