Oleh: majalah merah putih | Januari 3, 2010

Prof. Dr. H. Amin Syukur, MA. TIRAKATAN DI MALAM 1 MUHARRAM

Salam Pak Haji

Tanya Jawab Aktual terkait Dunia Keagamaan

Bersama

Prof. Dr. H. Amin Syukur, MA.

TIRAKATAN  DI MALAM 1 MUHARRAM

Tanya:

Assalamu’alakum wr wb. Mohon tanggapan tentang tradisi, ketika tahun baru hijrah (malam tanggal 1 Muharram) dengan melakukan ‘tirakatan’, yang selanjutnya menjadi tradisi masyarakat Jawa,  kemudian disusul dengan doa akhir tahun dan awal tahun. Kemudian lagi kalau bulan Suro orang Jawa sama tidak akan melaksanakan akad nikah dan upacara lainnya. Wassalamu’alaikum wr wb. (H. Soepardjo, orang tua siswa di Pendrikan Kidul)

Jawab:

Wassalamu’alaikum wr wb. Pertanyaan Anda dapat dikelompokkan menjadi: 1. Arti ”tirakatan,”   2. Doa akhir dan awal tahun, 3. Tidak mau punya gawe pada bulan Muharram (Jawa: Suro). Mengenai ‘tirakatan’. Kata ini berasal dari bahasa Arab: taroka, yatruku, tarakan-tirakatan (telah meninggalkan, sedang/ akan meninggalkan, tinggalan). Kata ini berubah menjadi bahasa Indonesia/Jawa: ‘Tirakatan’.

Pada malam Muharram ataupun disebut malam Suro, di berbagai tempat misalnya di kelurahan, kecamatan, kabupaten/ kota senantiasa melaksanakannya dengan caranya masing-masing. Ada yang membaca Alquran, berzanji bersama-sama, manaqib (sejarah) Syekh Abdul Qadir al-Jailani, bahkan ada yang kungkum di sungai, mencuci keris, mencuci kereta Kencana dan sebagainya dengan niat dan tujuannya masing-masing.

Tirakat dalam dunia tasawuf disebut juga suluk (laku), yaitu melakukan sesuatu untuk menjernihkan hati dengan tujuan memperoleh ma’rifatullah (mengenal Allah). Caranya dengan mengurangi makan, tidur dan bicara. Dua di antara tiga pengurangan tadi, yakni makan dan tidur merupakan satu paket, sebab orang yang banyak makan biasanya banyak tidur. Oleh karena itu dalam laku tarekat biasanya kedua hal tersebut harus dihindari.

Sedang sedikit bicara pun sangat dianjurkan karena orang yang banyak bicara, akan banyak pula salah dan dosanya. Oleh karena itu shahabat Abu Bakar al-Shiddiq, pernah ngemut batu (Jawa) karena takut bicara yang berlebih-lebihan, lebih-lebih setelah mendengar sabda Nabi Muhammad saw: Qul khairan au liyashmut (bicara yang baik, kalau tidak bisa, lebih baik diam).

Dalam konteks inilah, maka orang Jawa membuat acara ‘tirakatan’, yakni meninggalkan dalam arti mengurangi, tidak sebaliknya, tirakatan tetapi justru pesta dan makan-makan. Namun itu tidak bisa disalahkan, karena sudah menjadi istilah dalam bahasa Jawa.

Mandi kungkum, mencuci keris dan kereta Kencana, adalah visualisasi membersihkan hati. Membersihkan hati dilambangkan dengan perbuatan seperti tadi, kadang-kadang kita hanya bisa menangkap makna lahir, tanpa dibarengi dengan menangkap makna batin. Jika demikian, kita hanya bisa memperoleh kulit luarnya saja., tanpa  bisa menangkap makna yang terdalam daripada gerakan-gerakan fisik tersebut.

Biasanya pada acara tersebut, diadakan doa akhir dan awal tahun. Pada kesempatan ini hendaknya sama-sama muhasabah (introspeksi diri), apa kesalahan dan dosa yang pernah diperbuat, baik kesalahan dan dosa kepada Allah ataupun kepada sesama manusia.

Apabila kita merasakan dosa yang kita lakukan, maka rasanya tak layak dan tak pantas kiranya kita menghuni sorga Tuhan. Namun kalau kita memperhatikan alangkah panasnya api neraka, terus terang kami tidak mampu menanggungnya, maka jalan satu-satunya ialah memohon ampunan Tuhan, sebagaimana syair yang pernah diucapkan oleh Abu Nawas yang sangat terkenal.

Kemudian pertanyaan ketiga, larangan punya gawe pada bulan Muharram atau Suro, adalah perbuatan yang tidak punya dasar. Artinya perbuatan sekedar gugon tuhon, perbuatan yang jare-jare (kata orang). Pada hari apa pun, bulan apa pun dan tahun apa pun tidak ada larangan untuk melakukan suatu perbuatan termasuk punya hajat, seperti menikahkan, menyunatkan dan sebagainya.

Pada prinsipnya dalam agama Islam semua hari, bulan dan tahun adalah baik. Semuanya adalah makhluk Allah, mereka tidak bisa membawa bahaya dan manfaat apa pun kecuali seijin-Nya. Nabi Muhammad saw bersabda: ”La tasubbud dahra, fainnallaha huwad dahru” (Jangan memaki-maki masa, sebab Allah itu adalah ”masa” itu sendiri). Artinya ia adalah makhluk ciptaan-Nya. Yakinlah dengan keyakinan yang tangguh, tanpa sedikit pun diwarnai keragu-raguan. Kalau seseorang ragu, maka atas keraguan itulah ketentuan Allah akan menimpanya, karena Allah itu ”mengikuti” persepsi hamba-Nya.

Sejarah bagaimana bisa demikian, konon dahulu kala ada seorang raja yang ingin mempunyai hajat, menikahkan atau mengkhitankan anaknya, agar hajatan sang raja ini tidak terganggu, maka dikeluarkan semacam dogma yang bisa mempengaruhi kepercayaan seseorang. Yakni: ”Barangsiapa yang melakukan hajatan pada bulan Sura, akan mendapatkan musibah”. Bermula dari sini, maka umumnya masyarakat Jawa tidak mau mempunyai hajat pada bulan ini. Wallahu a’lam bi al-shawab.

MEMAKAI JILBAB

Tanya:

Asalamu’alaikum wr. wb. Prof. Amin Syukur Yth., bagaimana hukumnya anak perempuan SMA tidak berjilbab? Bolehkah? (Vina Karina, SMA Sultan Agung)

Jawab:

Wa’alaikum salam wr wb. Ananda Vina, pertanyaan Anda bagus sekali. Naah dalam kaitannya dengan keharusan mengenakan jilbab, ada dasar normatifnya dalam surah al-Ahzab/ 33 ayat 59 yang intinya agar isteri Nabi saw. dan wanita Mukminah (orang-orang mukmin perempuan) harus memakai jilbab agar mudah dikenali, dan agar mereka tidak diganggu orang lain.

Dan dalam surah Alnur/ 30 ayat 31, hendaknya Muslimah memejamkan mata dan memelihara kemaluannya. Hendaknya menutup kain kerudung ke dadanya dan tidak menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya dan kecuali kepada suami atau muhrim (orang-orang yang haram dinikahi) serta tidak boleh menghentakkan kakinya sekedar untuk menampakkan perhiasannya.

Ibn katsir telah panjang lebar menceritakan mengenai ayat tersebut, khususnya al-Ahzab, seperti  pendapat Ibn Abbas bahwa bila keluar rumah isteri-isteri Nabi, anak-anak dan wanita-wanita Muslimah, agar memakai jilbab, bahkan menurut Ubaidah Alsulami harus menutup muka dan kepala, bahkan menutup mata kanannya. Hal ini untuk membedakan antara hamba sahaya dengan wanita merdeka.

Kewajiban memakai jilbab bagi wanita Muslimah, karena jika tidak memakainya, dihawatirkan akan menimbulkan fitnah. Sebagaimana satu riwayat menyatakan bahwa penduduk Madinah sama keluar dalam kegelapan malam, mereka sama mengambil kesempatan. Ketika mereka melihat wanita memakai jilbab, maka diketahui ia adalah wanita Muslimah, wanita terhormat, namun apabila melihat ada wanita yang tidak memakainya, maka diketahui bahwa ia adalah budak (hamba sahaya), mereka berlarian untuk mendekatinya. Dengan demikian dapat diketaui bahwa jilbab adalah identitas Muslimah dan wanita terhormat.

Jika demikian halnya, maka ada sebagian ulama yang berpegang pada kaidah Al’ibratu bi’umumillafdhi la bikhususissabab (ibarat itu diambil dari umumnya lafadh tidak diambil dari khususnya sebab adanya suatu hukum), dengan berpegang pada kaidah ini, maka bagi wanita Muslimah hukumnya wajib memakai jilbab.

Namun ada sebagian yang berpegang pada kaidah Al’ibratu bi’khususissabab la bi’umumillafdhi (ibarat itu mengikuti sebab adanya suatu hukum, tidak mengikuti umumnya lafadh), darui uraian tersebut, maka wanita Muslimah diperbolehkan menanggalkan jilbab, sepanjang berpakain rapi dan tidak membuka auratnya, dan hanya memperliatkan sebagian kecil daripadanya.

Dari sini, maka bisa diambil kesimpulan, bahwa memakai jilbab bagi wanita Muslimah yang sudah dewasa (berakal dan baligh), baik yang berstatus pelajar SMA maupun yang lainnya, hukumnya wajib. Namun mengingat Indonesia bukan sebagai negara Islam, maka memakainya adalah menunjukkan kesempurnaan iman dan islamnya, dan juga  sebagai identitas kepribadian wanita shalihah yang taat kepada agamanya.

Wallahu a’lam bish shawab. Demikian, semoga bermanfaat

.

ISTRI MENCARI NAFKAH,  SUAMI MENGASUH ANAK

Tanya:

Assalamu’alaikum wr. wb. Saya mau bertanya, bagaimana jika ada istri yang jabatan dan gajinya lebih menjanjikan atau lebih besar dari pada suaminya, kemudian meminta agar suaminya di rumah saja, mengasuh anak dan mengajar ngaji di TPQ saja? Sekian dan terima kasih. Wassalamum wr wb (Atun, seorang pendidik di Sendangmulyo)

Jawab:

Konstruksi hukum fiqih memang me-wajib-kan suami menafkahi istri dan keluarganya. Menafkahi di sini dalam arti mencukupi kebutuhan lahir dan batin bagi mereka, terutama kebutuhan pokok sandang, pangan dan papan. Konstruksi itu didasarkan pada pendapat para ulama, terutama para ulama fiqih ketika memaknai beberapa teks al-Qur’an dan al-Hadits. Dalil yang paling sering dikutip antara lain (Q.S. An-Nisa [4]: 34). Tidak hanya para ulama fiqih, ulama tafsir, ulama tasawuf, dan lain sebagainya, juga sepakat akan otoritas teks tersebut. Ibnu Katsir misalnya, seorang mufassir terkemuka, juga sepakat, dengan mengatakan bahwa kenabian dan kekuasaan hanya diberikan kepada kaum laki-laki.

Namun, setiap hukum fiqih yang dirumuskan oleh para ulama, selalu ada sesuatu yang bersifat pengecualian (istitsna’). Tak jauh berbeda dengan hukum wajib suami menafkahi istri dan keluarganya. Jika sang suami ”tidak mampu” melakukannya, maka demi menjaga keutuhan keluarga, istri diperbolehkan mencari nafkah bagi keluarganya.

Selain itu, jika dilihat dari hukum mahar (sebagai hak mutlak sang istri terhadap suaminya), karena suatu sebab, mahar boleh digunakan atau dipinjam oleh sang suami, baca Q.S. An-Nisa’ [4]: 4. Artinya, hak istri adalah diberi nafkah, kewajiban suami memberi nafkah, karena suatu sebab istri merelakannya, maka hal itu diberbolehkan. Apalagi realitas sosial-budaya kita saat ini, memberikan peluang yang sangat besar bagi kaum perempuan untuk berkarir, bahkan terkadang mampu menutup peluang bagi kaum laki-laki.

Sampai di sini, dapat disimpulkan bahwa istri boleh menafkahi suaminya dan dianggap sebagai hutang suami. Selanjutnya, bila suatu saat telah mampu, ia wajib membayarnya. Namanya juga hutang, kalau sudah ada maka harus dibayar, dalam arti tetap harus berusaha agar dapat melunasi hutang-hutang tersebut. Jika istri memberikannya dengan rela, maka tidak dianggap hutang, hal itu jauh lebih baik, dan dia mendapatkan dua pahala: pahala karena hubungan persahabatan dan pahala sedekah.

Mengenai istri meminta agar suami tinggal di rumah, mengasuh anak dan mengurus rumah tangga, hal itu sah-sah saja, asalkan dilakukan dengan cara yang baik. Cara yang baik dalam arti permintaan itu tidak dilakukan dengan cara memaksa, atau merendahkan harkat dan martabat suami. Bagaimanapun juga, kedudukan suami tetap lebih tinggi dalam keluarga, sebagai kepala keluarga.

Selain itu, mengasuh anak juga penting. Jangan sampai hanya karena persoalan ekonomi, membuat anak menjadi terlantar. Dari pada diberikan kepada pembantu, maka keberadaan dan kasih sayang seorang ayah akan lebih baik ketimbang orang lain.

Akan tetapi, jika alasannya karena nominal ekonomis belaka, hal itu sulit dibenarkan. Karena kita tidak boleh mengukur segala sesuatu dengan nominalnya saja. (Q.S. Ath-Thalaq [65]: 7). Jika itu yang menjadi alasan, maka bisa jadi sang istri akan termasuk orang-orang yang tidak bersyukur atas nikmat Allah, dan menyebabkannya menerima azab yang pedih (Q.S. Ibrahim [14]: 7).

Persoalannya kemudian, mampukah sang istri menjaga dan menahan dirinya dari berbagai godaan di luar sana yang demikian dahsyat? Mampukah sang suami bertahan dalam pandangan masyarakat yang terkadang miring? Jika ia, maka tidak ada salahnya sang suami menuruti istrinya agar sementara menggantikan beban dan tanggungjawab sang istri, sambil terus berusaha untuk menunaikan amanah sebagai kepala keluarga. Satu lagi, tentang mengajar mengaji. Ini bisa saja dilakukan, barangkali kita akan memperoleh berkah dari do’a anak-anak yang masih suci, untuk kemuliaan dan kebaikan kita selanjutnya. Siapa tahu dari situ terbuka jalan, bagi Allah untuk mengangkat harkat dan martabat kita sebagai kepala keluarga. Sebab, mereka lebih dekat kepada Allah. Allahu a’lam bish shawab


Responses

  1. bagus saya bisa ikut membaca forum tanya jawab, yang telah disampaikan oleh Bapak Dosenku Prof.DR. HM. Amin Syukur MA. pada Majalah Pendidikan Merah Putih, selanjutnya apakah hanya sebatas membaca yang ditampilkan ini saja atau bisa ikut bertanya terus dijawab oleh nara sumber dan pertanyaannya apakah dibatasi tentang figih saja atau bebas terimakasih

  2. Saya mau tany,tlong jwbanny krin ke email:kaefa@ymail.com

    Aslammualaikum,,,
    Saya punya istri tp krang kluarga istri saya minta diceraikn anakny…hanya karna anakny ga trima kena omelan ma kluarga saya.,tp
    Orang tuany bkan maksud mau ikut campur dlm rmah tangga saya…hany ingin istri saya nurut ma suami…emang istri saya slalu ga pernah ngehargain apa yg aq lakukan…contoh..istri saya sdang bersh dikntrakan trus saya liat ada cucian alat2 rumah tangga blum di cuci,lalu dgn ksadaran saya membantu cuci piring..stlah selesai bkanny ucapin trimaksih mlah ngucupin nyuci piring itu ga bersih2 smbil dicuci lg ma dia…trus aq bru plang kerja aq ucap slam dia kdang2 ga pernah jwb n klo aq ga nyerahin tangan saya dia ga pernah mau salam ma saya.,
    Saya mau tanya lg istri saya lebih menuruti omongan orangny ketimbang omongan saya sbg suaminy,,sdang omongan ortuny blum tentu baik untk dia n saya…?dan bla ortuny minta diceraikan trus istri saya sbnarny masih pengen ma saya tp dia jg ga mau dijauhi ma ortuny jd bingung pilih ikut suami atau nurut ma ortuny supaya pisah ma saya…mkash mohon pencerahanny mudah2an blum trlambat soalny saya jg ga mau perpisahan ini terjadi..

  3. Assalamu’alaikum wr. wb.

    maaf ,saya mau brtanya..di malam 1 muharram apakah boleh brpuasa..

    begitu aja pertanyaan saya…trimakasih

    (jefry,nginden,SURABAYA)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: