Oleh: majalah merah putih | Maret 5, 2012

Studi Banding Sekolah HEBAT. Sepetak Bangunan, Segudang Pengatahuan

Studi Banding Sekolah HEBAT

Sepetak Bangunan, Segudang Pengatahuan

 Gambar

Pagi hari yang cerah tepatnya Sabtu 28 Januari 2012, perjalanan saya dan rekan-rekan guru SMP Nasima menuju Kota Magelang pun dimulai. Semarang tampak masih kelabu, lantaran sinar mentari belum terasa benar di pagi itu. Tujuan kami adalah mengembang misi melaksanakan studi banding di sekolah yang telah meraih prestasi Ujian Nasional dengan gemilang dalam beberapa tahun terakhir ini. Tepatnya di SMP Negeri 1 Magelang yang terletak di Jalan Pahlawan nomor 61, pusat kota Magelang.

Perjalanan Semarang-Magelang di pagi yang sepi ini serupa kilatan meteor. Mungkin karena perasaan penasaran yang memenuhi rongga dada ingin segera sampai di tujuan. Pukul 08. 15 menit, kami tiba di kota yang cukup riuh namun tetap mengemuka nuansa asrinya. Udara kota ini tak dapat dipungkiri terasa kesejukannya. Betapa tidak, begitu kaki turun dari mobil setibanya di sana terhiruplah udara yang sejuk di rongga-rongga hidung, yang seketika menghilangkan rasa mabuk perjalanan lantaran belum sempat sarapan sebelum perjalanan.  Rasanya lapar itupun hilang dari dalam perut.

Memang tak salah pilihan lokasi studi banding kali ini. Sekolah yang dikunjungi berdiri di atas bangunan Belanda. Bentuk dan bahan-bahan konstruksinya yang tampak sangat kokoh walau telah dimakan usia puluhan tahun lamanya. Satu hal yang patut dikagumi dari sekolah ini adalah kebersihan dan keasriannya. Sejauh mata memandang tak ada secuil pun sampah di sudut-sudut sekolah. Pot-pot bunga begitu rapi ditata di sepanjang lorong-lorong kelas. Beberapa pohon di halaman pun begitu rindang tampaknya. Udara sejuk kota ini pun sangat mendukung kenyamanan belajar di sekolah ini.

Empat jam terasa begitu singkat  untuk menjelajahi setiap lekuk bagian sekolah yang punya salah satu  moto “ Sekolah Hebat Prestasi” ini. Kepadatan kegiatan sekolah saat itulah yang membatasi waktu kunjungan ini. Usai mengakhiri kunjungan di SMP Negeri 1 Magelang, perjalanan dilanjutkan ke lokasi kedua yaitu Desa Buku.

Buku Buka Baca Bisa

Langkah-langkah kaki  yang tak sabar menuju gapura Taman Kyai Langgeng menunjukkan rasa penasaran yang amat dalam terhadap keberadaan lokasi Desa Buku ini. Di loket pembayaran tiket masuk cukup mengeluarkan uang Rp 10.000 sudah bisa menikmati setiap sudut lokasi wisata alam yang satu ini. Hamparan bukit hijau menanti untuk dijelajahi. Jadi ingat lirik  lagunya Uci Bing Slamet yang jadi tembang kenangan favoritku. “Di puncak bukit hijau tempat kita memadu cinta” … la la la la la….

Jejak langkahpun berlanjut menyusuri jalan setapak yang dibentuk dari bebatuan khas Magelang menuju lokasi inti yaitu Desa Buku. Tempat ini terletak di dalam area Taman Kyai Langgeng  Magelang. Lokasinya sangat strategis di kota getuk ini. Kawasan Taman Kyai Langgeng merupakan suaka alam yang masih asri.

Desa Buku Taman Kyai Langgeng. Ya inilah objek yang kami tuju untuk memuaskan dahaga penasaran kami. Seingatku, Desa Buku itu satu-satunya di negara kita, dan ke-2 di Asia Tenggara setelah Langkawi Malaysia.

Persis di depan pintu masuk area ini, kami disambut ilustrasi berupa patung seorang lelaki yang kaku memegang lampu didampingi Istri dan kedua anak laki dan perempuan. Si anak perempuan masih terlihat memangku sebuah buku dengan didampingi adik lelakinya, dan nampaknya mereka memang masih sedang membaca. Spirit awal mereka adalah spirit haus pengetahuan sehingga buku adalah pelepas dahaga. Buku adalah secercah pelita dalam kegelapan malam. Buku ya itu tadi, jendela dunia! Hemm…boleh juga.

Desa Buku berlokasi tepat di tengah areal Taman Kiai Langgeng, menghadap ke tepian lembah Kali Progo yang menyajikan perpaduan angin yang semilir dengan gemericik air yang konstan. Suasana yang adem ayem ini dipastikan bisa menkondisikan para pembaca lebih khusuk dan khidmat dalam menikmati barisan huruf, susunan kata dan kalimat yang tercepak dalam lembar demi lembar buku yang tersaji di dalamnya. Harapannya tentu apa yang dibaca bisa lebih mudah dipahami dengan konsentrasi dan relaksasi jiwa yang berimbang. Semua memang menjadi angan dan keindahan pikiran yang sangat menakjubkan.

Objek ini bukan hanya menarik, tapi sekaligus dapat mendidik anak – anak untuk rajin membaca. Di bawah pohon-pohon pinus berdiri sebuah rumah yang diberi nama Rumah Baca. Tempat ini terbuat dari kayu jati yang berwarna sawo matang. Di dalam rumah ini berjajar rak-rak buku anak-anak beraneka rupa dan di bagian tengahnya adalah tempat untuk membaca berupa meja-meja kecil.

Selain itu berdiri pula sebuah gedung kecil yang digunakan sebagai perpustakaan utama Desa Buku ini. Di dalamnya terdapat koleksi buku-buku ilmu pengetahuan dan buku cerita untuk anak. Menurut informasi buku-buku tersebut sebagian besar adalah sumbangan  para penerbit. Seperti penerbit Galia Indonesia- Yudistira, Grasindo, Grafindo, dan beberapa penerbit yang lain.

Kecil memang lokasi Desa Buku ini. Sepetak lahan di dalam area Taman Kyai Langgeng yang begitu luas. Namun bukan besar atau kecilnya tempat yang perlu dibesar-besarkan, tapi manfaatnya. Di lahan yang amat sejuk ini tentunya sangat tepat dimanfaatkan untuk membaca koleksi-koleksi Desa Buku.  Dengan begitu ilmu pengetahuan dan wawasan akan semakin berkembang karena di sinilah gudangnya ilmu. (Melia Luciana, Guru Bahasa Indonesia SMP Nasima Semarang)

 


Responses

  1. nice artikel….nice writer he..he,,,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: