Oleh: majalah merah putih | Januari 23, 2010

Father’s Day (Annisa Harumni Arifah)

Father’s Day

Annisa Harumni Arifah

Ayah . . . ayo . . . Sepatunya cepetan dipakai!!! Kata Bu guru hari ini hari Ibu jadi kita tidak boleh terlambat…” Rengek Ahfa pada ayahnya yang tidak terlihat bersemangat hari itu. “Ahfa, anak Ayah, hari ini tidak usah berangkat sekolah saja ya?” pinta ayahnya iba. Ahfa tidak mempedulikan perkataan Ayahnya, dia terus saja menarik-narik seragam Ayahnya. Gadis cilik berseragam putih merah ini terlalu polos untuk mengerti apa yang sedang dipikirkan Ayahnya. Hari ini adalah hari Ibu, Ahfa gembira sekali menyambut perayaan hari Ibu di sekolahnya, untuk anak kelas 1 Sekolah Dasar, ini adalah untuk pertama kalinya dia merayakan hari Ibu. “Ayah, jam 9 teng datang ya? Pak Kapten tidak boleh terlambat! Bunda sudah janji pada Ayah akan datang kan hari ini?” Lelaki itu hanya mengangguk lemas dan berkaca-kaca matanya saat melihat putri kecilnya berlari-lari kecil bersemangat menyambut hari ini. Di ruang kelas, Ahfa terus saja gelisah dan selalu memperhatikan jam hello kitty digital merah muda miliknya. “Kata Ayah tadi, kalau sudah angka sembilan titik nol nol berarti ayah datang” batinnya dalam hati. Di aula orang tua siswa-siswa kelas satu sudah berkumpul. Ahfa gelisah menunggu Ayahnya. Satu persatu siswa dipanggil berdasarkan nomor urut absensi. “.” Sontak Ahfa kaget mendengar namanya di panggil sedangkan Ayahnya belum datang. “Ahfa, ayo maju… Kamu kan sudah bilang mau membacakan puisi?” bujuk Ibu guru. “Tapi Ayah dan Bunda Ahfa belum datang Bu?” jawabnya gelisah. Bu Guru kaget mendengar kata “Bunda” dari bibir mungil Ahfa. “Tunggu Ayah sebentar ya Bu?” pinta Ahfa. Anggukan Ibu guru membuat Ahfa sedikit tenang.

10menit berlalu, seorang lelaki tegap berseragam memasuki ruangan dengan raut muka gelisah. “Ayah…!!! Katanya tadi tidak terlambat?” teriak Ahfa. Lelaki itu berjalan mendekati Ahfa dan berkata, “Ahfa, kalau Ahfa tidak yakin untuk membaca puisi itu tidak apa-apa, Ahfa tidak usah tampil ke depan, Ayah tidak akan marah.” “Ayah bercanda ya? Ahfa kan sudah latihan setiap hari? Jadi Ahfa harus yakin, Bunda terlambat ya Yah? Nanti datangnya?” tanyanya polos. Lelaki itu terdiam tak berkata apapun saat gadis kecilnya menyebut kembali kata “Bunda”. Semua siswa yang maju menceritakan tentang Ibunya dan memberikan sesuatu untuk Ibu mereka masing-masing. Ahfa ingin membacakan sebuah puisi yang dia buatnya sendiri. Semua temannya didampingi Ibunya ke atas Aula, hanya Ahfa yang terlihat sendiri dan ayahnya duduk penuh cemas di kursi undangan.

BUNDA Wanita yang menyayangiku Wanita yang menyayangi Ayah Dia sangat cantik Dia baik dan lembut Aku sayang Bunda Kata Ayah, Bunda sedang pergi.  Tapi hari ini Bunda pasti pulang, Untuk merayakan hari Ibu bersama denganku… Dan Ayah… Itulah puisi dari seoarng gadis cilik berusia 6 tahun untuk ibunya. Kemudian ada juga waktu tanya jawab dengan Ibu guru saat anak-anak berdiri di depan penonton. “Ahfa siapa nama Ibumu?” “Nahsyawindy Pratiwi” jawabnya mantap. Ibu guru terlihat sangat bingung untuk menanyakan hal yang lain pada Ahfa, tidak seperti siswa-siswa yang lain.

Kemudian dari kursi penonton, Natalia terlihat mengacungkan tangan ingin bertanya. “Silakan Lia.” Gadis kecil berambut ikal itu pun bertanya, “Ahfa, kok Mama kamu tidak datang sih? Kok Papa kamu yang datang? Padahal ini kan hari Ibu? Ibu kamu terlalu sibuk ya buat datang? Jahat banget sih? Mamaku yang baru punya Adik baru aja bisa datang, masak Mama kamu tidak?”

Ahfa terlihat sangat kaget mendengar pertanyaan itu. “Bunda aku tidak jahat. Paling Bunda cuma telat kok!!” jawab Ahfa penuh luapan emosi. “Bunda Ahfa jahat, Bunda Ahfa jahat” ejek Natalia terus menerus. Mata Ahfa berkaca-kaca. “Lihat di ruangan ini, semuanya sama Mama kan? Kamu sendiri yang sama Pap…?” Ibu Natalia membungkam mulut anaknya dan membisikkan sesuatu ke telinga anaknya. Kemudian Natalia kembali berteriak, “Woy,temen-temen….!!! Ternyata Ahfa tidak punya Mama… Mamanya sudah mati……!!! Tapi kata Mamaku jangan bilang siapa-siapa ya?” Ibu Natalia mencubit tangan Natalia untuk menghentikan anaknya. Mulut Ahfa menganga tidak percaya. Air matanya menetes deras. “Bohong… kamu bohong Lia…!!!” teriaknya meronta. Lelaki itu berdiri tidak sabar dengan segala emosi yang dipendamnya dan berlari menghampiri Ahfa yang tertunduk terhuyung-huyung. Digendongnya putri kecilnya itu, dipeluknya erat. Ahfa semakin meronta dan memberontak menginginkan lepas dari pelukan ayahnya. “Ayah Pembohong….!!!! Pembohong……!!!!!! Ahfa benci Ayah……..!!!!!!!!” Teriaknya sambil menangis. Dia memukul-mukul dada ayahnya.

Situasi semakin tidak terkendali.. Ahfa berlari keluar, dia malu pada teman-temannya. Lelaki itu mengejarnya. Dia masuk ke sebuah gudang kecil dan menguncinya dari dalam. Lelaki itu terus saja mengetuk pintu rapuh dan usang itu dengan segala permohonan maafnya. Ahfa menutup kedua telinganya rapat-rapat. Lelaki itu mengetuk semakin keras. Ketukan itu memberikan getaran pada ruang sempit yang berisi bertumpuk-tumpuk kursi dan meja. Ibu guru datang dan membantu Ayah Ahfa untuk membujuk Ahfa keluar. Kini getaran semakin hebat karena ada dua orang yang mengetuk. Tidak lama kemudian terdengar suara reruntuhan di ruang sempit itu. Ahfa menjerit. Dapat dipastikan sebagian kursi jatuh. Detik selanjutnya hening terasa. Tanpa pikir panjang lelaki itu mengambil ancang-ancang panjang dan mendobrak pintu usang itu. Dobrakan pertama tidak membuahkan hasil, mungkin karena terlalu banyak kursi di sisi pintu. Kemudian dobrakan kedua membuka pintu itu. Tidak terlihat apapun selain kursi yang berserakan dan tidak terdengar apapun selain hening.

“Ahfa…” panggil lelaki itu sambil mengangkat-angkat kursi. Seluruh tubuhnya terasa lemas mendapati Ahfa tidak sadarkan diri dan kepalanya berdarah. Diangkat dan di gendong tubuh mungil tak berdaya itu, dimasukkannya ke dalam mobil dan dengan kecepatan penuh meluncur menuju Rumah Sakit. Tangan kirinya tetap mendekap Ahfa, sedangkan tangan kanan pada kemudi. Matanya juga sering tidak terkonsentrasi pada jalur padat di hadapannya tetapi terus saja menatap putri kecilnya. Ruang tunggu ICU terasa sangat dingin, lelaki itu diam tertunduk. Teringat olehnya wajah Windy, wanita yang begitu dicintainya yang meregang nyawa saat melahirnya putri kecilnya. Dalam hatinya, dia terus memaki dirinya sendiri yang telah sekian lama pandai membohongi si putri kecil tentang Bunda yang begitu dirindukanya. “Ayah macam apa aku ini? Kenapa aku bohongi Ahfa tentang Windy? Lihat sekarang akibatnya Erlang…!!! Puas kau mencelakan putrimu sendiri? Puas kau membohonginya selama ini? Puas kau mempermalukan dia di depan teman-temannya?” makinya dalam hati. “Pak, putri anda akan dipindah ke ruang rawat. Silakan selesaikan administrasinya” suara lembut seorang perawat yang mengagetkannya.

Putri kecilnya belum juga tersadar. Memang hanya luka ringan, tapi untuk tubuh mungilnya, luka itu terlalu menyakitkan ditambah lagi kenyataan pilu yang harus diketahuinya. Sehingga membuatnya tidak kunjung sadarkan diri. Lelaki itu tetap terjaga, tangannya terus menggenggam lembut tangan mungil putrinya. Di tengah malam, dia menghadap dan bersimpuh dihadapan-Nya. Menangis seperti bukan layaknya Kapten Erlangga Dwiansyah seperti biasanya yang tenang dan kuat. Setelah bersimpuh dan bercucur air mata di hadapan-Nya. Dibacanya lembut ayat-ayat suci Al-Quran di telinga mungil Ahfa. Hingga akhirnya ia ikut terlelap. Seminggu berlalu, lelaki itu tetap disisi putrinya. Menggenggam lembut tangan mungil itu dan membacakan alunan lembut ayat-ayat suci Al-Quran di telinga mungil itu. Dia tampak tak memperdulikan keadaanya, kotor dan berantakan. Lelaki itu menutup Al-Qurannya setelah membacakan untuk putri kecilnya. Dilihat wajah putri kecilnya yang sangat mirip dengan Almarhum istrinya, Windy.

“Bunda…” suara lirih Ahfa memecah kesunyian. “Ini Ayah, Ahfa. Ayah mohon maaf” suara lelaki itu lirih. “Ahfa yang minta maaf Ayah, Ahfa bikin Ayah sedih dan khawatir”. Lelaki itu memeluk putri kecilnya erat, mengucap beribu syukur pada-Nya, dan kembali meneteskan air mata. Malam sebelum hari yang dinanti Ahfa datang, lelaki itu terlihat tertunduk tekun menumpahkan kekhawatirannya pada seonggok buku tuanya. Windyku Terkasih… Apakah kau tahu? Besok hari Ibu, putri kecilmu selalu bersemangat menyambut hari itu. Namun, aku tak kan tega bila harus melihat putri kecil kita terguncang seperti setahun yang lalu. Tapi apa yang bisa aku lakukan untuk meredam semangatnya. Aku tak tega untuk melihat hari kelabu itu dimana dia tertunduk pilu. Windy, andai kau ada disini. Aku tak kan selemah ini. Maafkan aku jika aku mengecewakanmu dan putri kecil kita.

Esoknya, di tempat yang sama, di tanggal yang sama pula, bersama Ayahnya, dan puisi baru yang dibuatnya. Ahfa berdiri di depan hadirin, orang tua dari siswa-siswa kelas dua dengan senyum manis di bibir mungilnya. Namun ayahnya terlalu lemah untuk berani menatap putri kecilnya. Dia tak ingin hari kelabu itu terulang kembali.

Hari ini… Bunda tidak bisa hadir di sini, karena Bunda hidup sangat jauh dari sini. Tapi, Ahfa tahu, Bunda berharap ada di sini bersama Ahfa.. Bila Bunda ada di sini, pasti Bunda akan mengajari Ahfa cara membuat kue,mengikatkan pita rambut yang lucu, bernyanyi, dan menceritakan dongeng sebelum Ahfa tidur. Tapi, Ahfa seperti teman-teman semua. Ahfa tidak berdiri di sini sendirian. Karena Bunda selalu bersama Ahfa. Bunda,, hari ini memang hari Ibu, tapi Ahfa yakin Bunda tidak akan marah kalau Ahfa sebut hari ini hari Ayah. Bunda, Bunda selalu ada di hati Ayah dan di hati Ahfa. Dan untuk ayah… Selamat hari Ayah, Ayah Erlangga… Lelaki itu tertegun, tak percaya, ia berdiri menatap putri kecilnya dengan air mata. Hadirin bertepuk tangan dengan perasaan haru di hati mereka. Gadis kecil itu berlari kecil menghampiri Ayahnya. Memeluk Ayahnya. Dan berbisik, “Selamat Hari Ayah…”


Responses

  1. ceritanya keren


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: