Oleh: majalah merah putih | Januari 3, 2010

MARKUS DI DUNIA PERADILAN NEGERI KITA

MARKUS DI DUNIA PERADILAN NEGERI KITA

Markus (makelar kasus) selama ini cukup lazim dalam praktik hukum di Indonesia. Dia adalah oknum yang amat cerdik “mengatur” alur peradilan. Status tersangka bisa berubah saksi, hukuman berat berubah jadi lebih ringan, dan sebagainya, bahkan bisa memilihkan ruang tahanan yang nyaman bagi terpidana. Istilah ini ada hampir di seluruh lembaga penegak hukum. Tak terkecuali markus diduga juga menjamah tubuh KPK. Kini ada momentum membombardir markus di KPK, juga di kepolisian dan kejaksaan. Fenomena yang ada sekarang ini mencitrakan bahwa kepemimpinan di lembaga-lembaga pemerintahan belum amanah mengemban tugas dan kewajiban yang telah diberikan. Nah..bagaimana dengan teman-teman kita menanggapi hal tersebut…berikut beberapa pendapat mereka …

M. Ammar Ramadhan, 6A SD Nasima

Adanya dugaan “markus” di KPK, kepolisian, dan kejaksaan menyebabkan masyarakat menjadi tidak percaya dengan lembaga peradilan dan pemerintahan. Agar kepercayaan masyarakat dapat pulih kembali, sebaiknya seorang pemimpin yang terpilih tidak mengkhianati bangsa dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Ketiganya adalah indikasi dari pengkhianatan amanat rakyat. Seorang pemimpin yang terpilih harus amanah yaitu dapat dipercaya dan menjalankan kewajibannya dengan baik.

Arum Dian, 6B SD Nasima

Markus di tubuh KPK berkaitan dengan korupsi, dimana hal ini juga menyeret nama Bibit-Chandra yang merupakan ketua non aktif di KPK. Entah benar atau salah, rasanya sedih sekali menyaksikan pemimpin-pemimpin negeri ini menjadi tidak jujur. Padahal seharusnya seorang pemimpin yang baik adalah seorang pemimpin yang mampu menyejahterakan rakyatnya, seorang yang amanah (dapat dipercaya), dan seorang yang dapat memberantas praktek korupsi yang jelas sangat merugikan uang negara dan rakyat pada khususnya. Harapan ke depan untuk negeri ini adalah semoga pemimpin-pemimpin yang terpilih kelak dapat menjadi panutan bagi rakyat Indonesia baik perilaku, perkataan, sikap maupun kepemimpinannya. Semoga tidak ada lagi MARKUS di lembaga peradilan kita.

Arynal Haq (Kelas IX-C SMP Nasima)

Sesungguhnya penegak hukum yang paling sempurna hanyalah Allah Sang Maha Adil. Saat ini Negara kita tengah diuji oleh berbagai kasus, mulai dari para pejabat yang sudah tidak punya akal sehat, perseteruan KPK dengan Polri sampai dengan munculnya istilah Markus atau makelar Kasus.

Sebenarnya sudah lama penegakan hukum di Indonesia mengalami kekacauan. Para penegak hukum terjebak dalam perangkap para makaelar kasus yang berujung pada perseteruan antar penegak hukum. Dalam hal ini KPK melawan Polri dan kejaksaan Agung. Mereka seperti anak-anak kecil yang tidak mau mengalah. Semua itu disebabkan oleh sikap egois pada diri masing-masing lembaga.

Eldo Dea L (Kelas IX-C SMP Nasima)

Menurut saya para penegakan hukum di Indonesia telah kacau balau. Bagaimana tidak suatu perkara bisa diatur oleh para makelar kasus. Artinya hukum dan keadilan dapat dibeli dengan sejumlah uang oleh orang-orang yang terlibat kejahatan, baik kriminal maupun pidana korupsi. Lihatlah apa yang terjadi dalam kasus KPK dan Polri. Mereka seperti sedang saling beradu kebenaran, sementara makalar kasus yang jelas-jelas bersalah melenggang tanpa ada yang berani menyentuh.

Sementara itu para pelaku kejahatan kecil seperti Ibu Minah di Purwokerto harus merasakan hukuman, para koruptor yang mencuri uang Negara milyaran bebas tak tersentuh hukum dengan lobi para markus yang bias mengatur perkara. Maka sangat layak apabila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertekad memberantas Markus dan mafia hukum yang tengah menggerogoti dunia peradilan kita.

Nurul Husna Oktami (Kelas X2 SMA Nasima)

Makelar kasus di dunia peradilan sebenarnya sudah ada sejak lama. Mereka adalah orang-orang yang selalu berupaya mempengaruhi para penegak hukum agar memberi keputusan yang sesuai dengan kepentingannya dengan imbalan sejumlah uang.

Tumbuh suburnya markus atau makelar kasus disebabkan oleh rendahnya mentalitas para penegak hukum, mulai dari oknum pengacara, polisi, jaksa dan hakim. Mereka mudah sekali disuap sehingga banyak orang yang melakukan tindak pidana luput dari jerat hukum. Maka jangan heran kalau masyarakat sampai apatis kalo sudah berurusan dengan hukum. Bahkan muncul istilah, KUHP sebagai kasih uang habis perkara.

Maka saya sangat setuju dengan program 100 hari presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memasukan berantas Markus dan mafia peradilan dalam program kerjanya. Dengan cara itu penegakan hukum di Indonesia bias dibenahi untuk menciptakan Indonesia yang bersih.

Rizka Berliana Saputri (Kelas VIII-C SMP Nasima)

Makrus atau makelar kasus merupakan orang yang menjadi perantara dalam penyelesaian kasus hukum antara orang yang berperkara dengan aparat hukum seperti kepolisian, jaksa maupun hakim. Cara kerja markus biasanya diam-diam dengan cara menyuap para penegak hukum agar suatu kasus hukum dapat diatur keputusannya. Maka tidak heran apabila banyak kasus hukum terutama kasus korupsi tidak dihukum dengan setimpal dipengadilan, atau bahkan tidak pernah diadili sama sekali. Jelas hal ini bertentangan dengan rasa keadilan masyarakat. Bagaimana mungkin pelaku korupsi yang merugikan uang rakyat milyaran rupiah lepas dari jerat hukum, sementara maling ayam seharga belasn ribu rupiah harus merasakan dinginnya ruang penjara? Ironis dan itulah yang terjadi di dunia hukum Indonesia.

Pantas apabila banyak pihak geram dan marah dengan prilaku markus ini. Dan mendorong agar segera dilakukan reformasi ditingkat penegak hukum dengan segera, agar markus dan mafia peradilan di Indonesia dapat diberantas tuntas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: