Oleh: majalah merah putih | Mei 12, 2011

GENDONG TEMAN KE SEKOLAH

Melayanti, seorang murid SD di Pandeglang, Banten, menggendong temannya yang lumpuh untuk ke sekolah sejak dua tahun lalu. Begitu pula saat ujian nasional tahun, Mela tetap setia menggendong temannya. Melayanti dan temannya, Santi siswi SD Keraton IV selalu mampir ke rumah Ade Sri Wahyuni, sahabat mereka sebelum pergi ke sekolah.

Ade Sri Wahyuni, warga kampung Ciekek Panuaran, Pandeglang menderita kelumpuhan sejak berusia sepuluh tahun. Sejak itu, Mela selalu menggendong Ade ke sekolah mereka. Meski jarak menuju sekolah hampir 300 meter, Mela tidak merasa lelah. Ketiga sahabat tersebut pun siap mengerjakan soal matematika di hari kedua ujian nasional. Usai ujian, Mela kembali menggendong sahabatnya kembali ke rumah.

Ade Sri Wahyuni, anak ke tiga dari lima bersaudara lumpuh secara tiba-tiba saat duduk di kelas IV SD. Rasa tidak percaya diri sempat membuat Ade enggan untuk bersekolah, namun dorongan dari kedua sahabatnya membuat Ade kembali semangat menempuh pendidikan.

Pagi itu mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya yang garang, namun di Jalan Kampung Ciekek Pabuaran, Kelurahan Karaton, Kecamatan Majasari kabupaten Pandeglang Provinsi Banten sudah tampak dua siswi SD berangkat ke sekolah. Sekilas, tak ada yang berbeda karena dua siswi itu mengenakan seragam SD yaitu kemeja putih dengan rok panjang merah plus kerudung putih. Senyum ceria khas anak-anak juga menghias wajah dua siswi itu menandakan semangat belajar yang tinggi. Namun bila Anda yang kebetulan melewati jalan kampung yang letaknya hanya satu kilo dari pusat pemerintahan Pandeglang itu mau mencermati, perilaku dua siswi SD itu saat berangkat sekolah, terlihat berbeda dari siswi lainnya lantaran salah satu siswi terlihat menggendong siswi lainnya. Tapi hal itu bukan disengaja apalagi dilakukan dengan maksud bercanda karena siswi yang digendong ternyata menderita lumpuh.

Siswi yang menderita lumpuh itu bernama Ade Sri Wahyuni (12), sementara temannya yang setia menggendong bernama Melayanti alias Mela. Keduanya adalah siswi SDN Karaton IV. Pagi itu keduanya sudah bersiap sejak subuh menjelang, lantaran hari itu keduanya harus mengikuti Ujian Nasional (UN) dengan mata pelajaran yang diujikan matematika.

Begitu sampai di sekolah, keduanya langsung menempati bangku di kelas dan mengikuti UN dengan serius. Disela UN, salah seorang guru SDN Karaton IV Tati Fatmawati kepada wartawan menuturkan, kendati lumpuh, Ade adalah siswi yang memiliki prestasi tinggi karena pernah menyabet juara III dalam ajang Olimpiade MIPA tingkat Provinsi Banten tahun 2010. Putri pasangan suami istri kurang mampu Sayuti (48) dan Sutihat (42), itu tinggal di Kampung Ciekek Pabuaran, Kelurahan Karaton, Kecamatan Majasari. Walau kakinya lumpuh, Ade kata Tati tak terlihat minder. Laksana anak-anak lain, Ade tetap ceria bahkan sesekali ia bersenandung saat kumandang bel istirahat dibunyikan. Ya, Ade memang senang menyanyi bahkan katanya bercita-cita menjadi penyanyi terkenal.

“Makanya dari 22 orang murid saya di kelas VI, Ade dikenal sebagai orang yang selalu terlihat ceria, dan hampir tidak pernah mengeluh. Ia juga pintar, setiap kenaikan kelas rangkingnya nggak pernah anjlok dari 3 besar, dan ia juga menonjol dalam mata pelajaran Matematika, walaupun dalam mata pelajaran lain ia juga unggul,” kata guru Tati.

Walaupun begitu, Tati mengakui ada sejumlah hambatan yang dialami Ade ketika berada di sekolah misalnya saat hendak ke WC, sehingga siswi berkulit hitam manis itu membutuhkan bantuan teman-temannya atau guru.

“Tapi diantara semua temannya yang paling setia itu ya Melayanti, yang selalu menggendong Ade saat berangkat atau pulang sekolah kalau Ade tidak diantar atau dijemput kakaknya,” imbuh guru Tati.

Hal senada dikatakan Kepala SDN Karaton IV Rohimah, pihak sekolah berharap Ade bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, karena walau memiliki kekurangan fisik namun otaknya sangat encer. Ia juga berharap Ade bisa dibantu biaya sekolahnya karena Ade berasal dari keluarga yang secara ekonomi kurang mampu lantaran ayah Ade yaitu Sayuti hanya berprofesi sebagai buruh.

“Karena semangat belajarnya tinggi dan semangatnya kuat saya yakin ia lulus UASBN tahun ini,” katanya sambil menambahkan jumlah peserta UASBN di sekolahnya tahun ini sebanyak 22 orang.

Ditemui, ibunda Ade, Sutihat bercerita, kaki anaknya lumpuh saat usianya 10 tahun atau saat kelas 4 SD. Sebelum lumpuh, kaki anaknya kerap kesemutan dan kaku-kaku, hingga Ade kerap jatuh dan akhirnya lumpuh.

“Karena bapaknya nggak punya uang akhirnya Ade nggak bisa diobati dengan baik,” tukas Sutihat dalam bahasa Indonesia berlogat Sunda.

Ade sendiri mengaku, walau lumpuh ia tetap bersemangat karena ingin membahagiakan orangtua. Ia berharap kelak mendapatkan pekerjaan yang bagus sehingga ia tetap tekun belajar.

“Saya tidak mau ibu dan bapak sedih, makanya saya harus tetap sekolah,” tandas.

Sementara Melayanti mengaku tetap mendukung temannya dan rela menggendong Ade karena ia menyayangi temannya. Tak heran ia rela mendatangi rumah Ade yang jaraknya 200 meter dari rumahnya dan kemudian menggendongnya sampai ke sekolah bila ia tahu temannya tak diantar kakaknya. Selain Melayanti, ada satu siswi lainnya yang akrab dan kerap membantu membawakan tas Ade yaitu Dina Mauludi. (sebagaimana diceritakan dalam forum orang pandeglang dan MNC Tv).Dr


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: