Oleh: majalah merah putih | Agustus 30, 2012

HIDUP TANPA CITA-CITA SEPERTI KAPAL BERLAYAR TANPA ARAH

Gambar

 

Nama lengkap                      : Prof.Dr.HM.Ali Mansyur,S.H.,Sp.N M.Hum.

Tempat Tgl Lahir                  : Boyolali, 17 Oktober 1963

Alamat                                    : Jl. Panda Dalam No 32 Semarang

Nama istri                              : Hj. Azizah M.H.

Nama anak                           : 1. Mustofa Kamal Azizi (FT Undip Smt 1)

                                                  2. Muhammad Farid Akbar (Kelas X SMA Nasima)

                                                  3. Salma Nur Hanifah (Kelas VIII SMP IT PAPB)

Pendidikan

S1                                           : Universitas Islam Sultan Agung Semarang (Hukum)

S2                                           : Universitas Diponegoro Semarang

S3                                           : Universitas Diponegoro Semarang

 

HIDUP TANPA CITA-CITA SEPERTI KAPAL BERLAYAR TANPA ARAH

 Nama Prof.Dr. Ali Mansyur tak asing lagi bagi warga Kota Semarang dan Jawa Tengah. Pakar hukum dan guru besar Unissulla ini kini tercatat aktif di berbagai lembaga sosial, hukum, dan pendidikan. Merah Putih mendapat kesempatan emas untuk mewancarainya   di Kantor Yayasan PABB Semarang. Berikut petikan wawancaranya.

Gambar

 Assalamu alaikum Prof, perkenalkan kami dari Tim Warna Merput ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan. Saat ini Bapak berprofesi sebagai apa, jabatan apa saja yang Bapak pegang ?

 

Walaikum salam. Saya profesinya sebagai dosen atau guru besar di Fakultas Hukum Universitas Sultan Agung Semarang. Adapun tugas-tugas pengabdian  ya kita memang selalu menyertai masyarakat, menyertai umat. Karena bagian dari visi atau misi hidup saya adalah bagaimana kita bisa memberikan manfaat atau daya guna bagi orang lain yang sebesar-besarnya.

 

Fokus kegiatan saat ini?

Tugas utamanya tentu mengajar. Tetapi tugas lain sebagai tanggung jawab pengabdian   sebagai ketua takmir masjid, Ketua Umum Yayasan PAPB, Pimpinan Pondok Pesasntren Al Ihklas, Ketua Komisi Peradaban Islam MUI Jateng, Wakil Ketua Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah,  Dewan Penasihat Majlis Pertimbangan Pengembangan Agama Islam Jateng, Ketua Dewan Pakar Tarbiyah Islamiyah Jateng, dan masih bayak lagi. Ada enam belas pengabdian dalam rangka mengabdikan hidup ini untuk umat dan masyarakat.

 

 

Gelar akademik yang Bapak peroleh begitu banyak, bisa diceritakan kepada kami prosesnya?

Saya ini orang desa   dari Boyolali. Waktu kecil  saat musim kemarau saya biasa menggembala kambing, menggembala sapi. Sambil kita bermain dengan temen-temen. Pada musim kemarau itu kita biasanya mengambil air untuk menyirami tanaman palawija. Ada timun, lombok, kacang panjang, waluh, dan lain-lain. Dari sungai kita pikul pakai alat namanya bleg. Kemudian pada sore hari kita memetik buah-buah itu dan pada malam harinya, kira-kira jam dua belas malam   kita bawa ke pasar memakai bronjong, naik sepeda. Menjelang pagi, bakda subuh kadang dagangan belum laku semua, ya cepat-cepat kita jual karena paginya harus berangkat sekolah ke Solo.Jarak rumah saya dengan sekolah kira-kira 17 kilometer. Saya tempuh dengan naik sepeda. Jadi spirit itu yang mengilhami bahwa kita harus berusaha bagaimana   menjadi orang yang sukses, itu kata kuncinya. Saya patut  bersyukur sejak kecil saya oleh orang tua disekolahkan dobel.  Ya di SD dan MI, SMP dan Tsanawiah, SMA dan Aliyah. Sehingga begitu lulus SMA saya memiliki penguasaan ilmu yang dobel. Disamping ilmu umum juga agama. Sehingga tidak heran saya sudah berani memberikan khotbah jumat itu sejak SMA kelas II kira-kira tahun 1972. Saya sekolah MI di sekolah yang didirikan oleh Bapak saya sendiri.

Tahun 1980 saya hijrah ke Semarang. Saya bukan termasuk orang yang pintar, karena tidak diterima di PTN. Cita-cita saya dulu mau kuliah di fakultas kedokteran, fakultas teknik sipil, fakultas pertanian, semuanya tidak ada yang diterima. Itu artinya bahwa memang dari segi kemampuan saya tidak termasuk orang-orang yang pintar. Tetapi saya punya spirit hidup melalui ketekunan insya Allah kita akan sampai ke tujuan, Jadi    rajin pangkal  pandai itu benar adanya.

Saya dari desa, bukan termasuk anak yang pintar, tetapi karena ketekunan dan  atas izin Allah bisa sekolah dari jenjang S1, S2, S3, sampai  seperti sekarang ini. Semua berproses dari ketekunan. Jadi tekun adalah modal yang sangat mahal.Dan yang tidak kalah pentingnya adalah doa orang tua. Kita harus selalu ingat bahwa sukses kita karena doa orang tua. Seperti hadist nabi bahwa keridhoan Allah seorang anak bergantung keridhaan Allah kepada orang tuanya, Makanya kita harus berbakti kepada kedua orang tua kita.

 

 

 

 

 

Selama menempuh pendidikan, prestasi apa saja yang pernah Bapak peroleh?

Jadi begini. Saya tadi sudah mengatakan bahwa saya bukan termasuk anak yang pinter tetapi tekun. Dulu waktu di SD saya tidak pernah  duduk di  kelas VI. Kelas V langsung ikut ujian. Tidak tahu bagaimana   kok kepala sekolah  memanggil saya untuk  mengikuti ujian. SD,SMP,SMA tidak termasuk anak pelajar yang pinter.

Nah begitu saya kuliah di Fakultas Hukum Unisulla disitulah  tumbuh semangat keprihatinan, semangat kesungguhan. Sampai pada suatu saat saya juga pernah mendapat predikat mahasiswa teladan. Pernah menjadi ketua umum Senat Mahasiswa. Kemudian juga menjadi wisudawan terbaik saat itu.

Dan dari situlah kemudian Allah memberi kemudahan, saya tidak perlu mencari kerja. Pekerjaan itu datang mencari. Saya ditawarkan oleh Rektor Unisulla pada saat itu Prof. Bendoro Pangeran Haryo Hapsoro  Hadiwijoyo SH menjadi dosen di IAIN Walisongo di Fakultas Syariah dan diterima. Kemudian saya harus melengkapi persyaratan administrasi. Nah ternyata nama saya di ijazah mulai dari SD,SMP, dan SMA berbeda dengan ijazah sarjana. Tangggal lahirnya juga begitu, beda semua. Akhirnya saya   menyatakan tidak sanggup melengkapi persyaratan tersebut dan paginya saya menghadap rektor IAIN menyatakan mengundurkan diri menjadi dosen. Sebenarnya dari IAIN memberi waktu toleransi sampai setengah tahun untuk mengurus administrasi tersebut. Namun bersamaan dengan itu saya juga mendapat pemberitahuan dari Unisula karena saya menjadi wisudawan terbaik saya diangkat menjadi dosen di Fakultas Hukum Unisulla. Sampai sekarang pengabdian saya sudah hampir 25 tahun.

 

Apa pengalaman paling berkesan saat sekolah?

Saya memang selalu punya kebiasaan membaca, belajar tertib, datang ke perpustakaan. Jadi membaca merupakan bagian hidup saya. Waktu SMA  saya sampai izin tidak mengikuti pelajaran untuk baca di perpustakaan.Apalagi saat menjadi mahasiswa kebiasaan   mengunjungi perpusatakaan semakin sering. Bisa dibilang rumah kedua saya adalah perpustakaan. Saya biasa datang lebih awal dari petugas perpusnya.

 

 

Keberhasilan Bapak dalam karier tentu atas peran keluarga terutama otang tua. Boleh dong diceritakan kepada kami?

Bapak saya orang yang sangat bijak. Beliau tidak pernah marah berapapun nilai sekolah yang saya peroleh. Setiap pagi sebelum berangkat ibu saya  sudah menyediakan sarapan. Kadang  hanya sarapan dengan nasi kemarin, lauknya gereh (ikan asin), timun, lombok ijo  . Tetapi sungguh nikmat yang tiada terkira.

 

 

Siapa tokoh yang Bapak jadikan inspirasi dan keteladanan sehingga bisa sukses seperti sekarang ini?

Tokoh keteladanan paling hebat ya Baginda Rasulullah SAW. Beliau terlahir sebagai yatim piatu tetapi tidak pernah mengenal kata putus asa dan mampu mengubah dunia.

 

 

Apa prinsip Bapak dalam mendidik keluarga?

Prinsipnya adalah keteladanan. Kepala keluarga harus menjadi contoh bagi anggota keluarga. Saat saya mengajak anak-anak untuk salat berjamaah di masjid, saya pasti sudah siap memakai sarung, baju koko, kopiah, pokoknya siap berangkat. Begitu juga saat membangunkan anak-anak untuk salat subuh saya juga sudah siap untuk salat. Jadi mereka tidak sakit hati walaupun kadang saya bangunkan menggunakan cipratan air. Alhamdulillah walaupun mereka jauh dari orang tua, saya tidak khawatir lagi tentang kewajiban salat mereka.

 

Mohon kami diberi nasihat agar   dapat meneladani perjuangan Bapak dalam menggapai cita-cita!

 

Kunci untuk menjadi orang yang sukses, pertama    kita harus   taat beragama, berbakti kepada orang tua, hormat kepada guru, Tidak ada ada seorag murid yang sukses tanpa guru. Harus baik dengan sesama.

Kedua kita harus punya cita-cita, imagination. Hidup tanpa cita-cita seperti kapal berlayar tanpa arah. Seperti  orang berjalan tanpa tujuan.

Ketiga, kita harus punya program. Kapan saya harus belajar, kapan saya harus main, kapan saya santai, itu sudah ada dalam program hidup kalian.

Keempat, kita tidak boleh menunda berbuat baik. Belajar jangan mengatakan besok, next time. Kalau perlu tulis di ruangan belajar kalian”menunda belajar sama dengan menggali kegagalan sendiri”. Jadi kalian tidak akan menunda belajar. Jangan berhenti belajar sebelum kita betul-betul menguasai materi tersebut.

Kelima, kita harus tekun.Orang hidup yang tidak tekun tidak akan tekan. Di dunia tidak ada orang yang sukses tanpa ketekunan.

Keenam, kita harus disiplin.Jam berapa belajar, jam berapa tidur, jam berapa bangun, harus kita atur.

Ketujuh, kita harus menjadi orang yang kreatif. Selalu memiliki gagasan  ide-ide, inovasi, untuk  masa depan kita. Kebanyakan orang sukses adalah orang yang kreatif.

Kedelapan kita harus selalu berdoa, memohon kepada Allah.Jangan lupa kita semua lemah. Yang punya adalah Allah.Yang menciptakan kita Allah, yang memberi ilmu kita Allah, yang membuat sukses kita Allah.Kalau resep-resep ini kita lakukan insya Allah kita akan sukses, Tidak hanya sukses dunia tetapi juga sukses akhirat. Allahumma Amin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: