Oleh: majalah merah putih | Maret 5, 2012

Prof Dr H Muhibbin Noor, MA (Rektor IAIN Walisongo) TUHAN MENINGGIKAN DERAJAT ORANG YANG BERILMU

Prof Dr H Muhibbin Noor, MA  (Rektor IAIN Walisongo)

TUHAN MENINGGIKAN DERAJAT ORANG YANG BERILMU

Gambar

Tim Wartawan Anak Merah Putih (Warna Merput) semakin banyak memperoleh ilmu lewat wawancara-wawancara yang dilakukannya. Para tokoh pilihan redaksi sukses digali kisah-kisah hidupnya dari sisi yang jarang ter–publikasikan, yaitu sisi inspirasi kependidikan. Selain Warna Merput, para pembaca juga bisa menyimaknya lewat tulisan yang disusun redaksi. Kali ini, Nabila Rahmadianti, Awanda Maulidia, dan Sahasika Paramesti (semua siswa kelas VIII SMP Nasima) menuliskan hasil wawancaranya. Didampingi Pemimpin Redaksi Merah Putih (Supramono MPd) mereka berhasil membedah sepenggal kisah hidup dan pemikiran-pemikiran Prof Dr H Muhibbin Noor MA, Guru Besar sekaligus Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo.

Saat ini Bapak berprofesi sebagai apa? Memegang jabatan apa? Apa yang menjadi fokus dan kesibukan Bapak terkait profesi tersebut?

Saya ini guru besar jadi tugas utamanya mengajar mahasiswa. Saya juga diamanahi sebagai rektor, jabatan seperti kepala sekolah di tempatmu belajar. Saya berusaha menjalani profesi ini sebaik-baiknya sebagai upaya menjalani amanah sekaligus beribadah atau memberi kemanfaatan pada sesama lewat ilmu dan segala potensi yang saya miliki. Di sela-sela waktu saya aktif menulis. Menulis apa saja, misalnya artikel, tulisan ilmiah atau buku. Ada yang dipublikasikan lewat media massa ada yang saya masukkan di website pribadi saya. Saya berjanji dan mewujudkan satu komitmen “setiap hari harus menulis, minimal satu artikel”. Data diri dan tulisan-tulisan saya bisa diakses di http://www.muhibbin-noor.com.

Bagaimana kisah perjalanan Bapak dari kecil sampai mampu meraih keberhasilan seperti sekarang ini?

Saya ini dilahirkan di desa (Desa Jamus, Mranggen, Demak). Orang tua saya termasuk golongan tidak mampu, bahkan ibu saya tidak bersekolah alias buta huruf. Meski begitu, mereka rajin beribadah dan mengaji Al Qur’an, termasuk membiasakan anak-anaknya untuk menjalankan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh. Ayah saya meninggal saat saya kelas II MTs. Ibu saya tak pernah lelah untuk membiayai dan mendidik anak-anaknya. Baginya, anak-anak harus sekolah dan hidup lebih baik. Beliau menanamkan prinsip, bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu. Perjuangan orang tua yang hebat itu mampu memotivasi saya untuk sungguh-sungguh belajar dan amanah menjalankan profesi. Kalau sekarang bisa dinilai orang bahwa saya sukses, maka saya mengedepankan syukur pada Allah Swt dan terima kasih tak terhingga pada orang tua saya.

Bagaimana riwayat pendidikan Bapak dari TK atau SD sampai yang pendidikan tertinggi?

Saya  lahir di Mranggen, 12 Maret 1960. Tidak sekolah di TK, tetapi langsung di SD Inpres, lulus 1974. Setelah itu melanjutkan ke MTs Futuhiyyah, lulus 1977. Tahun 1980 lulus dari MA Futuhiyyah. Kuliah di IAIN Walisongo. Meraih gelar Sarjana Muda tahun 1983 dan S1 tahun 1985. Alhamdulillah semuanya bisa lulus terbaik sehingga mendapat beasiswa untuk S2 dan S3 di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Gelar magister dan doktor juga saya raih dengan predikat terbaik.

Apa kisah yang paling berkesan selama Bapak bersekolah? Mungkin bisa disebutkan saat di SD apa, SMP apa, SMA apa dan seterusnya.

Yang paling berkesan adalah saat pertama kali masuk MTs di Pondok Pesantren Futuhiyyah. Masuk ke situ karena saran orang tua. Saya tidak semangat dan cenderung asal-asalan. Pada semester I nilai saya hampir semuanya “merah”. Mata pelajaran keagamaan dan kitab-kitab yang harus dipelajari sangat banyak dan susah. Saya berharap tidak naik kelas dan bisa dipindah ke SMP. Orang tua saya datang ke sekolah karena nilai saya sangat jelek. Beliau berkata pada pengasuh pondok, bahwa apapun nilai saya, saya harus tetap di MTs Ponpes Futuhiyyah. Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya saya tersadar kalau saya harus sungguh-sungguh dalam belajar. Semua kesulitan pasti bisa dilewati kalau kita niat, senang, dan sungguh-sungguh.

Apakah Bapak juga sempat usil atau nakal saat sekolah? Siapakah guru atau teman yang disegani atau mampu memberi inspirasi untuk menjadi anak baik yang semangat belajar dan berakhlak mulia?

Alhamdulillah, kalau nakal kriminal atau merugikan orang lain saya tidak pernah. Saya hanya keluar pondok kadang-kadang ketika ada pertunjukan orkes dangdut di hajatan atau lapangan di sekitar pondok. Kadang juga mencuri-curi kesempatan keluar pondok untuk menonton bioskop. Saat itu saya dan beberapa teman suka pada film-film yang dibintangi H Rhoma Irama. Ketika film-film itu diputar di Kudus pun kami pergi ke sana untuk menonton. Akibat perbuatan nekat itu kami sempat dibariskan di lapangan pondok dan dicukur gundul oleh ustadz-ustadz pondok. He he he … jadi malu dan kapok. Sampai-sampai ketika lulus MA dan mau masuk ke IAIN, pengasuh pondok (KH Hanief Muslich) memberi 3 nasehat khusus pada saya. Nasehat itu adalah, 1) Kurangi kegiatan menonton bioskop, 2) Jangan lupa membaca Al Qur’an, dan 3) Jangan dekat-dekat wanita kalau belum mampu menjaga diri dari maksiat.

Prestasi apa saja yang Bapak raih ketika masih menempuh pendidikan?

Sejak saya kembali semangat pada kelas II MTs, saya selalu meraih rangking I di kelas, termasuk ketika kuliah. Saya bersama 14 teman saya juga mendapat penghargaan khusus dari pengasuh Futuhiyyah karena mampu menghafal Alfiyah atau 1000 Bait Nahwu.

Bagaimana peran orang tua dan keluarga dalam mendukung belajar Bapak? Apakah mereka menerapkan kedisiplinan. keteladanan atau mungkin ada resep khusus sehingga Bapak bisa sesukses sekarang?

Seperti yang saya sampaikan tadi orang tua saya sangat mendukung sekolah anak-anaknya. Ketika ayah meninggal, ibu saya meneruskan perjuangan untuk menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya meski kami bukan keluarga tidak terlalu berada. “Ora nyandhang ora mangan enak ora apa-apa sing penting bisa sekolah” (tidak berpakaian bagus, tidak makan enak tidak mengapa asal tetap bisa sekolah). Kondisi keluarga yang seperti itu dan semangat ibu yang terus semangat untuk anak-anaknya membuat saya terpacu membalasnya dengan kebanggaan.

Bagaimana sih penilaian Bapak terhadap dunia pendidikan jaman sekarang dibandingkan dengan dulu, utamanya di Jawa Tengah?

Karena saya di IAIN saya lebih banyak tahu yang di sekolah-sekolah berbasis keagamaan atau madrasah. Secara umum ada yang meningkat dan ada yang menurun. Anggaran, sumber daya guru, fasilitas, dan inovasi saat ini sudah semakin baik. Yang saya rasakan menurun adalah isi dari kurikulum materi-materi keagamaan. Dulu ketika saya di madarasah, kitab-kitab dan materi yang harus dipelajari satri itu sangat banyak dan mendalam. Ujiannya sangat menantang sehingga santri harus banyak membaca dan mendalaminya. Diskusi-diskusi kritis juga banyak dilakukan ketika belajar mengupas kitab. Saat ini saya menilai banyak kitab atau materi yang dikurangi, bahkan di IAIN terasa lebih ringan daripada saat di madarasah jaman saya dulu. Mungkin hal ini dimaksudkan agar semakin banyak memberi kesempatan kepada murid-murid dari sekolah umum untuk bisa masuk ke lembaga pendidikan keagamaan seperti madarasah atau pondok pesantren. Pengembangan pengetahuan, praktek, dan sebagainya dikembalikan kepada kemauan masing-masing individu.

Khusus tentang sarana prasarana pendidikan dan kualitas guru, bagaimana penilaian bapak?

Sarana prasarana pendidikan jauh lebih baik. Lembaga-lembaga pendidikan di pelosok wilayah harus juga diperhatikan tentang peningkatan sarana prasarananya. Guru tentunya juga semakin baik. Keharusan untuk lulus minimal S1 dan proses sertifikasi adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas guru. Yang saya kritisi adalah masih adanya guru yang tidak aktif melakukan inovasi dan mengikuti perkembangan. Misalnya, banyak guru yang tidak pernah membeli dan atau membaca buku. Saya menyarankan pada semua guru untuk beli buku minimal setahun sekali dan aktif membaca buku, internet atau sumber ilmu lainnya.

Sekarang, dengan segala kesibukan Bapak/Ibu, bagaimana langkah Bapak/Ibu untuk tetap memperhatikan keluarga, terutama pendidikan anak-anak Bapak/Ibu? Kalau ada anak Bapak/Ibu ada yang sedikit usil pergaulannya bagaimana cara mengatasinya?

Kita harus professional di profesi, keluarga, dan masyarakat. Semuanya harus mendapat jatah waktu dan perhatian kita secara proporsional. Komunikasi dengan keluarga, terutama menyangkut pendidikan anak harus intens kita lakukan. Perkembangan akademik maupun akhlaknya harus kita pantau secara langsung lewat pendampingan atau tidak langsung dengan media telepon dan sebagainya. Yang penting ada komitmen dari semua anggota keluarga untuk melakukan yang terbaik di profesi masing-masing maupun dalam komunikasi antara suami, istri, dan anak-anak.

Apa prinsip Bapak dalam menjalani profesi saat ini?

Tetap percaya pada diri sendiri, bekerja sebagai bagian ibadah, berusaha menjadi orang baik dan menjadi teladan bagi sesama. Untuk IAIN Walisongo, memasuki tahun 2012 saya dan segenap civitas akademika mengikrarkan resolusi 1) Kampus IAIN Walisongo bebas korupsi, 2) Giatkan budaya memberi, 3) Jadikan IAIN kampus yang sehat (bebas rokok, bersih, dan gemar olah raga).

Kalau prinsip dalam mendidik keluarga bagaimana?

Pendidikan anak adalah nomor satu, seperti prinsip “ora nyandhang ora mangan enak sing penting bisa sekolah”. Pendidikan akhlak jangan dilupakan. Mulai dari hal-hal kecil harus kita biasakan dan orang tua menjadi teladan, misalnya mengucapkan salam, santun pada sesama, hormat pada orang yang lebih tua dan sebagainya. Komunikasi, keharmonisan, kasih sayang, dan keimanan harus memayungi keluarga kita.

Bapak mohon kami diberi nasehat atau pesan agar kami dapat meneladani perjuangan Bapak meraih cita-cita!

Rajin belajar, beribadah, berdoa, dan bersedekah. Fokus dan sungguh-sungguh dalam belajar. Boleh bercita-cita tapi jangan sampai terlalu mengobsesi atau mengganggu fokus belajar. Belajarlah dengan minat, kesenangan, dan kesungguhan. Belajar itu untuk mencari ilmu bukan sekedar pekerjaan. Yakinlah, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu. Dengan ilmu dan keimanan, hidup kita pasti dimudahkan Allah, termasuk dalam meraih pekerjaan yang layak. Selain itu juga sabar. Sabar bukan berarti berserah diri tanpa berbuat apa-apa. Sabar mengandung makna untuk selalu berusaha tak kenal menyerah meraih cita-cita mulia. Oke?

Terima kasih Pak. Mohon doa restu semoga kami menjadi anak yang berakhlak baik dan sukses.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: