Oleh: majalah merah putih | April 10, 2012

Prof Dr AT Soegito SH “BERILMU YANG AMALIAH, BERAMAL YANG ILMIAH”

Prof Dr AT Soegito SH

BERILMU YANG AMALIAH, BERAMAL YANG ILMIAH

 Gambar

Pak AT atau Prof AT adalah panggilan populer tokoh Merah Putih edisi ini. Enam puluh sembilan tahun usianya dipenuhi perjalanan hidup yang penuh warna. Anak keluarga kurang mampu ini pada puncaknya berhasil menjadi Rektor Universitas Negeri Semarang, guru besar, dan di masa pensiunnya menjadi kini ia didaulat menjadi Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah serta Tim Ahli BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan). Berkat perjuangannya yang tak kenal lelah, anak Desa Dumpil, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan ini akhirnya meraih sukses di masa dewasanya, bahkan mampu mewarnai dunia pendidikan negeri ini. “From zero to hero”, pepatah yang tepat menggambarkan perjuangannya. Rekam jejak Pak AT yang menarik itu dicatat dalam “notes” wartawan anak Merah Putih yang terdiri dari Dinda, Noverina, dan Kevin (semuanya siswa kelas VII SMP Nasima). Berikut ini adalah hasil wawancaranya.

 

Saat ini Bapak berprofesi sebagai apa? Memegang jabatan apa? Apa yang menjadi fokus dan kesibukan Bapak terkait profesi tersebut?

 

Saya ini pensiunan dosen Unnes, tapi karena menjadi guru besar atau profesor saya masih memberi kuliah pada mahasiswa S2 dan S3. Dulu sempat menjadi Pembantu Dekan, Dekan, Pembantu Rektor, dan Rektor Unnes. Sekarang saya diamanahi tugas menjadi Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah atau biasa disebut Wandik Prov Jateng. Ada beberapa tokoh dan pakar pendidikan yang tergabung di dewan pendidikan. Tugas kami adalah menghimpun, menganalisa, dan memberi rekomendasi atau saran-saran pada gubernur untuk menanggapi keluhan dan masukan masyarakat dalam hal pendidikan. Selain di wandik saya juga diberi tugas sebagai anggota tim ahli BSNP. Semuanya bukan organisasi struktural, hanya jabatan non struktural alias pengabdian. Intinya semua aktivitas saya sampai saat ini tak pernah jauh dari dunia pendidikan.

 

Bagaimana kisah perjalanan Bapak dari kecil sampai mampu meraih keberhasilan seperti sekarang ini?

 

Ceritanya panjang penuh lika-liku. Saya ini 9 bersaudara. Orang tua saya petani yang kurang mampu. Dari 9 anaknya hanya saya yang mengenyam pendidikan tinggi. Saya lahir di desa yang tertinggal saat itu. Kalau musim kemarau, wilayahnya kering kerontang tak bisa ditanami. Pada saat paceklik kami biasa makan nasi jagung bahkan ketela atau umbi-umbian. Untungnya saya ini memiliki cita-cita yang tinggi dan mau bekerja keras untuk mewujudkannya. Ketika saya berniat melanjutkan sekolah setelah lulus dari Sekolah Rakyat atau SR (setingkat SD) orang tua saya tetap mendukungnya meski hidup serba pas-pasan.  Termasuk ketika kuliah, meski hanya doa dan kata-kata motivasi orang tua saya tetap mendorong saya untuk sukses. Konsekwensinya saya harus bisa mandiri mencari uang untuk sekolah dan belajar sungguh agar cepat lulus.

 

Bagaimana riwayat pendidikan Bapak dari TK atau SD sampai yang pendidikan tertinggi?

Mungkin bisa disebutkan saat di SD apa, SMP apa, SMA apa dan seterusnya.

 

Saya mengawali pendidikan di Sekolah Rakyat selama 6 tahun di Ngaringan, lulus tahun 1957. Meneruskan di Sekolah Guru A (SG-A) di Wirosari hanya selama 3 tahun. Lulus 1959. Seharusnya 4 tahun. Saya lulus lebih cepat dan dapat beasiswa meneruskan SG-B di Kudus. Lulus 1962. Setelah itu kuliah di FKIP Undip (selanjutnya berubah menjadi IKIP Semarang dan sekarang menjadi Unnes) jurusan Seni Rupa. Karena saya tidak mampu membeli alat-alat seni rupa yang mahal-mahal saya keluar dan pindah jurusan Sejarah. Lulus tahun 1967. Kuliah S1 lagi di jurusan Hukum Untag, lulus tahun 1976. Setelah jadi dosen di Unnes saya S2 Manajemen di UII Yogyakarta dan S3 Manajemen Pendidikan di UPI Bandung.

 

 

 

Wawancara Warna Merput dengan Pak AT di ruang kerja Wandik Jateng

 

Apa kisah yang paling berkesan selama Bapak bersekolah?

 

Sebagai anak orang tak mampu saya sekolah SR tanpa memakai sepatu, seragam juga hanya satu. Untuk berangkat dari rumah ke SR saya jalan kaki sekitar 6 kilometer. Saat di SG-B dan SG-A saya mencari uang untuk biaya sekolah dengan menjual gambar. Paling banyak gambar  wajah wanita cantik. Saya ini lumayan pintar menggambar lho…! Waktu SG-A saya juga bisnis kecil-kecilan. Saya jadi makelar sepeda, jam tangan, dan kaca mata. Tahun 1960 terjadi paceklik karena hama tikus, sehingga banyak orang menjual harta bendanya untuk makan antara lain sepeda, jam tangan, radio, dan sebagainya. Saya membelinya dengan harga murah lalu menjualnya di Semarang dengan harga yang lebih tinggi. Saya berangkat dan pulang Grobogan-Semarang atau Kudus-Semarang menggunakan kereta “kluthuk”, kereta uap berbahan bbakar kayu. Uang yang terkumpul saya belikan sembako untuk saya jual di Kudus atau Grobogan. Uang berputar terus semakin banyak. Cukup untuk biaya sekolah dan modal usaha.

 

Apakah Bapak juga sempat usil atau nakal saat sekolah?

 

Usil atau nakal sewajarnya anak sekolah. Saya suka mengambil tebu di kebun atau “ndodosi” tebu dari lori atau kereta pengangkut tebu Pabrik Gula Rendeng Kudus. Beberapa saya simpan berhari-hari di bawah tempat tidur kos. Tebu yang sudah disimpan lama rasanya menjadi lebih manis. Kadang-kadang juga lupa shalat karena keasyikan kegiatan atau bermain.

 

Prestasi apa saja yang Bapak raih ketika masih menempuh pendidikan?

 

Saya selalu mendapat ranking waktu sekolah. Bisa lulus 3 tahun di SG-B dan mendapat beasiswa masuk SG-A. Pernah menjadi Ketua Persatuan Pelajar Sekolah Guru (PPSG) Jawa Tengah dan dikirim dalam Kongres Nasional PPSG.   Waktu mahasiswa lulus sebagai wisudawan terbaik. Aktif di kegiatan mahasiswa menjadi Ketua Senat Mahasiswa, Dewan Mahasiswa, dan Resimen Mahasiswa di masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru. Di Unnes, bisa menjadi Pembantu Dekan, Dekan, Pembantu Rektor III, Pembantu Rektor I, Rektor, dan Direktur Pascasarjana. Pernah juga menjadi anggota DPRD II, DPRD I, dan DPR. Sekarang jadi Ketua Dewan Pendidikan dan anggota BSNP. Punya anak dan cucu-cucu, serta banyak mahasiswa yang sukses meraih cita-citanya. Itu semua adalah kesuksesan yang berhasil saya raih berkat peran orang tua, terutama Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

Bagaimana peran orang tua dan keluarga dalam mendukung belajar Bapak? Apakah mereka menerapkan kedisiplinan. keteladanan atau mungkin ada resep khusus sehingga Bapak bisa sesukses sekarang?

 

Ketidakpunyaan, kerja keras, motivasi, dan doa orang tua sangat menginspirasi saya untuk selalu berusaha sekuat tenaga mewujudkan harapan-harapan saya. Mereka sangat berarti bagi hidup saya. Mereka tut wuri handayani  atas kemauan keras dan usaha-usaha saya.

 

Siapakah tokoh yang disegani atau mampu memberi inspirasi untuk menjadi anak baik yang semangat belajar dan berakhlak mulia?

 

Pertama adalah Bung Karno (Ir Soekarno), dia adalah pejuang, proklamator sekaligus presiden RI pertama. Nasionalisme, kharisma, dan kemampuan pidatonya sangat saya kagumi. Kedua adalah Letnan Jenderal Achmad Yani. Saat itu beliau menjabat Panglima Kodam Diponegoro. Jenderal muda yang cerdas ini berani mengatakan tidak pada PKI. Dia memastikan terlebih dahulu kalau mahasiswa harus bebas dari PKI. Saya pernah bertemu beliau saat saya dan para ketua senat mahasiswa se Jawa Tengah dilantik sebagai Komandan Ex Officio Resimen Mahasiswa. Dalam pidato pelantikan, Pak Yani menanyakan apakah mahasiswa yang dilantik ada yang menjadi anggota PKI dan serentak kami menjawab tidak. Ketiga adalah Pak Soeharto, presiden kedua RI. Semangat membangun lewat program PELITA dan komitmennya pada bangsa ini  luar biasa sehingga Indonesia disegani negara lain. Dari segi keagamaan saya mengagumi tokoh Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid). Beliau guru bangsa yang mengusung pluralitas dalam beragama dan demokrasi secara santun.

 

Bagaimana sih penilaian Bapak terhadap dunia pendidikan jaman sekarang dibandingkan dengan dulu, utamanya di Jawa Tengah?

 

Ada yang maju, jalan di tempat, dan mundur. Yang maju antara lain pesatnya sarana prasarana, prestasi internasional, banyaknya sekolah bagus, tenaga pendidik yang semakin berkualitas dari sisi akademiknya, dan sebagainya. Yang jalan di tempat adalah komitmen dan kesatuan pandangan antara pemerintah dan masyarakat tentang bagaimana cara yang sistematis untuk memajukan pendidikan nasional. Kita belum punya blueprint, master plan atau semacam program jangka panjang, menengah, dan pendek. Seperti GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) atau REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun) jaman Orde Baru dulu. Dengan sistem politik sekarang ini, program-program pendidikan tidak bisa sistematis karena sangat bergantung pada kemauan politik partai penguasa dan siapa menterinya. Yang mundur adalah penjiwaan guru sebagai pendidik bukan sekedar pengajar. Menjadi guru dulu harus lewat SG-A (sekolah guru 4 tahun setingkat SMP), SG-A (sekolah guru 4 tahun setingkat SMA).  Setelah itu diganti SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Sekolah guru itu sangat mendetail menyiapkan guru dari sudut filosofis, teori, dan praktik pedagogik. Kalau ingin lebih baik lulusan sekolah guru bisa melanjutkan kuliah ke FKIP atau IKIP. Jadi menjadi guru itu panggilan jiwa, bukan hanya karena mencari pekerjaan. Salah satu dampaknya adalah lunturnya pendidikan karakter pada anak didik kita. Hal itu diperparah dengan penyikapan yang salah oleh anak didik dan masyarakat terhadap globalisasi. Pengaruh kebudayaan asing dan teknologi tak mampu disaring dengan baik, sehingga banyak hal buruk yang justru diterapkan di sini.

 

 

 

Dinda, Noverina, Kevin, foto bersama Pak AT yang bangga terhadap Merah Putih

 

Apa prinsip Bapak dalam meraih keberhasilan dan menjalani profesi saat ini?

 

Belajar dan berusaha terus tanpa kenal menyerah. Kesulitan atau hambatan adalah tantangan atau ujian. Mohon doa restu orang tua dan guru kita untuk memperlancar segala upaya kita. Kalau prinsip saya dalam menjalani profesi adalah jujur, beretika, professional, dan menjadikan segala pekerjaan kita itu sebagai ibadah. 

 Kalau prinsip dalam mendidik keluarga bagaimana?

 

Orang tua harus bisa menjadi teladan, mampu menjadi fasilitator dan motivator. Jangan lupa untuk selalu mendoakan dan memberi nasehat-nasehat yang baik untuk anak-anak kita. Anak-anak kita itu memiliki karakter yang beragam. Oleh karena itu jadikanlah mereka sebagai diri sendiri. Biarlah anak-anak menentukan jalan hidup sendiri sesuai bakat minatnya secara bertanggungjawab.

 

Bapak mohon kami diberi nasehat atau pesan agar kami dapat meneladani perjuangan Bapak/Ibu meraih cita-cita!

 

Selain prinsip-prinsip di atas, tolong terapkan 3B. Pertama, berdoa dan bekerja, bekerja dan berdoa istilah latinnya ora et labora.  Kedua, berilmu yang amaliah, beramal yang ilmiah. Kalau kita memiliki ilmu atau keterampilan amalkan lewat pembelajaran, tulisan atau cara apapun agar orang lain atau anak didik kita bisa menerima, syukur mengembangkan ilmu yang kita berikan. Jariyah ilmu istilahnya. Ilmu kita semakin lama semakin berkembang, bahkan ketika kita sudah tiada penerus kita masih menerapkan ilmu yang diperoleh lewat kita. Namun beramal itu harus ilmiah. Kalau kita merasa lelah ya istirahat sejenak, kalau kita punya gaji 1 juta yang kita sedekahkan ya sekitar 2,5 persennya, 25 sampai 50 ribu. Yang tersisa untuk mencukupi kebutuhan hidup kita. Bukan menggunakan semua gaji kita untuk sedekah, nanti kita makan apa? Beramal yang ilmiah. Kita pakai dasar Al-Qur’an dan Hadits tentang aturan zakat atau infaq. B yang ketiga, bersyukurlah! Syukuri apapun yang kita terima dari Allah. Syukur itu akan memperlancar turunnya nikmat-nikmat lain yang lebih besar. (warna merput & pram)

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: