Oleh: majalah merah putih | Agustus 30, 2012

LEPASKAN ENERGI NEGATIFMU SEKARANG JUGA…!

 LEPASKAN ENERGI NEGATIFMU SEKARANG JUGA…!

 

 A.   MONYET DAN KACANG/PISANG

 Ada sebuah artikel yang pernah penulis baca, mengenai cara unik menangkap monyet di hutan. Di hutan-hutan Afrika ada suatu cara menangkap monyet, yakni menggunakan perangkap supaya monyet-monyet bisa ditangkap dalam keadaan hidup, tak cedera, agar bisa dijual untuk dijadikan hewan percobaan atau binatang sirkus.

 

Pemburu monyet menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu diisi kacang atau pisang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka meletakkannya di sore hari, dan menanam toples itu erat-erat ke dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan.

 

 

Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi. Monyet-monyet itu tak mau melepaskan tangannya sebelum mendapatkan pisang-pisang atau kacang-kacang yang menjadi umpan jebakan. Mereka tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan terjebak. Monyet itu, tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan pisang yang di gengamnya. Selama ia tetap mempertahankan pisang-pisang itu, selama itu pula ia tetap terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab tertanam di tanah. Si Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.

 

Kita mungkin tertawa dengan tingkah monyet itu. Kita bisa jadi terbahak-bahak saat melihat kebodohan monyet yang terperangkap dalam toples. Tapi, mungkin, sesungguhnya, kita sedang menertawakan diri kita sendiri. Betapa sering, kita mengenggam setiap permasalahan yang kita miliki, layaknya monyet yang mengenggam pisang. Kita sering mendendam, tak mudah memberikan maaf, tak mudah melepaskan maaf, memendam setiap amarah dalam dada, seakan tak mau melepaskan selamanya.

 

Seringkali, kita, yang bodoh ini, membawa “toples-toples” itu kemanapun kita pergi. Awalnya boleh saja terasa ringan, tetapi semakin lama kita membawa “toples-toples” itu, maka rasanya akan jauh semakin berat. Dengan beban yang berat, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap dengan persoalan pribadi yang kita alami. Pembaca Majalah Merput yang budiman, bukankah akan lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lalu, dan menatap hari esok dengan lebih cerah?

 

Bukankah lebih menyenangkan, untuk memberikan maaf bagi setiap orang yang pernah berbuat salah kepada kita? Karena, kita pun bisa jadi juga telah berbuat kesalahan yang sama kepada orang lain. Ya…, dengan berbagai alasan, seringkali kita  memendam permasalahan, memendam rasa benci, memendam kekecewaan, memendam dendam kesumat, yang justru menambah beban dalam kehidupan kita, membusuk dan mengotori hati kita yang awalnya bening…. Mari, segera lepaskan dengan ikhlas toples-toples pembawa energi negatif itu, kita pasrahkan kepada Tuhan Yang Maha Mengurusi, agar langkah kita semakin ringan, hati bening kita kembali bersinar…! (i-jo, untuk Merput Juli 2012)

 

 

B.  PISANG DAN HATI

 

Ibu Atun, seorang guru Sekolah Dasar yang kreatif, mengajarkan satu permainan yang sungguh menarik untuk murid-muridnya. Setiap murid diminta membawa tas plastik yang berisi pisang yang tertulis nama orang yang paling mereka benci ke kelas pada esok hari. Jadi, jumlah pisang yang perlu dibawa bergantung kepada jumlah orang yang dibenci. 

Keesokan harinya, setiap murid membawa tas plastik berisi pisang masing-masing. Ada yang membawa tiga biji, ada juga yang lima biji dan paling banyak delapan biji. Semuanya sudah ditulis nama orang yang paling mereka benci.

“Sekarang simpanlah pisang-pisang kalian itu. Jangan lupa bawalah kemana saja kalian pergi selama seminggu. Inilah permainannya. Setelah seminggu, kita akan lihat hasilnya”, tandas Bu Atun. Anak-anak tersebut menyimpan pisang mereka di dalam tasnya masing-masing.

Hari demi hari berlalu, pisang tersebut mulai berbintik-bintik dan akhirnya menjadi busuk. anak-anak itu mulai protes dan marah. Mereka tidak menyukai permainan itu lagi karena selain tas berat, badan pun berbau busuk. Ada yang menangis, enggan meneruskan permainan.

Seminggu pun telah berlalu. Pagi harinya murid-murid Bu Atun bersorak-sorai. Permainan sudah selesai! Tidak ada lagi beban berat dan bau busuk yang perlu mereka bawa.

“Oke anak-anakku semua…, sekarang ibu Tanya, bagaimana rasanya membawa pisang dalam tas kesana kemari selama seminggu?” tanya Bu Atun. Semuanya serentak mengatakan mereka benci permainan itu. Mereka kehilangan teman, sering diejek dan tersingkirkan. Lebih jeleknya terpaksa tidur, makan, mandi, bermain dan menonton TV dengan bau busuk.

Dengan tersenyum penuh arti Atun menjelaskan kepada murid-muridnya, “Itulah sebenarnya yang terjadi jika kita menyimpan perasaan benci pada orang lain dalam hati. Bau busuk kebencian itu akan mencemari hati yang suci menjadi rusak, bernoda, dan celakanya lagi kita akan membawanya ke mana saja kita pergi. Jika kalian saja tidak tahan dengan bau pisang busuk hanya untuk seminggu, cobalah membayangkan apa yang akan terjadi jika kalian menyimpan kebencian sepanjang hidup kalian…!”. Atun mengingatkan anak muridnya supaya membuang jauh-jauh perasaan benci dari pada membebani hidup. Memaafkan adalah tindakan yang bijak. Menyayangi lebih baik daripada membenci.

 

Pembaca dan sahabat Merput, mulai saat ini, jangan letak pisang dalam tas. Dan jangan simpan kebencian, dendam kesumat, atau apapun hal-hal negative yang tidak enak di dalam hati. Seperti pisang yang makin membusuk di dalam tas itu, begitu juga dengan hati…. (i-jo, untuk Merput Juli 2012)

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: