Oleh: majalah merah putih | Januari 23, 2010

KESABARAN KHALIFAH UMAR bin ABDUL AZIZ

KESABARAN KHALIFAH UMAR bin ABDUL AZIZ
Di hari pertamanya setelah diangkat menjadi Khalifah, Umar Bin Abdul aziz memanggil istrinya, Fatimah, seraya berkata “Wahai istriku, aku telah diberi amanah untik memimpin umat. Aku sangat takut durhaka terhadap Tuhanku, akibat menyalah gunakan harta Negara yang telah diamanahkan kepadaku, atau lalai dalam kepemimpinanku. Untuk itulah, tugas menjadi Khalifah ini sangat berat dan membebaniku.”

Khalifah lantas memberikan kebebasan istrinya untuk memilih, apakah tetap menjadi istri Khalifah dengan resiko menanggung pekerjaan yang berat dengan penghasilan pas-pasan. Dan, ditambah lagi dengan berkurangnya perhatian terhadap dirinya dan anak-anaknya. Atau, memilih masa depannya sendiri dengan segala konsekuensi (cerai). Fatimah ternyata memilih tetap setia mendampingi suaminya dengan segala kesederhanaannya.

Ketika perutnya keroncongan karena lapar atau menggigil karena kedinginan, maka Fatimah berucap, “Coba, Seandainya antara kami dan jabatan Khalifah berjarak sejauh timur dan barat. Demi Allah, kami tidak pernah gembira sejak jabatan Khalifah masuk pada kami.” Itulah kenyataan betapa jabatan tinggi, kekuasaan dan kepemimpinan bagi keluarga Umar bin Abdul Aziz bukan menjadi suatu nikmat, tetapi menjadi beban yang tak terperikan.
Suatu hari, ketika Umar pulang dari inspeksi ke pemukiman rakyatnya. Ia merasa aneh karena anak kesayangannya yang biasanya menyambut dengan peluk dan ciuman mesra, kali ini justru menghindar, menjauhi sang ayah sambil menutup mulutnya. Melihat gelagat itu, Umar bertanya kepada istrinya dengan nada curiga, “Wahai istriku, kenapa dia menutup mulutnya? Adakah sesuatu yang dilarang oleh Allah dimakan olehnya?” Itulah pertanyaan seorang manusia yang suci hatinya, yang tak ingin terjebak oleh keharaman.

Mendengar pertanyaan Umar yang bernada curiga dan gelisah, istrinya menjawab,         “Jangan engkau gundah wahai suamiku. Putrimu tak memakan apapun yang syubhat apalagi haram. Ia sedang memakan bawang untuk mengganjal perutnya yang lapar, karena di rumah tak ada sesuatu yang layak dimakan.“ Mendengar jawaban istrinya, Umar bin Abdul Azis menangis, air matanya membasahi pipinya.

Suatu hari Muhammad bin Ka’ab Al-Qurthy datang menemui Umar. Dia kaget berbaur sedih melihat kondisi Khalifah, penguasa negeri Islam yang berlimpah kekayaannya dan sangat luas wilayahnya, meliputi seluruh negeri teluk termasuk Iran dan Afrika Utara.

“Hai anak Ka’ab, mengapa engkau memandangku dengan tatapan seperti itu?” “Aku heran wahai Amirul Mu’minin,“ jawab Muhammad singkat. “Kenapa engkau heran?“ Tanya Umar lagi. “Karena tubuhmu kurus, kulitmu kusam, rambutmu panjang. Dimana kulitmu yang dulu indah, rambutmu yang dulu berkilau dan tubuhmu yang dulu gemuk? “ tanya Muhammad.

Mendengar pertanyaan itu, Khalifah Umar tersenyum lantas menjawab, “Engkau akan lebih heran melihat keadaanku nanti, yakni setelah tiga hari kematianku. Kedua mataku telah menyusut kedalam pipiku dan cacing-cacing menempati hidung dan mulutku.“

Suatu saat, datang seorang keluarga Khalifah kerumahnya pada malam hari. “Ada keperluan apa kamu datang kepadaku wahai saudaraku? Adakah keperluanmu sebagai urusan pribadi atau menyangkut kepentingan Negara?“ lantas si Fulan menjawab singkat, “Aku datang untuk urusan pribadi wahai saudaraku.“

Demi mendengar jawaban Si Fulan, Umar buru-buru mematikan lampu pelita yang sinarnya juga tidak seberapa terang. Suasana yang semula agak terang menjadi gelap gulita. Si Fulan kaget, lantas bertanya, “ Wahai Umar, kenapa pelitanya engkau matikan ? “ Umar lantas terdiam kemudian berbicara, “ Wahai fulan, bukankah engkau datang untuk keperluan pribadi tak ada kaitannya dengan Negara? Sedangkan lampu minyak ini dibiayai oleh Negara, aku tidak ingin menyalahgunakan kekayaan Negara demi kepentingan pribadi, maka lampunya aku matikan. “ Itulah jawaban seorang pemimpin yang berjiwa agung. Umar bukannya pelit, Ia hanya royal memanfaatkan harta jika dipakai untuk menolong kaum dhuafa dan rakyatnya. Perhitungannya sangat hati-hati dan cermat ketika menyangkut dirinya dan keluarganya, agar ia dan keluarganya tidak terjebak penyalahgunaan kekayaan Negara.

Lain hari, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengadakan rapat pejabat di rumahnya. Dalam acara itu, kepada para tamu yang hadir dihidangkan aneka buah. Putri Umar yang masih kecil tampaknya tergiur pada buah apel yang dihidangkan. Dia merengek kepada si ibu agar diambilkan satu. Si ibu menolak, si anak makin tersedu. Si ibu melarang dengan cara manis, tapi si kecil malah menangis. Akhirnya, si ibu, istri Khalifah Umar, dengan sangat berat hati mengambil sebuah apel untuk menghentikan tangis putri kecilnya. Kala itulah sang Khalifah segera merebut kembali buah apel itu seraya berkata “ Wahai istriku, apakah kau akan mengambil harta Negara untuk kepentingan keluargamu? Demi Allah janganlah engkau berikan api neraka ini kepada putrimu! “

Betapa sabarnya Umar bin Abdul Aziz dalam menjalankan amanah jabatannya. Beliau rela menderita bersama keluarganya demi kepentingan rakyatnya. Buah dari kesabarannya adalah beliau diangkat derajatnya oleh Allah sebagai pemimpin dan kekasih Allah yang sangat dicintai rakyatnya. Saat menjelang kematiannya, ia berkata kepada anak-anaknya “ Aku tidak mempunyai harta berlimpah untuk diwariskan. “ dan sebelas anak Umar hanya mendapat warisan, masing-masing sebesar, tiga perempat dinar. Walaupun tidak mendapat warisan yang besar, kelak di kemudian hari tidak ada satupun anak Umar bin Aziz yang tidak sukses, mereka semua memiliki harta yang berlimpah. Bahkan salah seorang anaknya, sanggup menyediakan biaya dari harta pribadinya untuk seratus ribu pasukan berkuda, sekaligus kudanya, dalam sebuah perang fi sabilillah. Itu semua adalah berkah dari kesabaran ayah yang saleh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: