Oleh: majalah merah putih | Agustus 30, 2012

PENDIDIKAN DIBAWAH KEMENTERIAN AGAMA BERANJAK MEMBAIK

H IMAM HAROMAEN ASY’ARI., MSI

Kualitas Pendidikan Madrasah Terus Meningkat!

 Gambar

 

Menelisik persoalan mutu pendidikan madrasah tentunya tersirat persoalan serius. Banyak pihak menilai, mutu madrasah tertinggal dibandingkan lembaga pendidikan lainnya (sekolah), dan perlu upaya-upaya strategis atau kiat-kiat khusus agar madrasah dapat mengejar ketertinggalannya. 

Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan nasional (UUSPN), madrasah memiliki kedudukan dan peran yang sama dengan lembaga pendidikan lainnya (persekolahan). Melihat kondisi madrasah saat ini seharusnya, pemerintah tidak lagi menomorduakan madrasah, melainkan memperlakukannya secara khusus agar dapat mengejar ketertinggalannya dan tidak lagi menjadi forgotten community.

 

Disisilain, berdasarkan  data dari Mapenda Kementrian Agama Provinsi Jateng menyebutkan 60 persen guru Madrasah dari tingkat Raudhatul Athfal (TK) hingga Madrasah Aliyah di wilayah Provinsi Jawa Tengah belum mengantongi Sarjana. Hal ini dinilai akan mempengaruhi mutu pendidikan yang dihasilkan madrasah sebagai wadah pendidikan memadukan umum dan agama.

 Sementara untuk kalangan pendidik, guru Madrasah di Jawa Tengah ini, baru 40 persen yang sudah sarjana, hal ini sangat memprihatinkan karena kompetensi guru mempengaruhi mutu yang dihasilkan oleh madrasah.

 Berdasarkan data, jumlah madrasah di Jawa Tengah dari tingkat TK hingga Madrasah Aliyah (MA) tercacat sebanyak 9.658 madrasah dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 93.504 orang.  Dari jumlah tersebut baru 40 persen yang mengantongi gelar sarjana, sedangkan 17.730 sudah masuk guru negeri, sisanya sebanyak 75.774 orang masih berstatus guru honorer atau wiyata.

 “Mutu pedidikan dibawah naungan Kemenag Provinsi Jawa Tengah terus mengalami kemajuan bahkan saat ini sangat membanggakan. Salah satu contohnya pada saat ujian nasional sudah tidak mengecewakan. Bahkan tahun ajaran 2010/2011 lulusan Madrasah Aliah terbukti bisa lebih unggul dari SMA, sedangkan untuk SMP hanya terpaut sedikit,” ujar Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Jawa Tengah, H. Imam Haromaen Asy’ari MSi kepada Merah Putih diruang kerjanya baru-baru ini.

Diharapkan, Ujian Nasional tahun pelajaran 2011/2012 ini prestasi kelulusan siswa Madrasah lebih meningkat dari tahun lalu. Jika harapan itu tercapai maka pembinaan oleh kepala madrasah dan oleh Kemenag merupakan bukti nyata bahwa Madrasah bisa semakin hari semakin mendapat kepercayaan dari masyarakat,papar Imam Haromaen.

Keseriusan Kementerian Agama khususnya didalam penyelenggaraan pendidikan madrasah, harus kita pertahankan. Paling tidak diluar jam-jam mata pelajaran yang relatif sama antara Madrasah Aiyah (MA) dengan SMA, Madrasah Tsanawiyah (MTs) dengan SMP, Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan SD,  ada  pendidikan yang menjadi ciri khusus madrasah yaitu Pendidikan Agama.

Kita harapkan Pendidikan Agama akan memberikan perubahan moral, akhlak dan budi pekerti kepada anak. Bangsa ini kalau  tidak dikawal oleh generasi-generasi yang berakhlak mulia, akan rusak. Insya Allah berkembangnya madrasah dengan pendidikan agama akan terus memperbaiki akhlak dan karakter generasi muda Indonesia.  Generasi berikutnya akan semakin bagus, menjadi penyelenggara pemerintahan, penyelenggara apa saja di negeri ini, dan dalam kehidupannya bermasyarakat,  akan menciptakan kesejukan, perdamaian, dan akhirnya tercapailah tujuan hidup bermasyarakat. (dr)

H JASMUN EFENDI MPdI

“Hampir 99 % Siswa Madrasah Tergolong Miskin” 

 Gambar

 

 

“Dari 9658 madrasah tersebut, yang negeri berjumlah  298. Terdiri atas Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN)  114, Madrasah Tsanawiyah Negeri  (MTsN) 121 dan Madrasah Aliyah (MAN) 63. Diampu oleh 93.504 guru, dimana yang sudah PNS hanya 17730 (data 2011). Sisanya 75 Ribu masih swasta.  Dari 93.504 guru yang  sudah S-1 sekitar 40 % sedangkan 60% proses menuju S-1. Yang sudah sertifikasi ada sekitar 35 %,” papar Kepala Devisi Mapenda Kemenag Provinsi Jawa Tengah, H Jasmun Efendi M.PdI.

 

Dikatakannya, Madrasah baru mulai bangkit  setelah diundangkannya UU NO 20 tahun 2003 UU 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, PP 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. Karenanya otomatis disana-sini masih perlu ada perbaikan dan peningkatan. 

Dari tahun ketahun kelulusan semakin membanggakan. Tahun 2010/2011 siswa di MI lulus 100%, di MTS lulus 99,41 % dan Madrasah aliyah 99,53 %. Artinya secara kuantitatif lulusan di madrasah cukup bagus.

Persoalan yang ada paling  banyak dari segi input siswa. ini persoalan di madrasah karena hampir 99 % siswa madrasah berasal dari kalangan ekonomi sulit. Dengan kemampuan ekonomi ini menunjukan bahwa tingkatkesadaran, tingkat kemampuan berfikir dan  motivasi dari orang tua  sangat minim. Ini beban bagi Kemenag.  Persoalan lain adalah SDM yang ada, sekitar 60 % masih belum S-1  dan yang 40 % yang sudah S-1 namun banyak yang mengajar belum sesuai faknya. Artinya guru Sarjana Agama Islam mengajar Kimia, Bahasa Indonesia, dan sebagainya. Oleh karenanya kemenag akan membuat kebijakan dari segi SDM.

Dari sarpras kami terus berbenah walaupun belum puas dengan kebijakan dari pemerintah yang selama ini, kemenag agak ada persioalan teknis ketika akan mengajukan anggaran kepada APBD, dengan alasan klasik bahwa madrasah itu dibawah kemenag.Padahal perlu diketahui bahwa madrasah itu milik swasta, milik masyarakat, yang bertujuan mendidik warga setempat, mendidik generasi pada kabupaten setempat. Masih ada pejabat yang belum memahami bahwa madrasah bertujuan dalam rangka melaksanakan amanah undang-undang yaitu mencerdaskan putra bangsa.

Kalau Madrasah negeri karena ada DIPA tidak terlalu bermasalah namun bagi swasta hanya semata mengandalkan dana BOS. Itu untuk MI dan MTS. RA belum ada bos. Madrasah Aliyah belum ada BOS. Ini beberapa persoalan yang kami hadapi.

Kemenag memberikan solusi terkait input yang berasal dari golongan ekonomi sulit dengan pemberian beasiswa prestasi dan beasiswa miskin. “Tiap kabupaten kota ada 15 anak setiap jenjang. Mereka berprestasi secara akademik maupun non akademik. Setiap siswa Rp 150 ribu setiap bulan, yang diberikan setiap satu semester yaitu Rp 900 ribu. Untuk ditingkat Madrasah Aliyah, besaran beasiswa Rp 200 ribu setiap bulan atau Rp 1.200.000,- setiap semester. Ini adalah dalam rangka keperpihakan Kemenag pada siswa miskin baik dalam bentuk beasiswa maupun prestasi.

Untuk guru, terbantu dengan adanya tunjangan fungsional, tunjangan profesi dan kualifikasi S-1 bagi mereka yang memenuhi syarat sebesar Rp 6 juta per orang setiap tahun. Khusus bagi anak-anak yang di daerah terpencil belum ada perlakuan khusus, namun bagi guru ada tunjangan khusus guru.

Guru yang ada didaerah terpencil  mendapat tunjangan satu bulan 1.350.000,- dalam setahun Rp 16 Juta. Dibayarkan dua kali dalam setahun. Tahun ini guru negeri yang berada di daerah terpencil ada yang mendapat tunjangan tambahan yang besarannya sama dengan tunjangan profesi bagi yang lolos sertifikasi. Ini adalah bentuk perhatian pemerintah kepada pengabdian guru di daerah terpencil. Hanya saja di Jawa Tengah yang memenuhi kriteria di daerah  Karimunjawa ada 33 guru yang sudah dua tahun ini menerima tunjangan dari Kemenag.

Perhatian terhadap bangunan madrasah yang rusak tahun 2012 ini, Kemenag sedang melakukan pendataan dan ferifikasi. Kebetulan tahun ini ada inpres untuk perbaikan terhadap bangunan sekolah  yang rusak, terutama rusak berat. Hasil pengarahan dari sekjen kemenag, tahun ini seluruh ruang kelas yang rusak baik sekolah atau madrasah akan diperbaiki tahun 2012 ini. Validasi dan verifikasi data ruang kelas yang rusak sudah dilakukan kemenag dan sudah dikirim ke pusat. (dr)

 

H TAUFIQURRAHMAN S.Ag., M.Si

 Gambar

“Madrasah Sebagai Sekolah Plus”

 Bisa dikatakan madrasah mengalami peningkatan signifikan, baik kualitas maupun kuantitas. Yang terpenting adalah peningkatan kualitas. Contohnya Peningkatan nilai UN semakin tinggi. Hasil try out UN yang dilaksanakan di karesidenan Pekalongan beberapa waktu lalu, menunjukan bahwa madrasah bisa lebih unggul dari sekolah. Belum lagi prestasi dari sisi keterampilan anak sudah meningkat, ujar Kasubag Hukum, Humas dan Kerukunan Umat Beragama Kanwil Kemenag Jateng, H Taufiqurrahman S.Ag.,M.Si

 Dijelaskannya, Kemenag sudah mendesain kebijakan untuk mengupgrade, sehingga madrasah semakin berkualitas.Mulai dari pemenuhan fasilitas sampai dengan peningkatan SDM pengajar. Tidak kalah pentingnya Kemenag melakukan evaluasi supaya ada peningkatan signifikan.

Madrasah bisa dikatakan sekolah plus. Dari sisi kurikulum sebetulnya tidak ada bedanya dengan sekolah. Yang berbeda adalah tambahannya,yaitu matapelajaran agama yang menjadi keunggulan madrasah. Kemudian madrasah berusaha melestarikan ilmu-ilmu keislaman agar peserta didik nantinya bisa diharapkan menjadi generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi  berbasis iman dan taqwa.

Iptek tidak bebas nilai tetapi harus berbasis nilai Imtaq. Sehingga kreatifitas anak bisa memberikan kemaslahatan bagi umat. Tidak hanya sekedar memberikan kemudahan hidup. Iptek memberi kemudahan,  ilmu agama meberikan arah, sementara seni memberikan keindahan. Maka kalau iptek tidak berbasis ilmu atau nilai agama bisa jadi hanya bisa  memberikan kemudahan pada pengunanya tetapi belum tentu  memberikan kemaslahatan. (dr)

 HM SAPARI MPDI

“Budaya Asing Rusak Karakter Bangsa”

 Gambar

28 tahun saya mengabdikan diri di dunia pendidikan, dari tahun ke tahun dunia pendidikan di Jawa tengah mengalami peningkatan. Beberapa tahun ini perbaikan sistem pendidikan kita bisa merasakannya berupa Ujian Nasional, Ujian Sekolah, dan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) menjadi salahsatu parameter keberhasilan pendidikan di Indonesia maupun di Jawa Tengah.  Banyak perbaikan dalam sistem. Terutama pada tahun ajaran 2011/2012 ini.

Era sekarang secara prinsip tidak ada perbedaan antara madrasah dengan dengan sekolah umum. Artinya bahwa madrasah dan sekolah umum sudah tidak ada lagi ketimpangan dan perbedaan. Dulu madrasah dipandang sebelah mata karena warisan pemikiran pada jaman orde baru yang menyebabkan madrasah seakan dinomor duakan. Padahal kalau kita memperhatiak dengan seksama madrasah adalah cikal bakal model pendidikan nasional sejak jaman Belanda. Kalaupun sekarang madrasah dianggap kurang maju disana-sini sudah ada perbaikan yang dilakukan pemerintah sebagai pemegang kebijakan.

Era reformasi ini dengan dibukanya keran kebebasan yang luar biasa, madrasah menjadi  primadona. Hal ini disebabkan pendidikan agama yang ditekankan oleh madrasah-madrasah. Melihat akhlak dan mentalitas remaja sekarang sangat membutuhkan pendidikan karakter yang pada dasarnya merupakan penjabaran dari nilai-nilai ajaran agama.

Bahkan banyak sekarang sekolah umum yang mengadopsi sistem pendidikan di madrasah. Terutama penekanan terhadap pendidikan agama, banyak orang tua yang memilih sekolah yang memiliki kurikulum nasional dan pendidikan agama.

Dari sinilah antara sekolah dan madrasah sudah tidak ada perbedaan atau sekat. Kalaupun ada perbedaan tentang mutu karena minimnya fasilitas dan sarana prasarana yang kurang memadai. Tetapi jika dilihat dari bibit unggulnya sebetulnya sama. Proses di madrasah yang agak terlambat.

Madrasah menjadi semacam filter untuk membendung arus budaya luar yang sedemikian deras diterima oleh generasi pelajar kita di Indonesia. Derasnya  arus budaya asing pada satu sisi sangat membahayakan akhlak dan karakter generasi muda bangsa Indonesia terutama yang masih berstatus sebagai pelajar. Jadi menurut pengamatan kami, madrasah dan sekolah umum sudah sama-sama ada plus minusnya masing-masing.(dr)

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: