Oleh: majalah merah putih | Januari 23, 2010

EXOTIKA BOGOR

Sebuah undangan seminar nasional di kawasan puncak Bogor menjadi kejutan diakhir tahun ini. Bukan semata-mata materi seminar yang menarik, namun tantangan traveling pasca kegiatan pasti menjadi bagian tak terlupakan yang layak masuk dalam buku catatan perjalananku. Dan Bogor adalah sebuah kota indah, yang bahkan Sir Thomas Stamford Raffles Pendiri Singapura tak sungkan menyatakan cintanya pada kota sejuk ini dengan mendirikan monumen Tugu Lady Raffles“, sebuah bangunan yang didirikan untuk mengenang istrinya Olivia Mariamne yang meninggal pada tahun 1814. Pada bangunan yang terletak dipusat kota Bogor ini tergurat sebait kata puitis yang diungkapkan dalam bahasa Inggris klasik. “Oh thou Whom Neer My Constant Heart , One Moment Hath Forgot, Tho Fate Severe Hath Bid Us Part, Yet Still Forget Me Not. “Oh dikau yang selalu kuingat (dekat dihatiku), walaupun satu hal telah berlalu dan memisahkan kita, engkau akan selalu dalam ingatanku” kira-kira begitu terjemahan bebasnya.

Pagi yang basah, langitpun terlihat  tak terlalu cerah. Kota Bogor pada bulan desember selalu penuh dengan hujan. Sisa-sisa hujan semalam nampak menggenang pada beberapa bagian badan jalan. Pagi yang basah di Kota Bogor sekaligus menjadi pagi yang segar. Beberapa kelompok warga terlihat antusias menghirup nafas kota yang segar oleh rindang dedaunan. Lalu lalang kendaraan masih nampak serasi dalam ritme kota yang tengah menggeliat. Dari monument Tugu Lady Raffles dititik tengah pusat kota Bogor ku susuri jalanan yang mulai ramai kearah jalan Ir. H. Juanda. Tempat yang ku tuju adalah Istana Bogor, Kebun Raya dan Museum Zoologi. Ketiga bangunan itu berada dalam satu deret dan menjadi ikon kota ini.

Istana Bogor merupakan bangunan bersejarah yang menjadi saksi jatuh bangunnya bangsa ini. Mulai dipakai sebagai istana kepresidenan Republik Indonesia tahun 1950. Menurut sejarahnya, bangunan yang berdiri di tanah seluas 28,8 hektar ini difungsikan sebagai tempat tinggal Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Adalah Gubernur Jenderal GW Baron van Imhoff yang menemukan lokasi ini. Sebuah catatan menyebutkan, pada 10 Agustus 1744 Imhoff melakukan inspeksi ke Cianjur, Jawa Barat, dan kemudian menemukan tempat yang dianggap strategis dan cocok untuk beristirahat yakni Bogor.

Kemudian dibangunlah sebuah tempat peristirahatan yang gaya bangunannya meniru bangunan gedung Bleinheim Palace, rumah tinggal Duke of Malborough, di wilayah Oxford, Inggris. Tentu gaya bangunan yang kemudian terwujud belumlah semegah dan sebesar sekarang ini. Imhoff kemudian menamai duplikat Bleinheim Palace itu Buitenzorg atau San Souci yang artinya bebas masalah dan kesulitan. Tak sedikit Gubernur Jenderal yang menjabat setelah Imhoff kemudian mengadakan perubahan-perubahan bentuk bangunan. Begitu pula pada masa perang antara Indonesia lawan Belanda, banyak bagian Buitenzorg yang hancur dan kemudian diperbaiki.

Selain menambahkan bangunan, ada juga gubernur jenderal yang memperhatikan keindahan di luar bangunan. Herman Willem Daendels, pembangun jalan lintas pulau Jawa, antara Anyer sampai Panarukan, misalnya, malah mengupayakan adanya hewan-hewan liar yang akan dilepas di halaman pesanggrahan. Gubernur jenderal yang berkuasa antara tahun 1808-1811 itu mendatangkan 12 ekor atau enam pasang rusa yang berasal dari perbatasan India dan Nepal.Rusa-rusa ini kemudian dibiarkan lepas dan berkembang biak di lingkungan halaman istana. Kini rusa-rusa tersebut jumlahnya sudah mencapai 800-an.

Kebun Raya Bogor

Menyambangi kota Bogor tak kan lengkap jika tak bertandang ke Kebun raya Bogor. Sebuah kebun raksasa memiliki luas 87 hektar ini didirikan sejak tahun 1817 atas prakarsa dari Sir Stamford Raffles, seorang kebangsaan Inggris yang menjabat sebagai gubernur Jawa. Pada kebun ini tumbuh lebih dari 17.000 species termasuk jenis bunga anggrek yang langka  yang menjadi koleksi kebun raya Bogor. Hebatnya Pohon-pohon yang ada disini tidak hanya bersal dari dalam negeri saja tetapi banyak pula yang berasal dari luar negeri. Yang selalu menarik untuk disaksikan adalah saat berkembangnya bunga bangkai (Rafflesia Arnoldi). Bunga ini memang unik karena ukuran yang besar dan bila berbunga akan mengeluarkan bau busuk sehingga diberi nama bunga bangkai.

Disini kita dapat memandang kawasan hijau yang menenangkan yang jarang kita temui di kota-kota besar. Suara burung yang bernyanyi dapat pula kita dengarkan. Untuk menambah kecantikannya, terdapat pula kolam-kolam dengan pancuran air, sehingga kita dapat mendengar suara gemericik air. taman dekat kolam teratai yang merupakan tempat favorit bagi para keluarga untuk bermain dengan anak mereka. Ada pula jalan yang menyerupai koridor panjang dengan pohon-pohon besar di sisi kiri dan kanan. Kursi-kursi yang ada di antara pohon tersebut menjadi tempat yang nyaman setelah berjalan mengelilingi kawasan ini.

Museum Zoologi

Masih dalam kawasan Kebun Raya Bogor, terdapat Museum Zoologi tempat koleksi beragam fauna yang di-awetkan. Banyak pengetahuan yang didapat jika kita berkunjung ke museum yang awalnya berfungsi sebagai Laboratorium Zoologi untuk memberi wadah penelitian yang berkaitan dengan pertanian dan binatang hama ini.
Aha…saya tak kuasa menahan rasa kagum dengan koleksi jutaan spesimen yang terdiri dari puluhan ribu jenis fauna dari berbagai jenis. Diantaranya 650 jenis binatang mamalia (menyusui), 1100 jenis burung yang berasal berbagai wilayah di Indonesia, 600 jenis reptil dan ikan, moluska yang terdiri dari 2300 jenis, 10.000 jenis serangga serta 700 jenis invertebrate lainnya.

Menurut sejarah berdirinya museum ini merupakan gagasan dari Dr. JC Koningsberger, dia adalah seorang ahli botani yang sedang berkunjung ke Kota Bogor pada Agustus 1894. Pada saat itulah museum yang luasnya 402m2 ini mulai dibangun hingga selesai akhir Agustus 1901, lalu saat itu diberi nama Landbouw Zoologisch Museum.

Kemudian pada 1906 namanya berubah menjadi Zoologisch Museum. Empat tahun kemudian namanya berubah kembali menjadi Zoologisch Museum en Laboratorium. Setelah sempat tidak berkembang karena pergolakan politik dunia pada masa penjajahan Jepang, lalu museum ini berganti nama lagi menjadi Museum Zoologicum Bogoriense di antara tahun 1945-1947. Hingga kini nama tersebut terus digunakan, kemudian sering disebut Museum Zoologi Bogor.

Sebuah Masjid diKawasan Puncak Bogor

Jangan lewatkan Bogor dengan jalur puncaknya. Kawasan ini memiliki pemandangan yang sungguh  menawan. Pemandangan hijau yang terpampang dari hamparan kebun teh yang luas memanjakan mata kita untuk tak berkedip memandang. Kawasan ini sudah terkenal sejak dulu sebagai daerah penghasil teh utama di Jawa Barat.

Apabila anda tertarik dengan aneka satwa liar yang hidup selayaknya dihabitat asalnya, Taman Safari yang terletak di Cisarua, Puncak, Bogor ini merupakan tempat yang pas untuk dikunjungi. Lebih dari 2.500 jenis hewan seperti macan, singa, beruang amerika, zebra, panda, gajah dan berbagai macam hewan lagi, pada habitatnya yang natural, tidak seperti di kebun binatang seperti biasa. Hewan-hewan dibiarkan hidup lepas dan Anda dapat menyaksikan benar-benar dari jendela mobil Anda. Kawasan Taman Safari dilengkapi dengan Safari Garden Hotel, restoran, nah ditempat inilah saya menginap selama tiga hari di Kota Bogor. Sebuah hotel yang didesain dengan konsep unik dan alamiah, dengan latar belakang panorama gunung Pangrango yang anggun.

Menyusuri Puncak Pass menjadi terasa lengkap, ketika kita singgah di Masjid At-Ta’awun. Rumah ibadah yang teramat cantik dan penuh pesona ini terletak di tengah kebun teh pada ketinggian lebih dari 2000 meter diatas permukaan laut. Masjid ini selalu ramai disambangi para ‘musafir’ baik dari arah Bandung/Cianjur maupun dari arah Bogor/Jakarta. Masjid dua lantai ini sepertinya tak sekedar untuk ibadah sholat ketika masuk waktu. Masjid ini pula kerap dijadikan meeting point bagi para traveler. Selain dilengkapi dengan fasilitas ibadah yang lengkap, kompleks masjid ini lengkap dengan fasilitas parkir, plus taman yang begitu indah disamping view yang begitu menakjubkan.

Untuk memasuki kawasan masjid sendiri harus menaiki anak tangga yang lumayan tinggi dari lokasi parkiran yang dilengkapi jejeran warung-warung yang menjajakan makanan dan minuman. Dan yang tak ketinggalan adalah para penjaja barang-barang cinderamata. Karena lokasinya di atas ketinggian, hawa sejuk serta semilir angin memberi kesejukan tersendiri. Ini tentunya akan memberi kesegaran sendiri ketika Anda berwudlu atau sekedar membasuh muka. Wuiiiihh segernya…Jadi bagi Anda yang tengah melintas kawasan puncak, ketika masuk waktu sholat tak ada salahnya mampir sekaligus istirahat dan menikmati alam ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala yang begitu indah dan memesona, ditemani semilir angin yang sejuk. (Taryadi)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: