Oleh: majalah merah putih | Agustus 5, 2010

Mencemaskan Tren Negatif Tayangan TV

Mencemaskan Tren Negatif Tayangan TV

Oleh Taryadi, S.Pd.

Dalam sebuah studi, Kofifah Indar Parawansa, Ketua Umum  PP Muslimat NU menyebut terdapat 3,3 juta remaja putri melakukan aborsi karena pornografi. Sebuah paparan data yang menyentak kita semua sebagai orang tua. Bertahun-tahun orang tua menghidupi mereka, menyekolahkannya ke tingkat pendidikan yang layak dengan biaya yang tidak sedikit. Namun harapan akan masa depan yang lebih baik menjadi rontok tatkala si anak terjerumus pada lingkungan pergaulan yang salah sebagai akibat kondisi sosial masyarakat yang sakit (sick society)

Dunia pendidikan kita telah lama merasakan kecemasan serupa akibat mewabahnya bentuk kebebasan media yang gencar menayangkan berbagai gambar, adegan maupun tulisan yang beraroma pornografi. Terutama TV melalui tayangan sinetron yang lengkap dengan bumbu percintaan remaja yang entah mengadopsi gaya pergaulan mana. Juga film-film impor yang tak segan-segan memajang adegan-adegan panas sebagai bandrol untuk mengerek iklan. Bagaimana mungkin, guru dan lembaga pendidikan mampu mengajarkan persoalan nilai dan moral yang baik, namun luar tembok sekolah siswa mendapati tayangan media massa yang menyuguhkan nilai dan budaya yang paradoksal dengan yang diterimanya dari guru dan sekolah.

Sebuah tesis dalam perspektif psikologi menjelaskan bahwa proses pembentukan prilaku manusia didasarkan pada stimulus yang diterima oleh panca indera yang kemudian diberi arti dan makna berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan keyakinan yang dimilikinya. Remaja sebagai individu yang masih labil dan tengah mencari jati diri, sangat rentan terhadap prilaku peniruan yang akhirnya akan terinternalisasi dan membentuk kepribadiannya. Tayangan TV yang dilihatnya setiap saat sadar atau tanpa sadar masuk ke dalam otaknya. Menjadi sebuah kebiasaan. Tanyakan saja kepada seorang siswa sekolah menengah sekarang. Apakah bergandengan tangan atau bahkan berciuman dengan pacar suatu hal yang wajar? Di jaman kita pasti jawabannya tabu dan tidak wajar

Masuk akal, jika semula batasan yang tidak wajar menjadi wajar, yang tidak boleh menjadi boleh, ketika mereka setiap hari dijejali dan digiring oleh tayangan-tayangan yang atas nama kebebasan berkespresi  –walapun ujung-ujungnya kapitalisasi— membombardir ruang visual. Nah dengan derajat perubahan seperti apa lagi masyarakat ini akan mendidik generasi remaja ke depan. Apakah dengan semakin membiarkan tayangan media yang jauh lebih vulgar dari yang sekarang?

Maka tak mengherankan jika dalam satu edisinya, Associated Press (AP) memprediksi bahwa Indonesia akan menjadi “surga pornografi berikutnya” (the next heaven of pornography). Sebuah prediksi yang masuk akal menilik kondisi kronis seputar pornografi dan pornoaksi di Indonesia saat ini. Tayangan media elektronik dan cetak yang banyak mengumbar liuk dan liku tubuh perempuan, keping-keping VCD porno yang bisa didapat dengan mudah dan murah, hingga merebaknya internet dan handphone yang mestinya merupakan teknologi informasi, namun banyak disalah gunakan untuk hal-hal yang tidak semestinya.

Bagi anak yang berasal dari mutu kehidupan keluarga yang harmonis dan baik, dimana orang tua mampu menjadi figur panutan. Apa yang ditontonnya bisa disaring dan dikomunikasikan  melalui interaksi positif keluarga. Sehingga keluarga mampu menjadi benteng yang kokoh dalam membendung pengaruh buruk tayangan TV. Sebaliknya anak yang berasal dari keluarga yang mutu kehidupan keluarganya rendah, semua tayangan TV sulit disaring, karena mereka tidak menemukan figur di keluarga yang menunjukan prilaku baik maupun buruk secara riil dalam bentuk keteladanan.(Guru SMP Nasima Semarang)


Responses

  1. banyak hal yang harus diwaspadai dari dunia hiburan di sekitar kita
    semoga kita terjaga dari pengaruh media yang kurang baik
    salam sukses…

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: