Oleh: majalah merah putih | Agustus 30, 2012

Uji Kompetensi Guru Tersertifikasi Momentum untuk Selalu Belajar

Uji Kompetensi Guru Tersertifikasi

Momentum untuk Selalu Belajar

Oleh Taryadi, S.Pd

 

Kabar tentang uji kompetensi bagi guru yang sudah tersertifikasi semakin santer terdengar. Menurut Harian Kompas 15/6 diberitakan bahwa Uji kompetensi bagi guru bersertifikat wajib diikuti semua guru yang sudah mengantungi sertifikat sebagai pendidik profesional pada akhir Juli. Pelaksanaan uji kompetensi guru bersertifikat ini untuk dasar pembinaan dan penilaian kinerja, tanpa ada konsekuensinya dengan pembayaran tunjangan profesi pendidik yang sudah mereka terima. Kemendikbud berencana menggelar uji kompetensi pada 1.020.000 guru bersertifikat. Mereka adalah guru yang lulus sertifikasi dalam periode 2007-2011 lewat penilaian portofolio serta pendidikan dan pelatihan profesi guru (PLPG).

Dari sudut pandang regulasi, sudah pada tempatnya jika pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional secara berkala, melaksanakan uji kompetensi terhadap guru, baik sebagai syarat awal bagi guru yang akan disertifikasi maupun terhadap guru yang sudah tersertifikasi. Hal tersebut merupakan perintah dari UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP no.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan UU No.14/2005 tentang Guru dan Dosen.

Terlepas dari berbagai pro dan kontra perlunya pelaksanaan uji kompetensi bagi guru yang sudah tersertifikasi tersebut, tulisan ini memandang uji kompetensi sebagai momentum pengingat akan hakikat guru sebagai ujung tombak perubahan (agent of change.)  Perubahan menuju ke arah perbaikan kualitas pendidikan dan hidup mutlak memerlukan peran guru yang berkualitas.  Untuk itu, uji kompetensi mesti kita pandang sebagai tantangan bagi suatu gerakan peningkatan dan perbaikan mutu profesionalisme kita.

Menggunakan istilah Abraham Maslow tentang penggolongan motivasi, momentum ini hendaklah dapat menjadi motivasi aktualisasi-diri (self-actualization) bagi guru, dalam arti bahwa peningkatan mutu profesionalisme, seharusnya dipandang sebagai kebutuhan guru sendiri, dan bukan sebagai beban. Dari sini kita dapat mengarah kepada program yang lebih besar yaitu transformasi pendidikan karena peningkatan mutu guru diharapkan dapat meningkatkan mutu sekolah dan pada gilirannya meningkatkan mutu pendidikan.

Masyarakat sebagai lingkungan makro selalu berkembang dan berubah menjadi makin maju. Di dalam sejarah manusia, perubahan itu hanya dapat dicapai melalui pendidikan. Nah, di situlah peran guru itu tidak dapat diabaikan: gurulah yang mengarahkan subjek didik atau peserta didiknya, juga masyarakat, untuk mencapai sesuatu yang juga diperintahkan oleh masyarakat itu sendiri. Pertanyaannya ialah bagaimana guru dapat menjadi agen pembaruan manakala guru sendiri sulit berubah atau tidak mau mengubah dirinya?

Berbagai Harapan

Sekian banyak harapan dari masyarakat ditujukan pada guru. Tetapi yang tidak kalah penting ialah harapan, atau tuntutan dari profesi guru itu sendiri, karena tiap profesi pasti mempunyai sejumlah tuntutan yang khas, yang menjadi karakteristik, dari profesi itu.

Konon ketika Amerika Serikat tertinggal dari Uni Soviet, karena di sekitar tahun 1960 Uni Soviet telah mencapai bulan lebih dulu, Presiden J.F.Kennedy bertanya, “What’s happened in our class?”. Pertanyaan ini, mengandung konotasi bahwa presiden tahu betul apa yang terjadi di dalam kelas merupakan gambaran dunia pendidikan di negeri itu. Kemudian,  secara pragmatik, pertanyaan itu tidak bermaksud untuk bertanya melainkan “menyatakan” (atau menuduh) rendahnya mutu proses pengajaran dan pemelajaran di kelas. Maka, reaksi pakar pendidikan di sana ialah bahwa perbaikan pendidikan harus dimulai dari dalam kelas dan kelas itu pastilah menjadi tanggung jawab guru.

Mengapa harus mulai dari kelas? Menurut Tukiman Taruna (2002), ada empat alasan. (1) Mengenal dan menata kelas dengan baik akan mengajarkan guru dan murid mengenali batas-batas dirinya; (2) di kelas guru perlu mengembangkan kerendahan hati; (3) Guru perlu mempunyai beberapa indikasi tentang bagaimana siswa memahami realitas mereka yang memang berbeda dibanding realitas guru; (4) guru dan murid perlu berkembang kecakapannya, dan kunci  pengembangan itu ada di kelas.

Taruna hendak mengatakan bahwa di kelas guru itu tidak cukup hanya mengajar, melainkan harus mendidik murid dan dirinya sendiri; yang belajar bukan hanya murid melainkan juga guru. Ujaran pembuka pelajaran seperti “Anak-anak, Bapak/Ibu akan menjelaskan/menerangkan ….” tampak menunjukkan dominasi, kekuasaan, dan kurangnya kerendahan hati guru ketimbang ujaran seperti, “Anak-anak, marilah kita belajar tentang …” (Sumarsono,2005).

Harapan berikutnya ialah tentang perlunya guru terus belajar.  Buku terbitan UNESCO, Lifelong Education dan Learning to Be, yang masing-masing terbit tahun 1970-an dan 1080-an, pastilah berlaku bagi guru juga.

Kendala Perubahan pada Guru

Dunia pendidikan di Indonesia ini ibarat kapal besar dengan muatan penuh. Jika pendidikan itu harus “dibelokkan” ke arah dunia baru reformasi terasa amat sulit, banyak sekali kendalanya. Dari dunia luar pendidikan, kendala itu tampak pada adanya intervensi politik, langsung atau tidak langsung. Namun, dari insan pendidikan sendiri tampak pada diri dan tubuh guru.

Paul Suparno (2002) mengidentifikasi beberapa penyebab mengapa guru sulit berubah. Salah satu adalah faktor yang sangat umum dan berlaku pada banyak profesi, yaitu guru telah bertahun-tahun terbiasa dengan cara mereka yang mapan dan sudah merasa enak. Ungkapannya barang kali ialah: “Kalau dengan begini saja sudah enak, ngapain berubah?”. Yang lain ialah moral guru sebagai tukang yang pasif dan serba menunggu petunjuk. Guru yang begini mesti tidak mempunyai prakarsa untuk berubah, sebagian karena takut menghadapi risiko. Pendidikan guru yang serba statis dan tidak melatih adanya perubahan dan sikap tanggap terhadap perubahan juga dituding Suparno sebagai faktor penyebab. Banyak pula guru yang memahami tugas guru sebagai konservatif. Artinya, tugas guru dipahami sebagai orang yang harus “memberikan’ atau “menyampaikan” nilai-nilai tradisi masyarakat kepada muridnya; mereka itu tidak merasa perlu untuk mengubah tradisi.                              

        Lalu, dari mana kita harus memulai? Pasti dari diri guru sendiri. Gurulah yang harus “membongkar” dirinya, diperiksa apa yang kurang dan apa yang dibutuhkan, lalu dengan niat baja memulai mengubah diri, dari hari ini,  “Menjadi manusia pembelajar”. Learning to be.(Guru IPS Ekonomi SMP Nasima)

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: