Oleh: majalah merah putih | November 5, 2010

SISWA KELAS XII SMA NASIMA  SOWAN HABIB LUHFI PEKALONGAN

Jelang Ujian Nasional tahun ajaran 2010/2011 siswa kelas XII SMA Nasima sowan Habib Luhfi Pekalongan. Kunjungan dilaksanakan hari Sabtu 30 Oktober 2010.  Di sana mereka meminta doa restu supaya semua bisa lulus dengan hasil baik. Usai sowan Habib Luthfi siswa diajak ekplorasi di pasar batik Setono. “tujuan eksplorasi di setono adalah mengenalkan siswa akan kekayaan dan keaneka ragaman batik sebagai peninggalan budaya Indonesia yang adiluhung”jelas Siti Badriyah SPd koordinator kunjungan.

Rangkaian kunjungan terakhir di sentra produksi kulit Truko. Disini siswa diajak mengenal beragam produksi barang dari kulit khususnya tas. Jam 18.00, rombongan yang terdiri dari 55 siswa dan enam guru pendamping pulang dengan membawa oleh-oleh pengalaman dan ada yang membeli batik serta tas untuk oleh-oleh. (dr)

SISWA NASIMA APRESIASI WAYANG DI TBRS

Untuk lebih mengenal wayang sebagai salah satu ikon budaya dunia dari Indonesia siswa nasima diajak mengapresiasi Wayang Orang Ngesti Pandowo di Gedung Ki Narto Sabdo area Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Jl Sriwijaya Semarang. Hal tersebut dilaksanakan hari sabtu pagi 30 Oktober 2010, diikuti oleh siswa kelas VIII dan Kelas IX SMP Nasima.

“Setelah mengapresiasi diharapkan anak bisa lebih cinta akan budaya wayang. Disamping itu anak bisa mengenal karakter tokoh wayang sebagai penggambaran sifat manusia yang digambarkan dalam karakter tokoh wayang seperti Kumbakarno, Dasamuka dan yang lainnya” jelas Budiningsih SPd koordinator kunjungan sekaligus guru Bahasa Jawa SMP Nasima.

. Selain melihat pentas wayang sebagian siswa ada juga yang melihat proses dibalik layar pementasan, untuk mempelajari persiapan pemain wayang orang sebelum naik panggung. Usai pertunjukan banyak siswa yang foto bersama Punakawan dan tokoh-tokoh wayang orang. Wayang keren kan,? Tidak kalah dengan Spiderman. (dr)

SISWA SMP NASIMA MENGENAL BUDAYA INDONESIA LEBIH DEKAT

Sabtu 30 Oktober 2010 Siswa Kelas VII SMP Nasima yang berjumlah 116 Siswa didampingi 14 guru melakukan eksplorasi lingkungan di situs sejarah Sangiran. Disana siswa diajak mempelajari sejarah peradaban manusia Indonesia. Selesai dari Sangiran siswa berkunjung di Wirun, sebuah desa yang merupakan pusat produksi gamelan. Anak diajak mengenal budaya lebih dekat dengan mengetahui cara membuat gamelan yang unik dan membutuhkan keahlian khusus dan tingkat ketelitian yang luar biasa. “Produksi Gamelan  tidak mungkin untuk dicetak, jadi gamelan harus ditempa sedemikian rupa sehingga menghasilkan bunyi nada yang pas. Tidak semua orang bisa membuat gamelan” jelas Joko Sulistyono SPd kepala SMP Nasima saat mendampingi siswanya melakukan kunjungan di Wirun.

Kunjungan semakin lengkap dengan berkunjung ke keraton Solo yang konon merupakan peninggalan terakhir dari kerajaan Islam yang ada di Indonesia. Siswa diajak mempelajari budaya di Museum Paku Buwana X tentang kisa perjuangan Sultan Paku Buwana X. Jam 22.00 siswa telah berada di SMP Nasima dengan membawa segudang pengalaman dan pelajaran. Semakin cinta kan dengan budaya negeri ini?

 

SMA NASIMA EKSPLORASI LINGKUNGAN DI KENDAL

Sabtu 30 Oktober 2010, Siswa kelas X SMA Nasima yang berjumlah 78 siswa didampingi enam pembimbing melakukan eksplorasi lingkungan dengan berkunjung ke pabrik Industri Gula Nusantara (IGN) Cepiring Kendal. Disana anak-anak diajak untuk keliling pabrik didampingi pemandu dari IGN. Siswa melihat proses pembuatan gula dari bahan tebu hingga menjadi gula siap konsumsi.

Usai dari IGN rombongan berkunjung di centra produksi madu yang terkenal dengan Madu Pramuka atau Istana Lebah di Cepiring. Berhubung hujan siswa tidak langsung melihat Istana lebah namun siswa ditunjukan bagaimana proses pengambilan dan pembuatan madu. Beberapa siswa mendapat kesempatan untuk terapi sengat lebah. “sakit tapi menyenangkan” kata beberapa siswa yang sempat di terapi dengan sengatan lebah.

Kunjungan berakhir di Mr Koi. Pusat penangkaran dan budidaya ikan koi masih diwilayah Cepiring. “Disini siswa melihat serta mempelajari proses pembibitan dari telur, bibit ikan koi, sampai menjadi ikan koi besar yang harganya satu ekor bisa mencapai 50 juta rupiah” jelas Nur Indah Mahardani SS guru pendamping eksplorasi.  Siswa juga ditunjukan tentang jenis-jenis koi serta pertunjukan koi di jepang melalui slide di kantor Mr Koi. (dr)

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: