Oleh: majalah merah putih | Maret 5, 2012

POTRET SEKOLAH DI DESA TERPENCIL

POTRET SEKOLAH DI DESA TERPENCIL

Kekurangan Guru dan Kerusakan Gedung Kendala Utama

       Mentari pagi mulai menunjukkan pesona indahnya. Sekelompok anak berpakaian olahraga ber warna kuning kunyit terlihat  menyusuri jalan setapak dipinggir sungai ketika hendak menuju tempat mereka bersekolah . Wajah-wajah ceria berpenampilan lugu mencerminkan kemauan keras mereka untuk menimba ilmu. Itulah sepenggal  cerita ketika Wartawan Majalah Pendidikan Merah Putih, Nasrul  ketika berkunjung  ke sekolah yang berada di  wilayah terpencil Pesisir Wedung  tepatnya di Dukuh Tambak  Siklenting   Desa Wedung dan Desa Tedunan, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak baru-baru ini.

  Perjalanan menuju SDN 4 Siklenting dan SMP Satu Atap  berkisar tujuh kilometer dari pusat pemerintahan Kecamatan Wedung dan 30 km dari pusat Kota Demak. Untuk menuju ke dusun  tertinggal itu bisa menempuh jalan darat  atau sungai. Jika lewat darat tentunya melalui jalan setapak di apit  oleh sungai dan hamparan tambak ikan. Jika tidak waspada, bisa-bisa terpeleset masuk ke tambak ikan atau ke sungai. Kalau melalui sungai tentunya harus naik perahu kecil dari Dukuh Angin-angin sebelah timur pasar Wedung. Sedangkan untuk menuju SD Kedung Karang,yang berada diperbatasan Kabupaten Jepara itu tentunya melalui  jalan  yang kedua sisinya diapit oleh bentangan hamparan sawah.

Meskipun berada di dusun terpencil, namun, murid-murid SDN 4 dan SMP Satu Atap itu terlihat antusias untuk  menimba ilmu di sekolah yang memiliki gedung sederhana ini. Hal yang sama juga ditunjukan para siswa SD Kedung Karang. Bedanya, jika di SDN 4 Siklenting siswanya tidak berhimpitan dalam belajar. Namun, suasana berbeda terlihat di SDN Kedung karang lantaran kekurangan ruang kelas, maka dalam satu kelas terdapat 60 siswa dalam satu ruangan.

Berdasarkan keterangan kepala SDN 4, Masrun SPd, dari 217 siwa SDN 4 hampir semuanya tergolong miskin.Namun, demikian proses belajar mengajar tetap berjalan baik dan biaya pendidikan di sekolah yang dipimpinnya sudah tercukupi dari dana BOS dan bantuan-bantuan lainnya yang digulirkan pemerintah. Hal serupa juga di alami siswa SMP satu atap sebanyak 56 siswa.

Menyangkut masalah guru kata Masrun yang sudah bertugas selama delapan tahun di sekolah ini, saat ini sekolahnya hanya memiliki 6 guru PNS dan 4 guru GTT. Sementara untuk SMP satu atap, dari  13 guru yang ada semuanya masih berstatus GTT. Artinya belum ada satupun yang PNS, keluhnya. Untuk itu dia berharap, agar pihak Pemkab Demak dapat memenuhi kekurangan guru yang ber status PNS untuk mengajar di sekolah yang dipimpinnya.

Disinggung masalah guru yang mendapatkan insentif daerah terisolir dari pemerintah, Masrun mengatakan hanya satu orang yakni bapak Maryana .Sebab, berdasarkan aturan dari pemerintah, guru yang mendapatkan insentif guru terpencil kalau yang bersangkutan tinggal di daerah dimana dia mengajar, belum mendapatkan sertifikasi dan tunjangan daerah lainnya.

Berbeda dengan Masrun, Kepala  SDN Kedung Karang, Sutiyono justeru mengeluhkan kondisi gedung sekolah yang dipimpinnya. Bagaimana  tidak ujarnya, dari Sembilan rtuangan kelas yang ada hanya empat ruangan saja yang bisa digunakan sedangkan lima kelas lainnya sudah rusah parah sehingga tidak bisa digunakan lagi. Padahal jumlah murid berjumlah  258 siswa. Jadi, tidak heran anak muridnya belajar  diruangan kelas dengan penuh sesak.  

Mengenai maslah ketersedian tenaga pendidik,, kepsek yang sudah bertugas 17 tahun disekolah ini menuturkan, hingga kini sekolah yang dipimpinnya hanya memiliki 4 guru yang berstatus PNS dan 3 GTT. Artinya, kita masih kekurangan guru kelas, sebab, dari 4 guru PNS itu dua diantaranya adalah guru bidang studi.

Banyak yang Rusak

   Sementara Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Wedung, Drs Suhudi SPd  mengakui bahwa dari 184 ruang kelas dari 32 SDN yang ada di wilayah kerjanya, 25 diantaranya mengalami kerusakan dengan rincian , 122 ruangan kelas mengalami rusak berat dan ringan.

    Dengan rincian, 58  ruang kelas mengalami rusak berat, 64 lainnya rusak sedang dan yang masuk kategori baik hanya 62 ruangan kelas.   Dari angka kerusakan itu setidaknya dibutuhkan dana sekitar Rp 10,3 Miliar untuk melakukan rehabiltasi ruangan kelas yang rusak sedang dan pembangunan kembali untuk rusak berat.       

    Ketika disinggung soal jumlah guru yang mendapatkan  insentif guru yang bertugas di daerah tertinggal dari pemerintah, Suhudi mengatakan yang berhak mendapatkan itu sebanyak 20 orang guru.Sementara yang lainnya sudah mendapatkan sertifikasi dan tunjangan lainnya. Sebab, berdasarkan aturan dari pemerintah bahwa guru yang mendapat insentif daerah tertinggal adalah guru yang tinggal dimana dia mengajar yang masuk kategori daerah tertinggal, ujarnya.(**)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: