Oleh: majalah merah putih | April 10, 2012

Memburu Sun Rise di Pangandaran

Memburu Sun Rise di Pangandaran

Gambar

Rasa penat masih menghadang ketika adzan subuh berkumandang diantara suara deru ombak pantai pangantaran. Aha…diantara mimpi yang masih bersijejal,  kami tersadar tengah berada di hotel Ator, Jalan Pamugaran di kawasan barat Pantai Pangandaran. Kami menginap di hotel ini semalam setelah menempuh perjalanan panjang dari Semarang, Pemalang, Purbalingga dan Pangandaran. Sebuah rute yang tak lazim memang, karena perjalanan ini memang kami niati bukan sebagai perjalanan biasa. Ini perjalanan lelaki petualang.

Segera kami urai selimut dan mengibaskan sisa mimpi semalam. Pagi yang segar dengan sopai angin yang cukup kencang khas daerah pantai. Segera kami mengambil air wudlu dan menjalankan shalat subuh. Pagi ini kami hendak berburu sun rise di sisi timur pantai Pangandaran.

 

Kami tiba di sisi timur Pantai Pangandaran sedikit terlambat. Suasana pantai sudah terlihat ramai. Udara pagi masih terasa menggigit kulit. Kami memilih posisi  di atas tumpukan bebatuan, persis dipinggir pantai sehingga sesekali merasakan percikan air ombak yang menghantam bebatuan. Beberapa orang tampak  serius berdiri di sebuah dermaga bambu mengokang kamera menghadap ke arah matahari terbit. Ah…Adakah yang lebih indah dari peristiwa terbitnya sang surya? Ketika semburat warna merah saga memenuhi langit timur. Kemudian pelan-pelan, sebuah bola pijar raksasa muncul dari balik bukit dan memendarkan warna kuning keemasan pada  air laut laut yang tak lelah membentuk gelombang membentur batu-batu karang. Belasan perahu nelayan yang mengapung diatasnya membentuk lukisan alam yang luar biasa indahnya. Segala keagungan Tuhan terpancar pada lanskap mahaluas yang membentang agung.

Pesisir pantai timur pangandaran ini memang merupakan area yang selalu dinantikan para pengunjung. Di tempat ini pengunjung bisa menikmati terbitnya matahari pagi (sunrise). Sehingga jika saat subuh tiba, para pengunjung berbondong-bondong bergegas ke pesisir pantai timur. Mereka datang berhamburan bersama dengan para pedagang yang tak mau ketinggalan untuk mengais rejeki di sepanjang pantai timur itu. Sambil menikmati udara segar pantai Pangandaran, para pengunjung ada yang berjalan santai, sambil lari pagi, menggunakan sepeda santai ada juga yang menggunakan ATV.

Aktivitas pengunjung juga menjadi pemandangan tersendiri yang tak kalah mengasyikan. Keakraban, perasaan bahagia dan gelak tawa menjadi pemandangan yang lazim terlihat di raut wajah mereka. Memang benar, wisata harusnya menjadi bagian penting dalam kehidupan kita untuk merifres rutinitas hidup kita yang mungkin padat dengan pekerjaan. Di antara para pedagang yang tak kenal lelah menawarkan barang, beberapa pasangan muda bergandengan tangan menyongsong pagi yang menjelang. Hemm…asyik banget.

 

Sisi Barat Pantai Pangandaran

Inilah pantai paling legendaris di Jawa Barat. Keindahannya banyak menginspirasi orang untuk datang berkunjung ke pantai ini. Garis pantainya yang panjang mengingatkan saya pada pantai Kuta di Bali. Bulir pasir yang lembut dan ron airnya yang bersih sangat cocok untuk bermain-main. Karakteristik pantainya yang landai  serta jarak antara pasang dan surut relatif lama, memungkinkan kita untuk berenang dengan aman. Ditingkah oleh latar belakang  Cagar Alam Pananjung yang kaya akan flora dan fauna, pantai ini juga memberikan kesempatan unik bagi Anda untuk melihat terbit dan terbenamnya matahari.

Di pantai ini juga tersedia  alternatif kunjungan berupa atraksi pantai yang sangat menyenangkan, seperti wind surfing, scuba diving, snorkeling, berperahu  menyeberang ke Pasir Putih, serta melihat-lihat karang dan berbagai ikan hias yang indah di dalam laut. Pantai Pangandaran ini juga memiliki keistimewaan karena diapit oleh dua buah bukit kecil, hamparan landai pasir putih yang indah, serta angin yang berhembus pelan disertai riak ombak membuat pengunjung nyaman di pantai ini.

Berbagai aktivitias pantai seperti berenang, berjemur, bersantai dan memancing dapat dilakukan dengan nikmat di pantai pangandaran. Pondok pondok kecil yang disediakan juga dapat menjadi tempat yang cocok untuk menyaksikan matahari terbit atau tenggelam.

 

Gua Jepang di Cagar Alam

Matahari sudah semakin beranjak. Sengatnya cukup terasa dikulit kami. Tidak terasa,  waktu melesat deras ditengah rasa merdeka di laut selatan yang lepas. Rasanya tak mantap kalau menjelajah pangandaran kita tidak berkunjung ke Kawasan cagar alam Pananjung.  Dari Pantai Barat Pangandaran, kita harus berperahu motor untuk sampai  kawasan Cagar Alam Pananjung. Sempet hati ini dilanda gundah dengan fenomena tanggal 26 sebelum berperahu motor menantang derasnya ombak pantai selatan. Terbayang beberapa kejadian mengerikan pada tanggal itu, 26 Desember 2004 terjadi Tsunami di Aceh, 26 Juni 2010, gempa bumi di Tasikmalaya dan  26 Oktober 2010, gunung Merapi meletus, Gempa Yogyakarta terjadi pada 26 Mei 2006, Tsunami Mentawai terjadi pada 26 Oktober 2010.

Namun rasa penasaran lah yang akhirnya memenangkan pergulatan batin saya. Segera kami berlompatan ke atas perahu motor menyongsong ombak yang berbuih. Setelah sempat menyusuri deretan karang tempat burung-burung wallet bersarang, akhirnya kami mendarat di kawasan cagar alam Panunjang. Hamparan pasir putih menyambut kami. Seekor rusa bertanduk dengan malu-malu menghampiri kami. Agaknya rusa ini sudah cukup familiar dengan keberadaan pengunjung pulau. Setelah puas memandang hamparan pasir putih, kami melanjutkan perjalanan ke dalam kawasan konservasi Cagar Alam Pananjung.

Kawasan seluas 530 hektar ini memiliki kekayaan bunga Raflesia Padma, rusa dan berbagai jenis Kera. Masuk ke dalam kawasan ini, kami merasakan berada di dalam hutan yang masih cukup alami. Yang cukup menarik perhatian kami adalah keberadaan Gua Jepang yang terletak dibeberapa titik startegis dalam sudut pandang pertahanan.  Gua ini merupakan sisa-sisa Perang Pasifik atau Perang Asia Timur raya terjadi pada tanggal 8 Desember 1941. Struktur gua terbuat dari beton semen kokoh yang dikamuflasekan dengan rerimbun pepohonan. Masuk ke dalam segera terasa hawa dingin dan suasana singit yang tak terjelaskan. Gua Jepang di kawasan ini dibuat selama periode perang Dunia Kedua (1941 – 1945) dengan menggunakan kerja paksa selama kurang lebih 1 tahun.

Kembali menjelajah hutan, menikmati sejuknya angin dan derai pepohonan membuat waktu terasa berhenti di sini. Jalanan paving cukup membantu pengunjung menikmati penjelajahannya. Lengkingan serangga hutan, gelayut monyet-monyet didahan menjadi atraksi menawan. Puas rasanya bias menikmati perjalanan ini. (Taryadi)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: