Oleh: majalah merah putih | April 10, 2012

ANI IDRUS (Tokoh Pejuang Pers Wanita Indonesia)

GambarSobat Merput yang iumut, yang disebut pejuang, tidak mesti orang yang mahir membawa senjata dan bertarung berhadapan dengan musuh bangsa. Jika selama ini kita mengenal RA Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Christina Martha Tiahahu, maka kali ini kita akan mengenal sosok Ani Idrus, yang lahir di Sawahlunto, Sumatra Barat pada 25 November 1918, merupakan salah satu tokoh pejuang wanita di bidang pers atau media cetak.

 

Dalam menekuni profesinya sebagai wartawan, Ani Idrus telah memiliki jam terbang yang cukup tinggi. Untuk mencapai jam terbang itu tentu tidak mudah, berbagai suka dan duka, upaya dan target serta kemauan yang kuat membuat apa yang dicita-citakan terkabul. Alat tulis dan keberaniannya mengkritisi kondisi masyarakat dan bangsanya, kemahirannya menulis untuk membakar semangat kemerdekaan dan mendorong pembangunan masyarakat, serta tulisan-tulisannya untuk mendidik bangsanya, itulah senjata utama wanita yang satu ini.

 

Di tahun 1936an ia sudah mencapai reputasi sangat baik di bidang pers. Bekerja pada harian “Sinar Deli” Medan, ia juga menerbitkan majalah politik “Seruan Kita” bersama dengan Haji Mohammad Said yang juga menjadi suaminya. Pada 11 Januari 1947 mereka menerbitkan :”Pewarta Deli”, “Majalah Wanita”, dan “Harian Waspada”. Tahun 1969, Ani Idrus memimpin sebanyak 4 jenis media cetak yaitu : Harian Waspada, majalah Dunia Wanita, edisi Koran Masuk Desa (KMD) dan Koran Masuk Sekolah (KMS). Pada tahun 1955, ia diberi kesempatan untuk melakukan peliputan perundingan Tengku Abdul Rahman dengan Chin Peng (pemimpin komunis Malaya) di Baling, Malaya. Tahun 1974, ia bersama rombongan Adam Malik menghadiri KTT Non Blok di Srilanka.

 

Selain berkecimpung dalam dunia jurnalistik, ia juga mendirikan dan memimpin lembaga pendidikan yang bernaung dalam Yayasan Pendidikan Ani Idrus. Pada akhir hayatnya, ia juga menjabat Ketua Umum Sekolah Sepak Bola WASPADA, Medan, Direktur PT. Prakarsa Abadi Press, Medan, dan Ketua Yayasan Asma Cabang Sumatera Utara.

 

Pendidikannya dimulai dari Sekolah Dasar di Sawahlunto selain tekun menuntut ilmu di madrasah diniyah dan mengaji di surau. Tahun 1928 ia pindah ke Medan, melanjutkan sekolah madrasah di Jalan Antara Ujung, Medan, kemudian masuk Methodist English School, Meisjeskop School, Schakel School, Mulo (Taman Siswa)  dan SMA sederajat. Pada tahun 19621965 menjadi mahasiswa pada fakultas hukum UISU Medan. Tahun 1975 sebagai mahasiswa fisipol di UISU, serta 19 Juli 1990 menyelesaikan ujian meja hijau dalam rangka memperoleh gelar doctoranda untuk jurusan ilmu sosial politik UISU.

 

Ia memulai profesi sebagai wartawan tahun 1930 dengan mulai menulis di majalah Panji Pustaka Jakarta. Kemudian, tahun 1936 bekerja pada Sinar Deli Medan sebagai pembantu pada majalah Politik Penyedar. Selanjutnya, tahun 1938 ia menerbitkan majalah politik Seruan Kita bersama-sama H. Moh. Said dan 1947 menerbitkan Harian Waspada juga bersama H. Moh. Said. Dua tahun kemudian, tahun 1949, menerbitkan majalah “Dunia Wanita”. Ia menjabat Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Umum Nasional “Waspada”, Majalah ”Dunia Wanita” dan edisi Koran Masuk Desa (KMD) dan Koran Masuk Sekolah sejak tahun 1969 sampai 1999. Pada tahun 1988 ia menerima anugerah Satya Penegak Pers Pancasila dari Menteri Penerangan R.I. (H. Harmoko), di Jakarta, di mana hanya anugerah itu diberikan pada 12 tokoh pers nasional. Selain itu, tahun 1990, ia juga menerima penghargaan dari Menteri Penerangan R.I. sebagai wartawan yang masih aktif mengabdikan diri di atas 70 tahun di Ujung Pandang.

 

Sebagai wartawati senior, ia juga ikut mendirikan dan membina organisasi PWI. Tahun 1951 turut mendirikan organisasi P.W.I. Medan, dan menjadi pengurus. Tahun 1953-1963, berturut-turut menjabat sebagai Ketua PWI Kring Medan. Tahun 1959 mendirikan Yayasan Balai Wartawan Cabang Medan, dan dipilih sebagai Ketua, selanjutnya mendirikan Yayasan Akademi Pers Indonesia (A.P.I.) dan menjabat sebagai Wakil Ketua. Tahun 1959 ia mendapat penghargaan dari PWI Cabang Sumut/Medan di Grand Hotel, karena telah berkecimpung dalam dunia pers selama kurang lebih 25 tahun. Ia mengambil alih kepemimpinan di Harian Waspada Medan tahun 1969 setelah H. Moh. Said mengundurkan diri. Pada 1979 ia menerima piagam Pembina Penataran Tingkat Nasional dari BP7 Jakarta. Kemudian, tahun 1984, bersamaan dengan hari Pers Nasional menjadi anggota KPB (Kantor Perwakilan Bersama) di Jakarta dari tujuh Surat kabar terbesar di daerah.

 

Ia banyak melakukan perjalanan Jurnalistik ke luar negeri. Tahun 1953 ia mengunjungi Jepang sebagai wartawan Waspada bersama rombongan misi dagang “Fact Finding” Pemerintah R.I. yang diketuai oleh Dr Sudarsono untuk merundingkan pembayaran Pampasan Perang. Tahun 1954 mengunjungi Republik Rakyat Cina. Tahun berikutnya, 1955 mengunjungi Belanda, Belgia, Perancis,Italia meliputi perundingan Tunku Abdul Rahman dengan Ching Peng, pimpinan Komunis Malaya, di Baling Malaysia. Tahun 1956 mengunjungi Amerika Serikat, Mesir, Turki, Jepang, Hongkong, dan Thailand. Kemudian, tahun 1961 dan 1962 mengunjungi Inggris dan Jerman Barat serta Paris. Lalu tahun 1963 mengikuti rombongan Menteri Luar Negeri Subandrio ke Manila, Filipina dan mengikuti perjalan Presiden R.I. ke Irian Jaya dalam rangka penyerahan Irian Barat kepangkuan Republik Indonesia. Selanjutnya, tahun 1976 mengikuti rombongan Adam Malik menghadiri KTT Non-Blok di Srilangka.

 

Ia juga mempunyai banyak pengalaman di bidang politik. Tahun 1934 ia memasuki organisasi Indonesia Muda, wadah perjuangan pergerakan pemuda, dan pernah duduk sebagai Wakil Ketua. Tahun 1937 menjadi anggota partai Gerakan Rakyat Indonesia (GERINDO) di Medan. Kemudianj 1949, menjadi anggota Partai Nasional Indonesia (PNI), beberapa kali menjabat sebagai Ketua Penerangan, dan pernah menjadi anggota Pleno Pusat PNI di Jakarta. Ia juga menghadiri Kongres Wanita Pertama di Jogya. Lalu, tahun 1950, ia mendirikan “Front Wanita Sumatra Utara” menjabat sebagai Ketua. Kemudian menjabat Ketua Keuangan Kongres Rakyat seluruh Sumatra Utara, menuntut pembubaran Negara Bagian Negara Sumatera Timur (NST). Selanjutnya menjadi anggota Angkatan-45 tingkat Pusat Jakarta. Ia juga mendirikan “Wanita Marhaeinis” dan menjadi C.P. (Komisaris Propinsi) ”Wanita Demokrat”. 1960-1967 ia menjadi anggota DPRGR Tingkat-I Propinsi Sumatra Utara dari Golongan Wanita. Tahun 1961 menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jendral Front Nasional Sumatra Utara yang dibentuk Pemerintah R.I. Tahun 1967-1970 menjadi anggota DPRGR Tingkat-I Sumatra Utara untuk Golongan Karya (Wartawan). Selanjutnya, 1984 diangkat sebagai Penasehat Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia.

 

Selain menggumuli dunia jurnalistik dan politik, ia juga berkecimpung dalam dunia pendidikan. Tahun 1953 mendirikan Taman Indria berlokasi di Jl. S.M. Raja 84, Medan khusus untuk Balai Penitipan Anak, Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Bahkan Pada tahun itu juga sempat mendirikan Bank Pasar Wanita selama dua tahun berkantor di Pusat Pasar 125, Medan. Tahun 1960 mendirikan Yayasan Pendidikan Democratic di Medan dengan tujuan mengembangkan dunia pendidikan dengan mendirikan Democratic English School di Jl. S.M. Raja 195, Medan (kemudian dibubarkan karena adanya larangan sekolah berbahasa asing).

 

Kemudian ia mendirikan SD Swasta “Katlia”, di Jl. S.M. Raja 84, Medan. SD Katlia ini kemudian menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan. Tahun 1978 mendirikan Yayasan Pendidikan Democratic dengan membuka jenjang sekolah TK, SD, dan SMP di Jl. S.M. Raja 195. Selanjutnya, 1984 mendirikan Sekolah Pendidikan Agama Islam setingkat SD yaitu Madrasah Ibtidaiyah Rohaniah di Jl. Selamat Ujung Simpang Limun, serta membangun mesjid disampingnya. Kemudian, 1987 mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIKP) dan mendirikan Kursus Komputer Komunikasi (K-3) di Gedung Kampus STIKP.

 

Karya Tulisnya antara lain: Buku Tahunan Wanita (1953), Menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci (1974), Wanita Dulu Sekarang dan Esok (1980), Terbunuhnya Indira Gandhi (1984), Sekilas Pengalaman dalam Pers dan Organisasi PWI di Sumatra Utara (1985), Doa Utama dalam Islam (1987).

 

Walaupun usia sudah lanjut, namun bagi Ani Idrus usia bukan penghalang untuk berkarya. Tidak pernah bosan dan tidak jemu adalah prinsip hidupnya untuk mengembangkan profesi khususnya di bidang jurnalistik. Sampai akhir hidupnya ia terus berkarya. Dan pada tanggal 9 Januari 1999 beliau meninggalkan dunia kembali menghadap Khaliknya. Namun karya dan pengabdiannya tetap dikenang oleh bangsa Indonesia.

 

Sosok Ani Idrus sangat berjasa bagi negara dalam memajukan pembangunan Indonesia, sehingga tidak mengherankan apabila pemerintah  RI mempunyai perhatian pada dirinya dengan memberikan segudang penghargaan antara lain: Satya Lencana Penegak Pers Pancasila, Anugrah Citra Wanita Pembangunan Indonesia, Anugrah Bintang Jasa Nararya (yang diserahkan Menteri Negara Urusan Peranan Wanita kala itu, Ibu Mien Sugandhi), penghargaan “Putra Penerus Pembangunan Bangsa”, “Lencana Emas”, “Tokoh Masyarakat Teladan Sumatera Utara”, penghargaan “Srikandi Award”, penghargaan “Who of The Year 1995″, penghargaan “Citra Abadi Pembangunan” dan “Anugrah Peniti Emas 50 Tahun” dari SPS cabang Sumatra Utara, dan terakhir setelah beliau meninggal mendapat  penghargaan “Bintang Mahaputera Utama” yang diserahkan Ibu Megawati sebagai Wapres RI. Tahun 2004 Pemerintah RI mengabadikan wajahnya dalam sebuah perangko. (i-jo, untuk Merput April 2012)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: