Oleh: majalah merah putih | Maret 5, 2012

Tantangan Pendidikan di Era Global

Tantangan Pendidikan di Era Global

Oleh Taryadi, S.Pd.

Globalisasi merupakan suatu keniscayaan bagi semua bangsa, termasuk Indonesia. Bangsa Indonesia juga sudah kenyang merasakan bagaimana manis dan pahitnya terbawa arus globalisasi. Gerakan reformasi yang berhasil menumbangkan rezim Soeharto tidak lepas dari berkah reformasi. Sebaliknya, merebaknya kejahatan dan pornografi, misalnya, tidak dapat dilepaskan dari dampak buruk globalisasi. Globalisasi akan membawa perubahan yang mencakup hampir semua aspek kehidupan, termasuk bidang teknologi, sosial, dan pendidikan.

Globalisasi dunia, menurut ilmuwan sosial dipicu oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pada dekade ini berlangsung sangat cepat. Jalaludin Rahmat dalam bukunya Islam Aktual bahkan menyebut fase ini sebagai era Revolusi teknologi infomasi dan komunikasi mengingat akselarsi dan percepatan perubahan dan pengaruhnya dalam berbagai sisi kehidupan manusia.

Kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan transaksi business lewat kaca komputer. Jasa perbankan di saku dan genggaman tangan. Rentang jarak antar benua sudah bukan lagi hamatan bagi manusia untuk saling berkomunikasi melalui berbagai jejaring sosial. Dan, temuan chip komputer akan memungkinkan seseorang membawa komputer dalam saku bajunya. Komputer tersebut sangat interaktif dan wireless. Multi fungsi terdapat dalam komputer, sebagai alat telepon, fax dan penyimpan data. Di samping itu, perkembangan industri komputer akan melahirkan “Edutainment”, yakni pendidikan yang menjadi hiburan dan hiburan yang merupakan pendidikan. Dengan “Edutainment” proses pendidikan akan semakin menarik dan menghasilkan lulusan yang semakin berkualitas.

  Perkembangan yang cepat di bidang teknologi, diikuti dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak kalah cepatnya akan berdampak pada aspek kultural dan nilai-nilai suatu bangsa. Tekanan, kompetisi yang tajam di pelbagai aspek kehidupan sebagai konsekuensi globalisasi, akan melahirkan generasi yang disiplin, tekun dan pekerja keras. Namun, di sisi lain, kompetisi yang ketat pada era globalisasi akan juga melahirkan generasi yang secara moral mengalami kemerosotan: konsumtif, boros dan memiliki jalan pintas yang bermental “instant”. Dengan kata lain, kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi yang terjadi, khususnya pada dua dasawarsa terakhir ini, telah mengakibatkan kemerosotan moral di kalangan warga masyarakat, khususnya di kalangan remaja dan pelajar. Kemajuan kehidupan ekonomi yang terlalu menekankan pada upaya pemenuhan berbagai keinginan material, telah menyebabkan sebagian warga masyarakat menjadi “kaya dalam materi tetapi miskin dalam rohani”.

  Di dunia pendidikan, globalisasi akan mendatangkan kemajuan yang sangat cepat, yakni munculnya beragam sumber belajar dan merebaknya media massa, khususnya internet dan media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat pendidikan. Dampak dari hal ini adalah guru bukannya satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Hasilnya, para siswa bisa menguasai pengetahuan yang belum dikuasai oleh guru. Oleh karena itu, tidak mengherankan pada era globalisasi ini, wibawa guru khususnya dan orang tua pada umumnya di mata siswa merosot.

Kemerosotan wibawa orang tua dan guru dikombinasikan dengan semakin lemahnya kewibawaan tradisi-tradisi yang ada di masyarakat, seperti gotong royong dan tolong-menolong telah melemahkan kekuatan-kekuatan sentripetal yang berperan penting dalam menciptakan kesatuan sosial. Akibat lanjut bisa dilihat bersama, kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja dan pelajar semakin meningkat dalam berbagai bentuknya, seperti perkelahian, corat-coret, pelanggaran lalu lintas sampai tindak kejahatan.

  Di sisi lain, pengaruh-pengaruh pendidikan yang mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan diri, kesabaran, rasa tanggung jawab, solidaritas sosial, memelihara lingkungan baik sosial maupun fisik, hormat kepada orang tua, dan rasa keberagamaan yang diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, justru semakin melemah. Nah, disinilah urgensi para pendidik, khususnya para guru, lebih khusus lagi para pendidik dan guru yang berkecimpung pada sekolah keagamaan atau sekolah yang dikelola oleh Organisasi Keagamaan, harus mengambil perhatian masalah ini dan mencari cara-cara pemecahannya. Sekolah harus menjadi benteng terakhir yang berperan membendung dampak negatif bawaan yang muncul dari teknologi informasi dan komunikasi yang menjamur tersebut.

Pentingnya Pendidikan Karakter

Dalam UU Nomor 2 tahun 1989 disebutkan bahwa keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah inti pendidikan kita. Tetapi dalam operasinya kita masih menempatkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan sebagai inti pendidikan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr.Ahmad Tafsir (1991 dan 1996) menggambarkan kebanyakan orang tua menyekolahkan anak dengan tujuan: 1) agar anaknya tidak nakal. Anehnya; 2) alasan pemilihan sekolah oleh orang tua murid telah bergeser, khususnya pemilihan SMA. Dahulu, mutu akademik SMA merupakan kriteria pertama dalam pemilihan, ukuran yang mereka gunakan ialah prosentase lulusan yang lulus perguruan tinggi favorit. Sekarang menemukan data bahwa sebagian besar orang tua murid menjadikan mutu akademik itu sebagai kriteria kedua. Kriteria nomor satu ialah besarnya kemungkinan sekolah itu mendidik anaknya agar tidak nakal. Jadi, tidak nakal merupakan kriteria pertama dalam pemilihan SMA.

Pergeseran itu dapat dipahami. Bila anaknya di SMA nakal maka akan timbul banyak kerugian. Pertama, orang tua akan malu bila anaknya nakal, kedua, prestasi akademik anaknya itu akan turun bila nakal, ketiga, kesehatan anak itu akan merosot bila nakal, keempat, kadang-kadang pengeluaran uang akan lebih besar bila anaknya nakal. Jadi sebenarnya harapan pertama orang tua murid kepada sekolah ialah agar anaknya tidak nakal.

Ada tiga tempat pendidikan yaitu sekolah, rumah, dan masyarakat. Lembaga pendidikan di rumah sudah jelas yaitu rumah tempat tinggal seseorang, lembaga pendidikan sekolah ialah sekolah dengan bermacam tingkat dan jenis. Adapun lembaga pendidikan yang berlaku di masyarakat ialah di lembaga-lembaga masyarakat seperti koperasi, kepolisian, pengadilan, penjara, organisasi politik, berbagai lembaga swadaya masyarakat, dan lain-lain.

Berhasilnya pendidikan membangun akhlak adalah amat penting bagi kita. Penting karena ia merupakan inti pendidikan kita. Penting untuk meneruskan perjalanan bangsa yang besar ini. Bangsa yang besar terutama ditandai oleh ketinggian akhlaknya. Berhasilnya pendidikan akhlak penting pula dalam rangka menyiapkan generasi penerus untuk mampu hidup dalam zaman global.

Dalam zaman global itu seseorang memerlukan pengendali yang kuat agar ia mampu memilih dan memilah nilai-nilai yang banyak sekali ditawarkan kepadanya. Agar zaman global tahan banting, maka bisa dilakukan dengan pendidikan, sebab Jalan terbaik dalam membangun seseorang ialah pendidikan. Jalan terbaik dalam membangun masyarakat ialah pendidikan. Jalan terbaik dalam membangun negara ialah pendidikan.

Gambar(Guru IPS Ekonomi SMP Nasima Semarang)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: